Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 54.


“Tidak bisa. Sekarang juga harus tidur. Mana tablet kamu itu. Oma sita mulai malam ini. Ini karena kamu terlalu dimanja oleh Papa mu, dibiarkan bermain game sampai larut sejak kecil. Yang penting kamu diam.” Ucap Nyonya Wijaya sambil berusaha merebut tablet milik Charlotte.


“Oma aku tidak main game aku sedang ada urusan penting.” Teriak Charlotte sambil melindungi tablet nya dipeluk tablet itu sangat erat agar Sang Oma tidak bisa merebut tablet kesayangannya apa lagi sedang proses mengambil data yang hampir selesai.


“Charlotte sayang apa yang penting buat kamu selain istirahat agar besok bisa bangun pagi dan berangkat ke sekolah dari sini.” Ucap Nyonya Wijaya sedikit melunak. Dia tidak ingin Charlotte membenci dirinya sehingga tidak mau tinggal di Mansion Wijaya.


“Okey Oma, please dua menit lagi...” ucap Charlotte yang masih mendekap tabletnya.


“Okey dua menit lagi dari sekarang.” Ucap Nyonya Wijaya sambil menatap jam dinding. Dia masih berdiri di samping tempat tidur Charlotte untuk menunggu benar benar setelah dua menit Charlotte istirahat dan benar benar tidur.


Dan setelah dua menit kemudian....


“Charlotte sudah dua menit matikan tablet dan tidur.” Ucap Nyonya Wijaya selanjutnya. Charlotte pun mau tak mau mematikan tabletnya padahal dia sudah sangat ingin untuk membaca data data nomor hand phone milik orang orang suruhan Tuan Ernest.


“Sudah Oma. Please jangan sita tabletku, silahkan Oma ke luar dari kamarku dulu baru aku akan tidur.” Ucap Charlotte sambil menatap Nyonya Wijaya tangan mungilnya masih memegang tablet miliknya.


“Hmmm pinter juga kamu, Oma akan cek lagi nanti kalau kamu belum tidur akan langsung Oma sita...” ucap Nyonya Wijaya lalu mencium kening dan pipi Charlotte. Nyonya Wijaya pun segera melangkah meninggalkan kamar Charlotte.


“Hmmm cara didik Marcel yang begitu membiarkan Charlotte bermain tablet hingga larut malam bisa untuk alasan aku untuk meminta hak asuh Charlotte... Cara didik yang tidak baik buat anak anak.” gumam Nyonya Wijaya dalam hati sambil terus melangkah meninggalkan kamar Charlotte.


Sedang di lain tempat mobil yang ditumpangi oleh Marcel sudah memasuki halaman Mansion Hanson. Mobil berhenti di depan pintu utama Mansion. Marcel yang hatinya sedang berbunga bunga karena bisa mencium pipi Alamanda langsung turun dari mobil dan melangkah masuk menuju ke dalam Mansion.


“Aku hubungi Bang Bule Vincent besok saja.” Gumam Marcel dalam hati yang akan melangkah menaiki anak tangga. Akan tetapi dia mengurungkan niatnya. Marcel lalu melangkah menuju ke kamar Sang Mama.


Marcel membuka pintu pelan pelan tampak di dalam kamar itu Sang perawat masih duduk di samping tempat tidur Nyonya Hanson.


Marcel berjalan pelan pelan.


“Cel, kamu baru pulang?” tanya Nyonya Hanson yang belum bisa tidur.


“Mama kok belum tidur..” ucap Marcel sambil terus melangkah menuju ke tempat tidur Nyonya Hanson, lalu dia duduk di tepi tempat tidur Nyonya Hanson.


“Tidak bisa tidur, kamu katanya pergi hanya sebentar tetapi ternyata sangat lama.” Ucap Nyonya Hanson sambil menatap wajah Marcel.


“Kamu kok sepertinya bahagia sekali kamu dari mana?” Tanya Nyonya Hanson selanjutnya saat mengamati wajah Marcel yang terus tersenyum terlihat sangat bahagia. Wajah Marcel yang seperti itu sudah lama sekali tidak dilihat oleh Nyonya Hanson.


