Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 76.


“Hmmm aku awasi saja dia dari jauh, apa mungkin mereka akan mengunjungi Nyonya Hanson. Tuan Marcel kan pernah jadi teman bisnis Tuan Ernest. “ ucap laki laki yang berada di dalam mobil itu yang tidak lain adalah Tuan Sam. Tuan Sam pun segera memarkir mobilnya, Tuan Sam memakai kaca mata hitam dan topi model flat cap. Tuan Sam segera turun dari mobil, dia mengikuti Marcel dan Alamanda dari jauh.


“Hmmm kalau benar mereka sedang mengunjungi Nyonya Ernest, sungguh sangat kebetulan aku tidak perlu bertanya tanya.” Gumam Tuan Sam dalam hati sambil terus mengikuti langkah kaki Marcel dan Alamanda dengan jarak aman.


Sementara itu Marcel yang menggendong Charlotte terus melangkah dan Alamanda juga terus melangkah di samping Marcel, mereka tidak tahu jika ada yang mengikutinya.


“Kita langsung ke ruang laboratorium saja. Dokter Willy tadi sudah menghubungi aku katanya dia sudah mendaftarkan Charlotte.” Ucap Marcel sambil terus melangkah menuju ke lift.


“Papa apa nanti akan sakit jika diambil darahku?” tanya Charlotte dengan nada dan ekspresi takut.


“Nanti minta pakai cara yang tidak sakit ya.. “ ucap Marcel sambil mencium pipi Charlotte. Tubuh Charlotte sudah tidak demam lagi karena obat yang dia minum. Marcel sebenarnya juga tidak tega jika jarum suntik sering menusuk pada tubuh mungil anaknya akan tetapi semua itu demi kesehatan buah hatinya.


Sesaat mereka sudah berada di depan pintu lift, Alamanda segera menekan tombol di samping pintu lift itu. Dan tidak pakai menunggu lama pintu lift itu sudah terbuka dan mereka segera masuk ke dalam lift.


Sementara itu Tuan Sam yang mengikuti dari belakang mengumpat kesal karena kehilangan jejak.


“Sial, mereka masuk ke dalam lift dan aku tidak tahu mereka ke lantai berapa.” Umpat Tuan Sam dalam hati dan akhirnya dia pun melangkah melanjutkan rencana semulanya untuk mencari kamar tempat Nyonya Ernest berada.


Beberapa saat kemudian lift yang membawa Marcel, Alamanda dan Charlotte sudah sampai pada lantai yang mereka tuju.


Mereka terus melangkah menuju ke ruang laboratorium tempat cek darah khusus untuk anak anak.


“Nanti Charlotte lihat film kartun yang diputar saja ya, jangan lihat jarum dan petugas medisnya..” ucap Alamanda saat mereka sudah masuk ke dalam ruang laboratorium. Sebab di rumah sakit itu untuk pengambilan sampel darah pada anak anak dilakukan cara dengan menayangkan film kartun agar anak konsentrasi nya pada tayangan film dan tidak pada jarum suntik untuk mengurangi tingkat stres anak pada takutnya jarum suntik dan melihat darah di dalam tubuhnya yang diambil.


“Aku nanti dipangku Mama ya...” ucap lirih Charlotte sambil menatap Alamanda yang berjalan di samping Papanya. Alamanda pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Proses pengambilan sampel darah pun berjalan lancar. Charlotte tidak menangis dan takut, karena Alamanda memangku dirinya dengan penuh kasih sayang. Alamanda pun bibirnya sibuk berucap mengomentari film kartun yang sedang ditayangkan agar Charlotte terus berkonsentrasi pada tayangan film kartun itu. Petugas medis yang mengambil sampel darah Charlotte pun juga ikut mengomentari tayangan film itu. Proses pengambilan sampel darah Charlotte sudah selesai, tetapi tayangan film belum selesai Charlotte masih dipangku oleh Alamanda.


Berbeda dengan Charlotte yang berhasil konsentrasinya teralihkan pada film kartun, sedangkan Marcel wajahnya tampak panik. Dia takut akan hasil dari uji laboratorium nanti.


“Sudah selesai Sayang...” ucap Alamanda saat tayangan film kartun sudah selesai.


“Kapan hasil akan keluar?” tanya Marcel pada petugas laboratorium itu.


