
Sementara itu Charlotte yang ada di dalam kamarnya menyadap percakapan Nyonya Hanson. Mendengar Sang Oma mendapat ancaman dan juga mendengar ada nama Wijaya disebut yang tidak lain itu adalah nama Sang Opa, orang tua almarhum Patricia sang Mamanya. Charlotte pun penasaran dengan istilah kata perselingkuhan. Dia lalu mencari arti kata perselingkuhan dari mesin pencarian di tabletnya.
“Aku harus memberi tahu pada Papa Marcel.” Gumam Charlotte dalam hati setelah mengetahui arti kata perselingkuhan, dan juga akan memberi tahukan tentang ancaman orang tua Millie itu.
Charlotte tampak mengusap usap layar tabletnya untuk mencari nama kontak Sang Papa, dia akan melakukan panggilan video.
Sementara itu di lain tempat di gedung Hanson Co, tepatnya di ruang CEO, tampak Marcel sedang sibuk menanda tangani berkas berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Wajah Marcel tampak terlihat kaku karena sedang memikirkan Alamanda yang belum bisa dihubungi. Hand phone milik Alamanda masih mati. Karena Alamanda tadi hanya sebentar saja beristirahat di kamar dan selanjutnya menemani Nyonya Ernest makan siang, jadi belum sempat mengaktifkan hand phone miliknya.
“Kenapa sih hand phone pakai di off segala.” Gumam Marcel dalam hati sambil tangan dan pandangan matanya terfokus pada berkas berkas yang harus dia tanda tangani.
Sesaat hand phone yang ada di saku jasnya berdering. Dengan cepat cepat Marcel mengambil hand phone miliknya yang berdering itu. Dia sangat berharap itu panggilan dari Alamanda.
Saat dilihat yang ada di layar hand phone miliknya yang tertera nama Charlotte ada sebersit rasa kecewa di hatinya.
“Ada apa Charlotte.” Gumam Marcel dalam hati lalu segera menggeser tombol hijau.
“Papa cepat cepat pulang sekarang. Penting!” teriak suara Charlotte di balik hand phone milik Marcel ekspresi wajah Charlotte pun tampak serius terpampang di layar hand phone milik Marcel.
“Tapi Papa masih sibuk Sayang. Lihat ini banyak sekali berkas yang harus Papa tanda tangani.” Ucap Marcel sambil mengarahkan kamera depan di hand phone miliknya pada tumpukan berkas berkas di meja.
“Bawa ke Mansion Papa, biar nanti orang bawa kembali itu ke kantor. Cepat Pa!” teriak Charlotte lagi dan panggilan video itu pun terputus.
Marcel pun lalu menaruh lagi hand phone miliknya itu ke dalam saku jasnya. Dia bangkit berdiri dan memberesi semua berkas berkas itu. Dia menurut pada perkataan Charlotte untuk membawa berkas berkas itu pulang.
“Hmmm ada masalah apa di mansion apa Mama memarahi Charlotte anakku.” Gumam Marcel sambil mempercepat langkahnya keluar dari ruang kerjanya menuju ke lift yang akan mengantar ke lantai dasar tempat mobilnya terparkir. Setelah masuk ke dalam mobil Marcel pun dengan cepat menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya menuju ke Mansion.
“Charlotte!” teriak Marcel saat sudah di depan kamar Charlotte sambil membuka daun pintu kamar Charlotte.
Charlotte tampak masih berbaring sambil menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal. Sang Pengasuhnya terlihat duduk di tepi tempat tidur Charlotte sebab tadi Charlotte juga bertanya pada Sang Pengasuhnya itu apa arti kata perselingkuhan. Namun dia tidak menceritakan tentang masalah Oma nya jadi yang pengasuhnya tahu masalah perselingkuhannya Millie.
“Nanny sekarang tolong ke luar dari kamarku dulu.” Ucap Charlotte pada Sang Pengasuhnya. Dan pengasuh itu pun segera bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar Charlotte tidak lupa menutup pintu kamar itu.
“Tidak Papa, coba Papa dengar ini.” Ucap Charlotte sambil menyerahkan tablet dan head phone pada Marcel. Marcel pun lalu memegang tablet Charlotte yang sudah membuka rekaman percakapan Nyonya Hanson dan Nyonya Leli Donald. Marcel juga memasang head phone pada kedua telinganya.