“Kamu habis dari mana Cel, awas ya jangan pergi ke club malam.” Ucap Nyonya Hanson yang khawatir Marcel mencari hiburan sesaat.


“Tapi pasti ada yang kamu sembunyikan dari Mama. Kalau hanya urusan kerja tidak akan kamu sebahagia ini.” Ucap Nyonya Hanson yang masih mengamati wajah Marcel.


“Iya Ma, Alamanda kan bekerja di sana.” Ucap Marcel sambil tersenyum.


“Hmmm anakku benar benar sudah jatuh cinta pada perawat itu. Wajah Marcel sekarang persis seperti saat dia jatuh cinta pada Patricia.” Gumam Nyonya Hanson dalam hati.


“Ma...” ucap Marcel kemudian.


“Hmmmm.” Gumam Nyonya Hanson.


“Aku besok siang akan menjemput Charlotte. Aku takut jika Mama Wijaya benar benar mengambil hak asuh Charlotte.” Ucap Marcel dengan pelan ekspresi wajah Marcel mendadak berubah saat mengingat hak asuh anaknya.


“Iya Cel, cepat ambil Charlotte. Maaf kan Mama, maaf kesalahan Mama yang dulu. Dan semoga Nyonya Wijaya benar benar mau memaafkan aku tanpa meminta ganti hak asuh Charlotte. “ ucap Nyonya Hanson dengan nada penuh penyesalan.


“Iya Ma, yang penting Mama cepat sehat. Dan tolong lamar Alamanda secepatnya. Aku pikir dengan adanya Alamanda di sini akan membuat Charlotte memilih untuk tinggal di sini. Charlotte sangat menyayangi Alamanda demikian juga sebaliknya.” Ucap Marcel sambil menatap wajah Nyonya Hanson tampak Nyonya Hanson berpikir pikir.


“Okey, baiklah aku akan melamarkan perawat itu buat kamu, saat Dokter Willy sudah menyatakan aku sehat. Agar Charlotte tetap tinggal di sini.” Ucap Nyonya Hanson pelan dan itu membuat hati Marcel kembali bahagia.


“Baiklah Mama sekarang istirahat biar cepat sehat dan segera melamar Alamanda.” Ucap Marcel lalu mencium pipi Sang Mama.


Sang perawat yang ada di dalam kamar Nyonya Hanson mendengar percakapan ibu dan anak itu.


“Hmmm beruntung nya Alamanda, perawat miskin dapat duda keren muda dan kaya raya. Aku kalah cepat andai dulu aku lebih dulu bekerja di sini aku bisa mengambil hati Tuan Marcel.” Gumam Sang perawat sambil menatap punggung Marcel yang berjalan menuju ke pintu kamar Nyonya Hanson dan terus berlalu.


Sementara itu di tempat lain di apartemen. Alamanda yang sudah terbaring di tempat tidur akan tetapi belum juga bisa tidur. Pikiran Alamanda berlari lari sesaat memikirkan tentang ancaman pada dirinya.


“Siapa sebenarnya yang berbuat jahat pada aku. Tetapi kenapa Tuan dan Nyonya Ernest juga ikut pergi dari Mansion. Tuan Ernest sangat ketakutan. Misteri apa di Mansion Ernestan.. “ gumam Alamanda dalam hati. Baru saja dia memikirkan Mansion Hanson, kini pikirannya sudah berlari pindah ke Marcel.


“Tuan Marcel sangat baik pada Tuan dan Nyonya Ernest. “ gumam Alamanda dalam hati dan tiba tiba tangan Alamanda mengusap usap pipi mulusnya yang tadi dicium oleh Marcel. Hangat bibir Marcel rasanya masih menempel di pipinya.


“Tuan Marcel, apa dia benar benar mencintai aku. Apa hanya demi Nona Charlotte..” gumam Alamanda masih mengusap usap pipinya.


“Hmmm gini ya rasanya dicium bibir laki laki rasanya masih nempel saja bibir Tuan Marcel di pipiku...” gumam Alamanda yang kini tersenyum sendiri.


“Untung bukan bibir Juragan Darman. Amit amit dech... untung Nona Charlotte menggagalkan lamaranku. Nona Charlotte benar benar pintar sekali.. “ gumam Alamanda lagi yang kini pikirannya berpindah pada Charlotte.