
“Bagaimana Dok?” tanya Marcel saat Dokter Willy sudah memeriksa tubuh Nyonya Hanson.
“Tekanan darah tinggi dan kadar gula darah sangat rendah.” Ucap Dokter Willy yang sudah melakukan tindakan awal pada Nyonya Hanson. Perawat tampak sudah memasang infus pada tubuh Nyonya Hanson.
“Dok apa jatuhnya Mama tadi akan membahayakan?” Tanya Marcel dengan nada khawatir jika Sang Mama terkena stroke.
“Kita berusaha melakukan sebaik mungkin semoga Nyonya Hanson baik baik saja. Sementara kami bawa Nyonya Hanson ke ruang ICU jika nanti sudah sadar kami pindah ke ruang perawatan.” Ucap Dokter Willy pada Marcel.
Nyonya Hanson yang masih tidak sadar di atas brankar dengan alat infus yang sudah terpasang pada tubuhnya itu lalu di bawa oleh para medis menuju ke ruang ICU. Dokter Willy pun ikut berjalan menuju ke ruang ICU sekilas dia menepuk nepuk pundak Marcel untuk memberi kekuatan. Marcel pun ikut berjalan menuju ke ruang ICU dan selanjutnya dia menunggu di ruang ICU itu, Marcel pun mengenakan baju khusus untuk penunggu yang disediakan oleh rumah sakit.
Dengan lesu Marcel duduk di kursi tunggu di ruang ICU itu. Ekspresi wajahnya tampak panik dan sedih. Wajah tampannya benar benar tampak kusut.
Sesaat hand phone yang ada di saku jas yang dia kenakan berdering lagi. Tangan Marcel segera mengambil hand phone miliknya yang berdering itu. Tampak di layar hand phone miliknya tertera nama Ners Alamanda sedang menghubunginya lewat panggilan suara. Terasa hati Marcel sedikit adem bagai ada air segar mengalir pada tanah yang gersang. Marcel pun segera menggeser tombol hijau.
“Tuan, maaf tadi hand phone saya matikan sebab saat kerja tidak boleh hand phone aktif ini saya sedang istirahat. Ada perlu apa tadi Tuan menghubungi saya.” Suara Alamanda dengan santun di balik hand phone milik Marcel.
“Ners.. tadi aku akan sampaikan kabar jika pelaku sudah ditangkap, dan aku akan segera mengatakan pada Mama tentang Millie dan Mama pun sudah membatalkan perjodohan itu tapi sekarang Mama masuk ruang ICU.” Ucap Marcel mengatakan apa adanya, nada suara sedih Marcel bisa didengar dengan jelas oleh Alamanda.
“Tuan saya ikut sedih karena Nyonya Hanson masuk rumah sakit, semoga Nyonya Hanson segera sehat kembali.” Ungkapan dan doa tulus Alamanda. Setelah Marcel mengucapkan terima kasih keduanya hanya diam saja beberapa saat, dan selanjutnya Alamanda izin untuk mengakhiri sambungan teleponnya.
“Hmmm iya iya...” ucap Marcel dan sambungan pun sudah putus, sebenarnya Marcel ingin bercakap cakap lebih lama akan tetapi entahlah tidak ada kata kata yang bisa keluar.
Sementara itu Alamanda yang berada di dalam kamarnya terlihat bingung, dia sebenarnya ingin melihat keadaan Nyonya Hanson dan juga menemani Marcel atau Charlotte akan tetapi dia sudah terikat pada kontrak kerja.
“Tidak mungkin Nyonya Ernest memberi izin pada aku apalagi baru satu hari kerja.” Gumam Alamanda dalam hati. Alamanda pun segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena setelahnya dia akan melanjutkan tugasnya untuk membersihkan tubuh Nyonya Ernest.
Sedangkan di kamar sebelah kamar Alamanda yang tidak lain adalah kamar yang ditempati oleh Nyonya Ernest. Setelah Alamanda tadi membantu Nyonya Ernest berbaring di atas tempat tidurnya. Nyonya Ernest hanya memejamkan matanya, akan tetapi dia tidak bisa tidur. Sosok dan wajah Alamanda terus saja berada di pelupuk matanya karena mengingatkan dia pada seseorang yang sangat dia cintai.
