
Alamanda terus berjalan menuju ke kamar Tuan dan Nyonya Ernest. Sambil berjalan dia meraih hand phone miliknya yang berada di dalam saku baju seragamnya, dia segera menon aktifkan sebab khawatir jika ada yang menghubungi dirinya dan itu tidak disukai oleh Nyonya Ernest.
“Ibu pelayan kok memberi pesan seperti itu ya. Seperti nya dia mengkhawatirkan aku.” Gumam Alamanda sambil terus melangkah.
“Benar benar penuh misteri di dalam Mansion ini.” Gumam Alamanda sekali lagi. Dan dia mempercepat langkah kakinya. Entah kenapa tiba tiba jantungnya berdetak lebih kencang.
Saat sampai di depan pintu kamar Tuan dan Nyonya Ernest. Alamanda segera mengetuk ngetuk pintu kamar itu.
TOK TOK TOK
Alamanda mengetuk daun pintu itu pelan pelan dan sejumlah tiga kali. Seperti yang dipesan oleh Nyonya Ernest.
“Masuk.” Suara Tuan Ernest dari dalam. Alamanda pun segera memutar handel pintu dan mendorong dengan pelan pelan daun pintu itu.
Alamanda melihat sosok Tuan Ernest sudah memakai tshirt dan celana pendek santai sebatas lutut. Tampaknya beliau baru saja selesai mandi. Tubuh nya yang sudah tua tampak lebih segar karena siraman air saat mandi. Tuan Ernest berdiri di dekat pembaringan isterinya sambil memegang kursi roda. Dia tidak berani memindah sendiri istrinya dari tempat tidur menuju ke kursi roda.
“Baru aku hubungi telepon kamar kamu.” Ucap Nyonya Ernest. Dan hati Alamanda pun lega, sebab jika Nyonya Ernest menghubungi nomor telepon kamar pasti tidak terhubung sebab dia tidak berada di dalam kamar. Alamanda terus berjalan mendekati Nyonya Ernest.
“Apa kamu sudah bertanya pada orang tua kamu?” tanya Nyonya Ernest saat Alamanda memindah tubuh Nyonya Ernest ke kursi roda.
“Sudah Nyonya, tapi mereka juga tidak mengenal nama nama yang disebutkan oleh Nyonya tadi.” Ucap Alamanda yang masih sibuk memindah tubuh Nyonya Ernest. Ekspresi wajah Nyonya Ernestan tampak kecewa.
Tuan Ernest yang melihat gestur tubuh isterinya kecewa tampak menepuk nepuk pundak Sang isteri sebagai kode agar sabar. Tuan Ernest masih akan mencari tahu tentang kejelasan tentang keluarga Alamanda.
Alamanda pun mendorong kursi roda Nyonya Ernest untuk keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan. Tuan Ernest berjalan di belakang mereka berdua sambil berpikir pikir untuk mencari kejelasan tentang kemiripan Alamanda dengan Debora.
“Awal awal aku hanya menganggap kemiripan wajah dan tubuhnya dengan Debora hanya kebetulan saja. Tetapi kenapa lama lama aku sama seperti istriku, aku ingin tahu siapa sebenarnya perawat itu. Entah mengapa hadir nya di Mansion ini juga memberi kebahagiaan ku. Apa karena istriku bahagia aku pun menjadi bahagia.. Emosi istriku pun menjadi stabil.” Gumam Tuan Ernestan di dalam hati sambil terus melangkah mengikuti jalannya kursi roda yang didorong oleh Alamanda dengan hati hati.
Sementara itu, Tuan Sam di dalam kamar nya dia tersenyum senang sebab sudah mendapatkan lagi kunci duplikat kamar Alamanda.
“Hmmm tunggu sebentar, di saat semua sedang menikmati makan malam. Aku akan masuk lagi ke dalam kamar perempuan itu.” Gumam Tuan Sam sambil tersenyum licik.
Tuan Sam pun sudah menyiapkan barang yang akan ditaruh di dalam kamar Alamanda. Dia simpan di dalam saku jas nya. Tuan Sam duduk di sofa sambil menunggu waktu tiba. Orang orang biasanya akan menggunakan waktu sekitar satu jam untuk makan malam. Alamanda ikut makan malam di ruang makan bersama Tuan dan Nyonya Ernest. Sedangkan para pelayan di ruang makan tersendiri khusus para pelayan. Tuan Ernest biasanya akan datang lebih awal atau justru di akhir di ruang makan khusus untuk para pelayan itu.
