Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 22. Tak Ada Restu


Mobil terus melaju Marcel tidak menanyakan lagi pada Charlotte karena melihat ekspresi wajah Charlotte yang tiba tiba menghilang senyum cerianya dan berubah menjadi sedih.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman Mansion Hanson. Marcel langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Tampak Charlotte masih diam saja.


“Jika Charlotte belum mau bercerita tidak apa apa. Yang penting Ners Alamanda sudah gagal lamarannya dan Papa diterima menjadi calon suami Ners Alamanda tetapi bersyarat.” Ucap Marcel yang sudah mematikan mesin mobilnya, kini membuka kaitan sabuk pengaman yang melindungi tubuhnya dan berganti membuka kaitan sabuk pengaman Charlotte.


Di saat Marcel menoleh akan membuka pintu mobil.


“Pa..” ucap Charlotte dan Marcel menoleh ke arah Charlotte, Marcel tidak jadi membuka pintu mobilnya.


“Dulu kan aku pernah minta adik ke Mama. Aku tuh tidak tahu kalau Mama sudah tidak bisa kasih aku adik.” Ucap Charlotte dengan nada sedih. Marcel pun juga jadi sedih mengingat sang istri Patricia yang meninggal akibat kanker rahim dan rahimnya sudah diangkat.


“Nah saat itu Oma juga bilang katanya juga ingin cucu laki laki. Terus Oma bilang kalau tidak ingin Papa Marcel punya istri lagi cari alternatif lain. Terus Mama bilang beli sel telur perempuan lain dan Mama maunya bayi tabung itu ditaruh di rahim Oma Hanson atau Oma Wijaya, tidak mau jika ditaruh pada perempuan yang akan dibeli sel telurnya itu.” Ucap Charlotte selanjutnya dan air mata sudah mulai meleleh karena ingat akan almarhum Sang Mama


“Hmmm kasihan Mama, maka Mama makin kurus.” Gumam Marcel sambil mengusap air mata Charlotte.


“Hiks... Hiks... Iya Pa aku sudah membuat Mama sedih karena permintaanku. Aku tidak tahu Pa saat itu kalau Mama Patricia sudah tidak bisa kasih aku adik hiks.. hiks....” Ucap Charlotte yang kini terisak isak menyesali permintaannya pada almarhum sang Mama.


“Ya sudah, jangan sedih Mama sudah bahagia di Surga.” Ucap Marcel lalu meraih tubuh Charlotte dan menggendongnya Marcel lalu segera melangkah keluar dari mobil dan terus keluar dari garasi untuk menuju ke mansion utama.


Saat Marcel sudah berada di dalam Mansion utama lampu di seluruh ruangan sudah berganti dengan lampu yang redup sinarnya. Dan di saat akan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya berada. Tiba tiba ...


BYAAAARRR


Ruang keluarga tampak terang oleh sinar lampu yang baru saja dinyalakan. Marcel menoleh tampak Nyonya Hanson melangkah ke sofa ruang tamu.


“Hei dari mana kalian pergi sampai malam tidak mengajak Oma. Kalian membiarkan Oma sendirian di Mansion.” Ucap Nyonya Hanson sambil menatap wajah Marcel dan Charlotte lalu dia mendudukkan pantatnya di sofa.


“Kan banyak pelayan Oma.” Saut Charlotte yang masih dalam gendongan Marcel. Marcel pun melangkah mendekati Nyonya Hanson belum jadi melangkah menuju ke kamarnya.


“Hmmm.... Oma tahu pasti kalian dari rumah perawat itu.” Ucap Nyonya Hanson selanjutnya.


“Benar Ma, tadi acara lamaran Ners Alamanda.” Ucap Marcel lalu ikut duduk di sofa tidak jauh dari Nyonya Hanson duduk.


“Syukurlah, kalau dia sudah punya suami tidak lagi bisa mengganggu kamu. Dan kalian berdua tidak bisa lagi bersama sama dengan dia karena dia sudah bersuami lalu punya anak.” Saut Nyonya Hanson tampak tersenyum senang.


“Tapi acara lamarannya gagal Oma. Dan ganti Papa yang melamar.” Ucap Charlotte sambil menatap Nyonya Hanson.