“Saat melihat fotonya aku sudah melihat dia ada kemiripan dengan Debora dan setelah melihat orang aslinya tidak hanya wajahnya yang mirip, postur tubuh dan cara dia jalan pun sangat mirip dengan Debora. Cuma perawat itu wajahnya tampak alami tanpa polesan hmmm macam aku lihat jika Debora sedang tidak memakai riasan wajah.” Gumam Nyonya Ernest lagi sambil mengingat ingat wajah menantunya puluhan tahun silam.
Di saat Nyonya Ernest masih mengingat ingat masa lalu, tiba tiba pintu kamarnya terbuka. Dan muncul sosok Sang pelayan sambil membawa tumpukan baju baju yang sudah disetrika. Nyonya Ernest membuka matanya dan menoleh ke arah orang yang baru masuk ke dalam kamarnya. Dan di saat yang bersamaan sang pelayan juga menoleh ke arah sosok Nyonya Ernest yang sedang terbaring di tempat tidur.
“Nyonya sudah bangun?” tanya sang pelayan sambil berjalan menuju ke arah lemari baju.
“Tidak bisa tidur Bu, sudah memejamkan mata tetap saja tidak bisa tidur aku malah teringat sama Debora. Padahal aku sudah melarang semua foto Archie dan Debora dipasang agar aku tidak teringat pada mereka.” Ucap Nyonya Ernest dengan nada serius sambil menatap Sang pelayan lalu Nyonya Ernest menggeser tubuhnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.
Sang pelayan tampak menoleh ke arah Nyonya Ernest dan dia mengangguk anggukkan kepalanya karena paham kenapa Nyonya Ernest teringat pada Debora, pasti sama seperti apa yang dia pikirkan. Setelah menaruh baju baju itu ke dalam lemari sang pelayan paruh baya itu berjalan mendekati Nyonya Ernest.
“Maaf Nyonya, jika saya ada salah dan ucapan saya menyinggung keluarga Ernest mohon saya dimaafkan yang sebesar besarnya.” Ucap pelayan paruh baya itu sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.
“Apa Bu, apa bayaran kamu kurang minta kenaikan gaji?” tanya Nyonya Ernest sambil menatap wajah Sang pelayan dengan tajam.
“Bukan Nyah gaji saya sudah lebih dari cukup. Gini, apa Nyonya teringat Nona Debora karena hadirnya perawat itu?” tanya Ibu pelayan dengan takut takut.
“Benar apa kamu juga melihat jika perawat itu sangat mirip dengan Debora?” jawab Nyonya Ernest balik bertanya. Sang pelayan pun menganggukkan kepalanya.
“Apa dia kerabat keluarga Debora. Coba nanti aku tanya perawat itu siapa orang tuanya dan asalnya. Aku cross cek pada orang tua Debora juga.” Ucap Nyonya Ernest selanjutnya yang penasaran siapa sebenarnya Alamanda.
“Iya Nyah kalau perlu panggil orang tua Ners Alamanda ke sini, siapa tahu memang kerabatnya Nona Debora.” Ucap sang pelayan paruh baya itu penuh semangat. Sebab dia berharap jika perawat itu benar benar masih kerabat Debora, kehadiran perawat itu bisa mengobati kesedihan Sang Nyonya Ernest.
“Iya tetapi harus tanya keluarga Debora takutnya orang tua perawat itu malah memanfaatkan keadaan dengan cara mengaku aku. Kan banyak orang mengaku aku saudara pada orang kaya. Tetapi jika memiliki saudara miskin tidak mengakuinya... Hah aku kok jadi bingung bagaimana jika orang tua Debora tidak mengakui kalau keluarga perawat itu saudaranya, kalau aku lihat di data perawat itu tempat tinggalnya di pemukiman pinggiran.” Ucap Nyonya Ernest yang ekspresi wajahnya tampak bingung.
Di saat mereka berdua masih bingung tiba tiba pintu terbuka....