“Secepatnya Tuan. Dokter Willy sudah berpesan agar sampel darah Nona Charlotte segera diuji. Silahkan Tuan menunggu di ruang tunggu ruang kerja Dokter Willy, nanti hasilnya akan segera kami kirim pada Dokter Willy. “ jawab petugas laboratorium itu.


“Mama, benar tidak sakit.” Ucap Charlotte sambil tersenyum menatap Alamanda. Dan ucapan Charlotte yang memanggil Alamanda dengan sebutan Mama itu membuat petugas laboratorium yang mengenal Alamanda sebagai perawat di rumah sakit itu tampak kaget.


Marcel dan Alamanda pun melangkahkan kaki mereka keluar dari ruang cek darah anak anak. Charlotte sudah kembali berada di dalam gendongan Marcel.


Sesaat terdengar bunyi dering hand phone milik Marcel. Tangan kanan Marcel pun mengambil hand phone yang berada di dalam saku kemejanya.


“Cel, aku sudah on the way untuk menemui kamu, kamu masih di Mansion atau di Hanson Co.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone milik Marcel.


“Aduh Bang, aku masih di rumah sakit nih, cek darah anakku.” Suara Marcel dengan nada penuh penyesalan karena dia lupa memberi kabar Bang Bule Vincent perubahan jadwal hari ini.


“Jangan kamu katakan kamu berada di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat istri ku berada.” Suara Bang Bule Vincent.


“Hmmm gini saja Bang, Bang Bule langsung ke apartemen aku saja. Di sana ada Tuan dan Nyonya Ernest, Bang Bule busa menggali informasi langsung pada mereka. Aku share rekaman percakapan yang mencurigakan pada Bang Bule. Nanti setelah dari rumah sakit aku langsung ke sana. Tunggu aku di apartemen. Jalur ke sana kan juga satu jalur ke Hanson Co. Aku share lokasi sekarang juga.” Ucap Marcel dengan nada serius.


“Okey okey, aku tutup sambung telepon.” Suara Bang Bule Vincent dan sambungan panggilan suara pun terputus. Marcel segera share lokasi apartemen, share rekaman percakapan kepada kontak nama Bang Bule Vincent, teman nya yang seorang detektif swasta.


Beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah berada di ruang tunggu Dokter Willy. Marcel risau dan gelisah menunggu hasil uji laboratorium sampel darah puteri semata wayangnya.


“Nona Charlotte.” Suara seorang petugas rumah sakit yang membantu Dokter Willy.


“Ayo ikut masuk Al.” Ucap Marcel yang bangkit berdiri sambil menggendong Charlotte.


“Silahkan duduk Tuan Marcel dan Ners Alamanda.” Ucap Dokter Willy saat Marcel dan Alamanda sudah masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Bagaimana hasilnya Dok?” tanya Marcel dan Alamanda secara bersamaan mereka berdua sudah tidak sabar menunggu hasil uji laboratorium sampel darah Charlotte. Mereka berharap hasilnya baik baik saja.


“Duduk dulu.” Ucap Dokter Willy sambil tersenyum.


“Nona Charlotte apa sekarang senang sudah bersama Papa dan Ners Alamanda?” tanya Dokter Willy sambil tersenyum menatap Charlotte.


“Iya Dokter, aku sekarang bobok bersama Papa dan Mama...” ucap Charlotte sambil tersenyum lebar menoleh pada Alamanda dan Marcel. Dokter Willy pun mengeryitkan dahinya.


“Jangan berprasangka buruk Dok. Kami tidak melakukan apa apa.” Ucap lirih Marcel karena melihat ekspresi wajah Dokter Willy.


“Ha... ha... ha... Okey okey Tuan Marcel...” ucap Dokter Willy sambil tertawa.


Sesaat kemudian Dokter Willy terhenti tawanya...


“Hmmm gini nih hasil uji laboratorium sampel darah Nona Charlotte. Ada peningkatan sel darah putih nya...” ucap Dokter Willy dengan nada serius.


DUEERRR...


Marcel dan Alamanda yang sudah tahu artinya jika ada peningkatan sel darah putih itu langsung wajahnya menegang.


“Dok...” ucap Marcel dan Alamanda secara bersamaan dengan nada khawatir.