
Marcel mengusap usap puncak kepala Charlotte sambil menatap wajah Charlotte yang terlelap. Dia pun tidak tega jika Charlotte terbangun saat dibawa pulang nanti.
“Baiklah saya tunggu sampai Charlotte terbangun.” Ucap Marcel selanjutnya. Marcel masih duduk di tepi tempat tidur Charlotte sedang Tuan dan Nyonya Wijaya tampak masih berdiri tidak jauh dari tempat tidur Charlotte. Sedang sang pengasuh sudah siap berjalan menuju ke lemari akan berkemas kemas dia merasa lebih nyaman tinggal di Mansion Hanson, dia pun ingin segera pulang ke Mansion Hanson.
Marcel tampak mengambil hand phone dari saku jasnya. Dia segera mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi sang Mama yang masih menunggu di dalam mobil.
“Ma, Charlotte masih tidur aku tidak tega untuk membawanya takut kalau dia terbangun malah rewel.” Ucap Marcel saat Nyonya Hanson sudah menerima panggilan suaranya. Marcel berbicara pelan agar tidak membuat Charlotte terbangun karena kaget.
“Aku pulang dulu saja ya, nanti kamu kabari kalau Charlotte sudah bangun, aku dan sopir datang lagi nanti.” Ucap Nyonya Hanson yang tidak enak hati untuk masuk ke dalam Mansion Wijaya.
“Mama nanti terlalu lama, kita tidak tahu Charlotte bangun, saat Charlotte bangun langsung aku bawa pulang.” Ucap Marcel lagi masih dengan suara pelan namun tetap didengar oleh Tuan dan Nyonya Wijaya.
“Papa kembali ke kantor sana.” Suara Nyonya Wijaya sambil menatap tajam suaminya. Entah karena masih cemburu atau biar Nyonya Hanson mau menunggu tanpa sungkan karena ada Tuan Wijaya.
Tuan Wijaya yang ditatap istrinya dengan tajam pun langsung melangkah meninggalkan kamar Charlotte.
Tuan Wijaya terus melangkah untuk keluar dari pintu utama Mansion. Dia pun tidak ingin lagi istrinya marah marah karena kesalahan yang sudah dibuatnya dulu. Tuan Wijaya terus melangkah dari pintu utama Mansion menuju ke mobilnya, akan tetapi secara reflek pandangan matanya menatap mobil milik Marcel yang masih berparkir. Dan secara tidak sengaja juga, Nyonya Hanson sedang menoleh ke arah pintu utama Mansion. Saat wajah Tuan Wijaya menatap ke arah nya, buru buru Nyonya Hanson menundukkan kepalanya.
“Bagaimana Nyonya kita pulang atau menunggu. Kalau menunggu mari kita semua turun dulu. Saya mau minta secangkir kopi.” Ucap Pak Sopir.
“Disuruh Marcel tetap menunggu. Kalian turun sana. Biar aku tetap menunggu di sini.” Ucap Nyonya Hanson yang belum berani turun dari mobil. Henry dan Pak Sopir pun segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke teras depan Mansion.
Sesaat Tuan Wijaya sudah masuk ke dalam mobil dan Tuan Wijaya pun segera melajukan mobil meninggalkan halaman Mansion miliknya.
“Padahal aku masih kangen pada cucuku.” Gumam Tuan Wijaya dalam hati.
Sementara itu Nyonya Hanson yang tahu Tuan Wijaya sudah pergi, pelan pelan dia pun membuka pintu mobil dan seterusnya melangkah keluar. Nyonya Hanson berjalan mendekati Henry dan Pak Sopir yang sudah duduk duduk santai sambil menunggu kopi yang sudah mereka pesan pada pelayan yang ada di Mansion Wijaya.
Sesaat kemudian muncul sosok seorang pelayan sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
“Nyonya disuruh masuk ke dalam oleh Nyonya Wijaya dan Tuan Muda Marcel.” Ucap Sang pelayan.
“Iya, Nyonya menunggu di dalam saja.” Ucap Henry dan Pak Sopir secara bersamaan. Akhirnya Nyonya Hanson pun bangkit berdiri dan masuk ke dalam Mansion.