Pada awalnya ekspresi wajah Marcel biasa biasa saja saat mendengar rekaman percakapan itu, akan tetapi lama lama ekspresi wajahnya tampak emosi, wajahnya memerah, urat uratnya menegang.
“Mama, Papa Wijaya mengapa lakukan hal ini sangat memalukan.” Ucap Marcel yang benar benar tidak menyangka ada masalah itu. Sebab dia sangat sibuk dengan pekerjaannya dan mengurus istrinya yang sakit hingga meninggal.
“Hmmm itu sebabnya Oma dan Opa Wijaya tidak mau lagi ke sini. Mungkin Oma Wijaya sudah mengetahui.” Gumam Marcel dalam hati.
“Charlotte di sini ya Sayang. Papa akan ke kamar Oma. Papa akan memaafkan Oma dengan syarat agar Oma mau melamarkan Ners Alamanda.” Ucap Marcel sambil mengusap usap puncak kepala Charlotte, lalu mencium puncak kepala puteri semata wayangnya itu. Dan Charlotte pun menganggukkan kepalanya.
Marcel segera bangkit berdiri dan bergegas keluar dari kamar Charlotte, Marcel berjalan dengan cepat menuruni anak tangga untuk menuju ke kamar Nyonya Hanson.
Saat sampai di depan pintu kamar Nyonya Hanson, Marcel membuka daun pintu yang tidak dikunci itu dengan cepat. Dan sesaat Marcel terbelalak matanya saat melihat sosok Sang Mama tergeletak di atas lantai.
“Mamaaaaaa!” Teriak Marcel dengan keras sambil berlari mendekati sosok Sang Mama yang terbaring di lantai di dekat tempat tidur.
“Mamaaaa.” Ucap Marcel sambil memegang tubuh Sang Mama yang terasa dingin dan lemas. Mata Nyonya Hanson hanya terpejam saja. Marcel lalu menggotong tubuh Sang Mama dan dibaringkan di atas tempat tidur.
Marcel segera menghubungi Dokter Willy , dokter pribadi keluarga Hanson. Oleh Dokter Willy disarankan agar Nyonya Hanson segera dibawa ke rumah sakit saja. Untuk efesiensi waktu.
Marcel pun segera menghubungi para pelayan dan juga sopir agar siap siap di mobil. Dengan segera Marcel dan para pelayan membawa tubuh Nyonya Hanson ke dalam mobil. Dan mobil terus berjalan menuju ke rumah sakit tempat Dokter Willy masih bertugas. Marcel memangku tubuh Sang Mama yang terasa dingin dan lemas itu. Berkali kali Marcel memegang tangan Nyonya Hanson untuk mengecek denyut nadinya.
“Ma... bangun Ma.. Marcel maafkan semua kesalahan Mama..” ucap Marcel sambil menepuk nepuk pipi Sang Mama.
“Pak cepat bawa mobilnya!” perintah Marcel pada Pak Sopir. Marcel tampak tidak sabar dia ingin mobil bisa segera sampai ke rumah sakit.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah sakit. Sang pengawal yang duduk di jok depan langsung membuka pintu mobil demikian juga pak sopir. Sang pengawal berlari untuk mengambil brankar. Sedangkan pak sopir langsung membuka pintu belakang tampak Marcel yang memangku tubuh Nyonya Hanson, ekspresi wajahnya terlihat sangat panik.
Sesaat kemudian brankar sudah ada di dekat mobil itu. Dua orang petugas medis pun juga datang bersama sang pengawal yang membawa brankar. Mereka lalu mengeluarkan tubuh Nyonya Hanson dari dalam mobil dan dibaringkan ke atas brankar. Dua orang petugas medis itu langsung menarik dan mendorong brankar untuk di bawa ke ruang periksa di mana Dokter Willy sudah menunggu di sana. Marcel pun ikut berjalan cepat mengikuti ke mana arah brankar yang membawa sang Mama, orang tua satu satunya yang masih ada.
Sesaat terdengar bunyi dering hand phone di saku jas yang dikenakan oleh Marcel, akan tetapi Marcel tidak begitu memedulikan dia masih berjalan dengan cepat mengikuti brankar yang membawa Sang Mama.