
“Kamu masih di sini?” tanya Tuan Ernest saat melihat Alamanda berada di dalam kamar nya bersama Nyonya Ernestan. Tuan Ernest mengira Alamanda sudah berada di dalam kamar Alamanda dan baru saja ditanyai oleh Tuan Sam.
“Iya Tuan.” Jawab Alamanda yang sedang memijit mijit kaki Nyonya Ernest. Sedangkan Tuan Ernest terus berjalan menuju ke sofa, dan mendudukkan pantatnya di sana.
“Ya sudah kamu istirahat sekarang. Terima kasih sudah cerita cerita tentang keluargamu.” Ucap Nyonya Ernest, yang tadi sambil dipijat pijat kakinya dia mengulik tentang keluarga Alamanda. Alamanda pun segera bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan kamar Tuan dan Nyonya Ernest.
“Pa, aku sudah tanya tanya pada perawat itu katanya tidak kenal dengan keluarga Debora.” Ucap Nyonya Ernest saat Alamanda sudah keluar dari pintu kamar. Tuan Ernest pun bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat tidur di mana istrinya terbaring di sana. Dia penasaran apa saja yang sudah Alamanda ceritakan tentang keluarganya pada sang isteri.
Sementara Alamanda yang sudah berada di depan pintu kamarnya dan akan membuka kunci pintu dia tampak kaget. Saat melihat ada anak kunci menempel di induk kunci pintu.
“Ini kunci aku pegang. Kenapa ada juga kunci yang nempel di pintu.” Gumam Alamanda dalam hati. Dia lalu mencoba membuka pintu dengan anak kunci yang tertempel di pintu itu, dan sukses pintu bisa terbuka.
“Hmmm ini kunci duplikat, siapa yang akan masuk ke dalam kamarku? Apa ibu pelayan itu?” gumam Alamanda dalam hati sambil melangkah masuk dan mengunci lagi pintu kamarnya sambil membawa dua anak kunci.
Sementara itu Tuan Sam, yang ingat anak kunci tertinggal karena dia tergesa gesa pergi sebab ada Tuan Ernestan. Terlihat bingung dan panik.
“Sial kunci malah masih tertinggal.” Gumam Tuan Sam dalam hati.
“Aku ke sana lagi saja, moga moga kunci itu masih ada, dan perempuan itu masih ada di kamar Tuan dan Nyonya Ernest.” Ucap Tuan Sam dalam hati lalu dia membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah menuju ke kamar Alamanda.
“Dan aku bisa memasukkan ini ha.... ha.... “ ucap Tuan Sam dalam hati sambil meraba barang yang dia taruh di saku jas nya yang belum sempat dia masukkan ke dalam kamar Alamanda sebab keburu Tuan Ernestan datang. Tuan Sam pun mempercepat langkahnya menuju ke kamar Alamanda.
Saat sampai di dekat kamar Alamanda pantangan matanya langsung pada handel pintu kamar itu.
“Sial kunci sudah tidak ada. Siapa yang sudah mengambil apa perempuan itu sudah masuk ke dalam kamar. Gagal aku hari ini. Coba besok lagi. Masih ada satu kunci duplikat yang di bawa oleh Ibu pelayan.” Gumam Tuan Sam sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
Sedangkan di tempat lain. Nyonya Wijaya sudah berada di dalam Mansion Hanson. Dia menginjakkan kaki terakhir kali saat meninggalnya Patricia. Itu pun dia juga sudah lama tidak menginjakkan kaki di Mansion Hanson. Saat meninggalnya Patricia dia terpaksa datang untuk melihat jasad Puteri nya yang terakhir kali.
Saat memasuki ruang tamu, tiba tiba air mata Nyonya Wijaya meleleh dia teringat akan jenasah mendiang Patricia yang berada di ruangan itu.
“Semoga kamu bahagia di surga Nak. Aku akan menjaga anakmu.” Gumam Nyonya Wijaya dan terus melangkah menuju ke kamar Charlotte.
“Aku akan kembali meminta hak asuh Charlotte. Karena menurut informasi aku sebagai ibu kandung Patricia aku berhak akan hak asuh Charlotte.” Gumam Nyonya Wijaya sambil terus melangkah menuju ke kamar Charlotte.
“Oma Mama.....” teriak Charlotte sambil membuka pintu kamarnya karena dia sudah tahu Nyonya Wijaya datang. Nyonya Wijaya pun segera meraih tubuh mungil Charlotte dan menggendong nya lalu menciumi wajah cucu nya itu dengan penuh kerinduan.
“Sayang, ayo kita ke Mansion Wijaya.. Oma tidak tega kamu sendirian di sini Sayang.. Papa Marcel masih menunggu Oma Papa di rumah sakit.” Ucap Nyonya Wijaya sambil mengusap usap rambut kepala Charlotte dengan penuh kasih lalu dia benamkan wajah cantik Charlotte pada dadanya dengan penuh sayang. Nyonya Wijaya pun teringat lagi akan mendiang Patricia. Air mata Nyonya Wijaya meleleh lagi.
“Ayo Oma, aku juga sudah kangen dengan Opa Mama.” Ucap Charlotte sambil mendongak dan menghapus air mata Nyonya Wijaya yang terus meleleh.
“Kita siapkan baju baju kamu dulu Sayang, dan biar Nanny juga ikut ke Mansion Wijaya.” Ucap Nyonya Wijaya lalu melangkah masuk ke dalam kamar Charlotte. Nyonya Wijaya pun memerintahkan pada Sang pengasuh Charlotte agar menyiapkan pakaian dan segala keperluan pribadi Charlotte dan sang pengasuh itu.
Charlotte terlihat senang dan bahagia karena dia memang sangat merindukan pada Nyonya dan Tuan Wijaya juga Valecia, sang Tante adik kandung Patricia.
“Tante Valecia kenapa tidak ikut ke sini Oma Mama...” ucap Charlotte yang kini sudah duduk di pangkuan Nyonya Wijaya.
“Tante belum mau bertemu dengan Oma Papa. Aku pun kalau tidak karena keinginan kamu aku juga masih malas bertemu dengan dirinya. Tetapi ini adalah kesempatan aku untuk bisa bertemu kamu dan mengajak kamu ke Mansion Wijaya.” Ucap Nyonya Wijaya sambil mencium puncak kepala Charlotte.
Beberapa menit kemudian sang pengasuh sudah selesai mengemas barang barang kebutuhan mereka. Dan mereka pun segera melangkah meninggalkan kamar Charlotte. Mereka terus menuruni anak tangga untuk menuju ke pintu utama Mansion.
Saat mereka keluar dari pintu utama Mansion tampak Henry dengan langkah tegapnya berjalan mendekati mereka.
“Maaf Nyonya, Nona Charlotte tidak boleh keluar dari Mansion.” Ucap Henry dengan santun. Nyonya Wijaya pun kaget mendengar ucapan Henry itu.