“What? Kamu melamar perawat itu Cel?” tanya Nyonya Hanson tampak kaget sampai melotot menatap Marcel.


“Tidak bisa! Aku tidak mau punya menantu dari keluarga biasa biasa saja!” ucap Nyonya Hanson lalu bangkit berdiri dan akan melangkah menuju ke kamarnya.


“Macam tidak ada perempuan lain saja..” gumam Nyonya Hanson selanjutnya


“Ma aku mencari pendamping bukan hanya untuk kebutuhan saja tetapi juga untuk Charlotte. Untuk menjadi Mamanya Charlotte.” Teriak Marcel tetapi Nyonya Hanson tidak mendengarkan dan terus melangkah meninggalkan mereka berdua.


“Ayo ke atas Pa, tenang saja besok aku yang bilang pada Oma.” Ucap Charlotte lalu Marcel pun bangkit berdiri dan kini Charlotte berjalan sendiri di samping Marcel untuk menuju ke kamar mereka.


Sementara itu Nyonya Hanson di dalam kamar tampak gelisah. Dia berjalan mondar mandir di dalam kamar.


“Millie kenapa juga harus menaruh obat perangsang ke dalam kopi Marcel.” Gumam Nyonya Hanson yang sudah bertanya pada Millie tentang kasus cangkir kopi di ruang kerja Marcel dan Millie sudah meminta maaf. Nyonya Hanson memaafkan dan akan mencoba agar Marcel pun memaafkan pula.


“Hmmm belum juga aku minta Marcel memaafkan Millie. Malah Marcel sudah melamar perawat itu.”


Nyonya Hanson lalu menghubungi Millie dan mengatakan jika Marcel ada rencana melamar Alamanda.


“Apa Tante menyetujuinya?” suara Millie dengan nada tinggi di balik hand phone Nyonya Hanson.


“Kalau aku menyetujui tidak akan menghubungi kamu Millie. Aku menghubungi kamu agar kamu memberi solusi agar Marcel tidak meneruskan rencananya.” Ucap Nyonya Hanson yang juga dengan nada tinggi.


“Baiklah Tante aku akan cari akal agar Kak Marcel tidak mau lagi melamar perawat udik itu.” Suara Millie di balik hand phone milik Nyonya Hanson.


“Ingat jangan membahayakan Marcel dan Charlotte agar mereka berdua tidak semakin membenci kamu.” Ucap Nyonya Hanson mengingatkan pada Millie agar tidak terulang lagi kasus secangkir kopi di ruang kerja Marcel.


“Iya Tante, Tante tenang saja Millie tidak akan lagi mengulangi kesalahan.” Suara Millie lalu Nyonya Hanson memutus sambungan teleponnya setelah Mille menyanggupi akan melakukan sesuatu untuk menggagalkan lamaran Marcel.


“Hmmm semoga Millie berhasil. Malu aku punya menantu dari keluarga tidak jelas.” Gumam Nyonya Hanson sambil menaruh lagi hand phone di atas nakas.


Sementara itu Charlotte di dalam kamarnya dia belum tidur masih sibuk dengan tabletnya dengan memakai head phone.


“Non, sudah malam tidur dulu. Besok kan harus berangkat ke sekolah. Tadi Nona sudah tidak berangkat ke sekolah.” Ucap Sang pengasuh sambil berdiri di dekat tempat tidur Charlotte sambil menepuk pelan paha Charlotte


“Sebentar Nanny... ini aku masih bekerja buat Papa, agar Papa sukses bisa melamar Ners Alamanda.” Ucap Charlotte yang masih sibuk dengan tabletnya. Karena dia sudah meretas nomor hand phone Millie jadi dia bisa mengetahui data data nomor hand phone Millie. Termasuk pembicaraan Millie barusan dengan Sang Oma.


“Non dilanjut besok ya.. nanti Papa marah ke saya, karena sudah malam Non belum tidur.” Ucap Sang pengasuh lagi, dan Charlotte masih serius menyadap pembicaraan Millie dengan Kevin yang sedang berencana jahat pada Alamanda.