Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 94.


“Hmmm mereka keenakan tidur di hotel sampai kesiangan bangun melebihi pengantin baru. Bikin malu saja pada keluarga Hanson. Sudah Nyonya Hanson tidak suka pada kita ditambah lagi dua orang itu bangun siang.” Gumam Nenek Oji dan benar saat Nenek Oji menoleh ke arah Nyonya Hanson tampak ekspresi wajah Nyonya Hanson tersenyum miring tanda tidak suka dan menghina.


Nenek Oji pun segera melangkah mendekati dua sosok yang baru masuk ke dalam ruang makan khusus itu, sedangkan Tuan Ernest dan Marcel sudah melangkah mendekati istri mereka masing masing.


“Hei, kalian itu ya yang lain sudah selesai makan. Kalian baru bangun tidur. Pengantin nya saja sudah bangun dan makan pagi.” Ucap Nenek Oji pada dua sosok yang baru saja datang itu yang tidak lain adalah Bapak dan Ibu Irawan.


“Maaf Nek, ini gara gara salah minum jamu.” Ucap Ibu Irawan yang masih dituntun oleh Sang suami.


“Salah Minum jamu bagaimana?” tanya Nenek Oji dengan wajah khawatir.


“Jamu buat Tuan Marcel diminum Papanya Alamanda. “ ucap Ibu Irawan dengan suara pelan.


“Alamaaaakkkk....” ucap Nenek Oji sambil menepuk jidat nya sendiri.


“Makanya Tuan Marcel bingung saat kutanya. Hmmm bisa bisa Iqbal punya adik itu nanti..” gumam Nenek Oji lalu dia berjalan ke meja makan untuk melanjutkan menghabiskan sarapan paginya yang belum selesai.


“Pa benar kan Pa, pasti yang Papa minum jamu kuat subur laki laki...” bisik Ibu Irawan agar tidak didengar yang lainnya. Bapak Irawan pun mengeratkan pegangan tangannya sebagai kode agar sang istri tidak gelisah memikirkan suatu hal yang belum terjadi.


Waktu pun terus berlalu dan di sebuah rumah sakit umum daerah, Eveline sudah masuk ke dalam suatu ruang administrasi bagian data data karyawan. Eveline yang memiliki kartu identitas keanggotaan organisasi Bang Bule Vincent yang resmi dan diakui oleh Negara itu, bisa mengakses data data yang dibutuhkan di rumah sakit itu.


“Ini Nona, perawat kami yang memiliki nama Rita dan berusia sekitar enam puluh hingga tujuh puluh tahun saat ini. Mereka semua sudah pensiun.” Ucap petugas administrasi karyawan rumah sakit itu sambil menunjukkan data data yang didapat.


“Terima kasih.” Ucap Eveline sambil menerima data data yang diminta. Dia mendapatkan data empat orang yang memiliki nama Rita yang saat ini berusia sekitar enam puluh hingga tujuh puluh tahun.


“Sudah pensiun lama dari rumah sakit ini ya?” tanya Eveline sambil membaca banda data empat orang itu.


“Iya Nona, usia lima puluh lima tahun mereka sudah pensiun. Itu alamat rumah dan nomor telepon terakhir kali yang kami dapat. Semoga saja masih sama saat ini.” Ucap karyawan rumah sakit itu.


“Hmmm sekalian saja aku mencari data tentang pasien Archie dan Debora yang ditangani di sini dua puluh dua tahun silam.” Gumam Eveline yang sudah diberi tahu oleh Bang Bule Vincent tentang semua tugas tugasnya.


Eveline pun segera melangkah menuju ke bagian administrasi data data pasien. Dan saat Eveline meminta data pasien yang sudah puluhan tahun silam itu. Karyawan rumah sakit yang bertugas mengerutkan keningnya.


“Apa Nona tidak salah sebut?” tanya karyawan itu.


“Tidak.” Jawab Eveline dengan mantap.


“Saya ingin mendapat data data pasien Archie Ernestan dan Debora isteri nya juga bayi yang dilahirkan oleh Debora. Saya sudah mendapat surat tugas resmi.” Ucap Eveline selanjutnya sambil menunjukkan kartu identitasnya.


“Maaf Nona, yang ada di file saya data data pasien yang sedang ditangani di rumah sakit ini. Silahkan Nona ke lantai lima. Biar petugas kami mengantar Nona ke ruang data data yang lama.” Ucap petugas rumah sakit itu.


Eveline pun lalu melangkah keluar dari ruangan itu dan diantar oleh seorang satpam rumah sakit untuk menuju ke lantai lima ke ruang tempat menyimpan file file data data pasien lama.


Saat Eveline berada di depan pintu ruang itu tiba tiba terdengar dering hand phone dari dalam tas ransel kecil yang ada di punggungnya. Eveline pun segera mengambil hand phone miliknya yang masih berdering.


“Tuan Ernestan.” Gumam Eveline saat melihat di layar hand phone miliknya tertera nama kontak Tuan Ernestan. Eveline pun segera menggeser tombol hijau.


“Nona, apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang suster Rita. Di mana dia sekarang. Segera temui dia dan ajak untuk menghadap kepada aku dan istriku. Dan kamu segera ke Mansion Ernestan. Pelayan senior ku menghubungi aku, Sam tadi malam mencoba masuk ke dalam kamarku.” Suara Tuan Ernestan di balik hand phone milik Eveline.


“Tuan, saya mendapatkan empat orang perawat ada nama Rita yang dimungkinkan saat dua puluh dua tahun silam berumur empat puluh tahunan. Foto yang ada di data foto saat mereka mulai masuk bekerja di rumah sakit dan foto saat mereka pensiun.” Ucap Eveline yang masih berdiri di depan pintu.


“Kamu kirim ke empat data orang itu ke hand phone ku. Biar Nenek Oji memilih mana yang dia kenal itu.” Suara Tuan Ernest selanjutnya dan sambungan panggilan suara itu pun terputus sebab Tuan Ernest sudah memutusnya.