Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 80.


“Kak, Mama dan Papaku bingung, kenapa mendadak begini? Mereka malah bertanya tanya apa aku sudah hamil..” ucap Alamanda yang sudah selesai berbicara dengan orang tua nya lewat hand phone miliknya.


“Pasti nanti tetangga juga mengira aku sudah hamil....” gumam Alamanda yang ekspresi wajahnya tampak khawatir dengan gosip yang bakal beredar di kampungnya.


“Biar saja mereka bilang apa. Nanti kamu jelaskan pada orang tuamu secara langsung agar tidak salah paham. Mama Hanson juga marah marah tadi di telepon .” Ucap Marcel sambil meraih tubuh mungil Charlotte lalu digendongnya.


Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai berkemas kemas dan mereka pergi meninggalkan kamar apartemen untuk menuju ke tempat mobil terparkir. Marcel, Charlotte dan Sang pengasuh masuk ke dalam mobil Marcel. Sedangkan Tuan Nyonya Ernest dan Alamanda masuk ke dalam mobil Bang Bule Vincent.


“Dadahhh Mama.. sampai jumpa nanti.” Teriak Charlotte dari dalam mobil dia yang duduk di jok depan melambai lambaikan tangannya, kaca jendela mobil dibukanya.


Alamanda dan Nyonya Ernest yang duduk di jok belakang kemudi mobil Bang Bule Vincent pun membuka jendela kaca mobil dan melambai lambaikan tangannya pada Charlotte sambil tersenyum.


“Kasihan anak itu..” gumam Nyonya Ernest yang sudah diberi tahu tentang penyakit Charlotte oleh Tuan Ernest dan pengasuh Charlotte.


Dua mobil itu melaju meninggalkan halaman apartemen. Mobil Marcel berada di depan. Kaca jendela mobil sudah tertutup dengan rapat. Charlotte terus menoleh ke belakang untuk melihat mobil Bang Bule Vincent yang membawa Alamanda.


Sementara itu Tuan Sam yang masih menunggu dan mengawasi di cafe yang tidak jauh dari lokasi apartemen, sesaat Tuan Sam melihat mobil Marcel yang melintas.


“Hmmm itu mobil sudah keluar dari apartemen. Coba aku ikuti lagi.” Gumam Tuan Sam dalam hati lalu dia segera bangkit berdiri dan berlari menuju ke tempat mobilnya yang terparkir.


Sesaat Tuan Sam tidak mengenal mobil milik Bang Bule Vincent yang berjalan di belakang mobil milik Marcel. Tuan Sam segera menjalankan mobilnya, tancap gas untuk mengejar mobil Marcel yang sudah berjarak agak jauh dan terhalang oleh beberapa mobil termasuk salah satunya mobil milik Bang Bule Vincent.


Mobil Tuan Sam terus melaju dengan kecepatan penuh dia menyalip beberapa mobil di depannya hingga kini ada dua mobil yang menghalangi mobil Marcel. Tuan Sam pun menyalip lagi satu mobil di depannya dan kini tepat di depannya adalah mobil milik Bang Bule Vincent.


Di saat mobil Marcel sudah mendekati sebuah persimpangan jalan, Tuan Sam mengernyitkan dahinya saat di balik kaca hitam mobil di depannya itu, samar samar terlihat penumpang di dalamnya melambai lambaikan tangan pada mobil milik Marcel.


Tuan Sam yang penasaran terus saja mengamati apalagi samar samar di balik kaca hitam mobil itu terlihat nursing cap alias topi perawat dan tiba tiba...


“Ha... ha... Itu mereka yang aku cari...” ucap Tuan Sam dengan penuh excited saat mengetahui mobil yang di belakang mobil Marcel adalah mobil yang ditumpangi oleh Alamanda dan Nyonya Ernest.


Mobil yang dikemudikan oleh Marcel berpisah jalur karena akan menuju ke Mansion Hanson. Dan Tuan Sam pun berubah pikiran tidak lagi membuntuti mobil Marcel akan tetapi kini membuntuti mobil Bang Bule Vincent yang menuju ke lokasi rumah Alamanda.