“Hmmm aku sekarang mulai saja ke kamar perempuan itu. Semua orang pasti sekarang sedang menikmati makanannya.” Ucap Tuan Sam saat sudah lima belas menit duduk menunggu. Dia pun segera bangkit berdiri dari sofa dan melangkah keluar dari kamarnya.
Tuan Sam melangkah dengan cepat. Perlu waktu sekitar sepuluh menit agar sampai di depan kamar Alamanda. Dan menurut perhitungan di saat itu semua orang sedang sibuk sibuknya di ruang makan.
Tidak butuh waktu lama. Sosok Tuan Sam sudah keluar dari pintu kamar Alamanda. Dia menutup pintu kamar Alamanda dengan pelan pelan. Tidak lupa dia mengunci kembali pintu kamar itu dan dia segera mengambil anak kunci.
“Aman.” Gumam Tuan Sam dengan senyum lega. Tangannya memegang dada. Sudah tidak ada lagi barang di dalam saku jasnya. Tuan Sam pun melangkah dengan cepat menuju ke ruang makan khusus pelayan.
Ibu pelayan yang berada di ruang makan mencari cari sosok Tuan Sam.
“Hmmm di mana dia kenapa belum muncul juga di ruang makan ini.” Gumam Ibu pelayan yang masih penasaran dengan kasus kunci kamar Alamanda.
“Ooo itu dia.” Gumam Ibu pelayan saat melihat sosok Tuan Sam kepala asisten muncul di depan pintu ruang makan. Tuan Sam yang merasa dipandangi oleh seseorang mengitarkan pandangan ke seluruh isi ruang makan yang luas itu.
Tiba tiba pandangan matanya berserobok dengan pandangan mata ibu pelayan.
“Hmmm apa perempuan tua itu sudah tahu kalau ada salah satu kuncinya hilang.” Gumam Tuan Sam dalam hati dan dia justru melangkah mendekati tempat duduk Ibu pelayan.
“Ada perlu apa kamu sepertinya mencari aku.” Ucap Tuan Sam saat dekat di tempat duduk Ibu pelayan.
“Kenapa baru masuk ke ruangan ini.” Ucap Ibu pelayan tanpa menoleh ke arah Tuan Sam yang berdiri di dekat nya.
“Bukannya itu hal yang biasa aku lakukan. Kadang datang lebih awal dan kadang lebih akhir dari yang lainnya.” Ucap Tuan Sam dan lalu melangkah menuju ke tempat peralatan makan dan juga tempat aneka menu makanan.
“Semoga perawat itu baik baik saja.” Gumam Ibu pelayan yang masih merasa khawatir dengan keselamatan Alamanda yang memiliki wajah dan postur tubuh sama seperti Debora yang sudah tidak ada.
Waktu pun terus berlalu acara makan malam sudah satu jam berlalu. Alamanda bersama Tuan dan Nyonya Ernest pun sudah selesai acara makan malamnya.
“Tidak hanya wajah dan postur tubuh nya yang sama dengan Debora. Selera makan perawat itu pun sama dengan menantuku. Siapa sebenarnya perempuan ini.” Gumam Nyonya Ernest di atas kursi roda yang sedang didorong oleh Alamanda. Sejak tadi Nyonya Ernest mengamati Alamanda saat makan malam.
“Kamu sekarang istirahat saja Ners. Besok pagi datanglah ke kamarku lebih pagi. Aku ingin kamu antar aku jalan jalan.” Ucap Nyonya Ernest saat kursi roda sudah sampai di depan pintu kamarnya. Tuan Ernest yang sejak tadi berada di belakang Alamanda pun segera menggantikan posisi Alamanda memegang kendali kursi roda Nyonya Ernest.
“Baik Nyonya.”
“Selamat malam Tuan dan Nyonya Ernest.” Ucap Alamanda dengan santun sambil menganggukkan kepala menghadap pada Tuan dan Nyonya Ernest.
Alamanda pun segera membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke kamarnya. Sesampai di depan pintu kamarnya Alamanda mengambil kunci kamar yang berada di dalam saku baju seragam nya. Dengan pelan pelan dia memasukkan anak kunci itu.