Waktu pun terus berlalu. Marcel masih setia menunggu Charlotte, berkali kali dia mengusap usap puncak kepala Charlotte dan menciumi wajah Charlotte dengan hati hati.
Sesaat kemudian... mata Charlotte terbuka. Charlotte mengerjap ngerjapkan matanya.
“Sayang kamu sudah bangun. Kamu tidak bermimpi, Papa datang untuk menjemput kamu. Papa tunggu kamu bangun.. kalau kamu sudah bangun ayo kita pulang Sayang...” ucap Marcel sambil meraih tubuh Charlotte, Charlotte pun dengan senang hati dan memeluk tubuh Marcel dengan erat.
“Charlotte Sayang Oma juga menjemput kamu Sayang...” ucap Nyonya Hanson yang duduk menunggu di sofa yang ada di dalam kamar itu. Nyonya Hanson pun lalu bangkit berdiri dan mendekati Charlotte yang sudah digendong oleh Marcel lalu mencium puncak kepala Charlotte.
“Nanny apa kamu sudah siap? Ayo sekarang kita pulang.” Ucap Marcel lalu dia melangkah keluar dari kamar Charlotte. Nyonya Hanson ikut melangkah di belakangnya. Sang pengasuh pun ikut berjalan sambil menarik koper dan membawa satu travel bag kecil.
“Hei.. jangan pulang dulu, makan siang dulu dan Charlotte harus minum obat dulu.” Ucap Nyonya Wijaya saat melihat mereka semua sudah bergegas berjalan.
“Baiklah..” ucap Marcel yang menghormati mertua nya. Mereka pun berjalan menuju ke ruang makan. Saat melihat menu di meja makan, Marcel mengernyitkan dahinya sebab menu yang dihidangkan memang menu yang lezat lezat akan tetapi tidak baik untuk kesehatan orang yang memiliki riwayat sakit kanker.
“Ma, Charlotte tidak bagus jika makan menu macam gini..” ucap Marcel memberanikan diri.
“Ah, bukannya Charlotte sudah sembuh dari penyakit kanker nya, ini bagus untuk orang sakit masuk angin, penuh gizi agar cepat sehat..” ucap Nyonya sambil menunjukkan menu makanan yang full dengan daging merah dan minim menu sayuran segar.
“Ini sup daging pasti segar buat Charlotte yang demam, dengan bumbu lada hitam khusus.” Ucap Nyonya Wijaya lagi.
Tampak Nyonya Hanson mengedipkan matanya pada Marcel agar tidak banyak protes agar segera makan dan segera pula pulang ke Mansion Hanson.
Mereka pun segera makan dan setelah selesai makan Charlotte segera diberi obat dan setelahnya mereka pun mohon diri pada Nyonya Wijaya.
“Ma, terima kasih sudah menjaga Charlotte dan mengizinkan saya untuk menjemput Charlotte.” Ucap Marcel yang sudah menggendong Charlotte lagi.
“Hmmm .. iya.. iya..” ucap Nyonya Wijaya sambil mengusap usap puncak kepala Charlotte lalu menciumi wajah Charlotte rasanya belum rela berpisah.
“Kalau Charlotte sudah sehat aku akan mengambilnya lagi. Kalau dia sakit di sini. Aku bisa kesalahan karena tidak bisa menjaga dan merawat Charlotte.” Gumam Nyonya Wijaya dalam hati.
“Ma, Alamanda akan membuat surat perjanjian kalau dia akan merawat Charlotte seperti anak kandungnya sendiri. Nanti saya akan suruh notaris membuatkan akta surat perjanjian itu. Agar kuat secara hukum agar Mama percaya dan tenang.” Ucap Marcel dengan pelan namun mantap.
Akan tetapi ekspresi wajah Nyonya Wijaya tiba tiba berubah dan tampak tidak senang.
“Pa, aku kangen Ners Alamanda...” ucap lirih Charlotte.
“Iya Sayang nanti sore kalau kamu tidak demam lagi. Kita menemui Ners Alamanda.” Ucap Marcel sambil tersenyum menatap Charlotte karena dia pun juga kangen dengan Ners Alamanda.