Sementara itu di Mansion Hanson. Nyonya Hanson yang baru saja dikabari oleh Marcel jika akan menikahi Alamanda sore ini, ngomel ngomel seorang diri di ruang keluarga.


“Pasti perawat itu yang sudah gatal ingin cepat cepat sah menjadi istri Marcel. Perempuan mana sih yang tidak ingin segera dinikahi oleh Marcel.. Tampan, ganteng, kaya...” ucap Nyonya Hanson yang duduk di sofa sambil memijit mijit kepalanya. Tiba tiba saja kepalanya terasa pusing.


“Nyonya.. kenapa?” teriak seorang pelayan yang kebetulan sedang lewat dan melihat Nyonya Hanson memijit mijit kepala.


“Ambilkan obat penurun tensiku di kamar!” perintah Nyonya Hanson pada pelayan itu. Pelayan itu pun segera berlari ke kamar Nyonya Hanson.


Sedangkan di lain tempat di rumah Alamanda. Bapak dan Ibu Irawan, orang tua Alamanda juga kebingungan.


“Pa, ini bagaimana? Aku harus mengerjakan apa? Aku bingung Pa?” tanya Ibu Irawan pada suaminya sambil memegang kedua bahu suaminya dan digoyang goyang dengan keras, sebab sang suami malah duduk di kursi dengan bengong setelah ditelepon oleh Alamanda kalau sore nanti akan menikah dengan Tuan Marcel di rumah, padahal sekarang ini sudah hampir jam satu siang.


“Aku juga bingung Ma, apalagi kita akan besanan dengan orang sangat kaya. Rumah masih berantakan begini. Terus kita mau menjamu pakai apa coba? Belum kalau mereka membawa keluarga dan tamu tamu orang orang kaya.. pusing.. pusing aku Ma..” ucap Pak Irawan yang masih duduk di kursi dengan tubuh lemas.


“Aku juga mau pakai baju apa Pa? Baju kebaya yang dulu aku pakai untuk acara lamaran yang gagal itu saja ya... waduh tapi belum disetrika..” ucap Ibu Irawan yang masih berdiri di depan suaminya.


“Pak Er Te pasti nanti akan marah marah kita menikahkan Alamanda secara mendadak begini..” ucap Pak Irawan lagi.


“Apa mereka ditangkap hansip ya Pa?” tanya Ibu Irawan yang tadi menduga Alamanda sudah hamil lalu menikah secara mendadak.


“Mana ada Ma hansip masuk Mansion. Perkiraanku Alamanda sudah hamil lalu dia minta dinikahi cepat cepat.” Ucap Pak Irawan sambil memijit mijit pelipisnya.


“Sudah aku ke rumah Pak Er Te dulu, semoga orangnya tidak pergi. Mama minta tolong tetangga untuk bersih bersih rumah dan masak masak apa gitu.. “ ucap Pak Irwan lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu rumah.


“Pa, jangan lupa kabari Kakek dan nenek Oji, marah nanti mereka kalau tidak dikabari cucu kesayangannya menikah.” Teriak Ibu Irawan yang berjalan menuju ke warung untuk menutup warungnya dan akan segera ke rumah tetangga untuk minta tolong menyiapkan rumahnya untuk acara pernikahan Alamanda.


“Hah.. masak apa? Belanja di mana jam segini? kios kios daging ayam dan daging sapi sudah tutup semua.” Gumam Ibu Irwan yang juga pusing.


“Tuan Marcel sih sudah menyuruh tidak usah masak apa apa tapi apa iya, mau menikahkan anak, mau kedatangan tamu super penting kita tidak masak masak.” Gumam Ibu Irawan lagi sambil terus melanjutkan menutup warungnya.


Sedangkan di jalan raya mobil yang dikemudikan oleh Tuan Sam masih membuntuti mobil Bang Bule Vincent.


“Hmm apa aku harus membuat mobil itu mengalami kecelakaan.” Gumam Tuan Sam dalam hati sambil berpikir keras.