Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 74.


Tuan Sam mengusap usap layar hand phone nya, dia melakukan panggilan suara pada kontak nama Tuan Ernest. Dan tidak lama kemudian.


“Selamat petang Tuan...” ucap Tuan Sam saat Tuan Ernest sudah menerima panggilan suaranya.


“Hmmm, ada perlu apa?” suara Tuan Ernest datar datar saja. Beliau sebenarnya ingin marah marah pada Sam, akan tetapi beliau menahan diri ingat pesan dari Marcel agar tidak gegabah.


“Tuan saya akan ke rumah sakit selain akan menjenguk Nyonya, saya juga akan memberikan laporan kerja.” Ucap Tuan Sam dengan nada santun.


“Hmmm istriku belum boleh dijenguk oleh siapapun. Untuk laporan kerja kamu kirim lewat email saja.” Suara Tuan Ernest dan panggilan suara pun terputus karena Tuan Ernest sudah memutus sambungan teleponnya.


“Sial, langsung diputus saja. Aku belum selesai bicara.” Ucap Tuan Sam dengan nada kesal.


“Ahai... aku coba hubungi lagi dengan panggilan video. Nanti akan terlihat mereka berada di ruang vip yang mana.” Ucap Tuan Sam yang akan melakukan panggilan video dan akan melihat interior ruang di mana Tuan Ernest berada.


Tuan Sam pun kembali mengusap usap layar hand phone miliknya untuk melakukan panggilan video pada Tuan Ernestan. Akan tetapi hingga tiga kali melakukan panggilan video tetap saja tidak diterima oleh Tuan Ernestan.


“Tidak diterima. Tuan Ernest tidak mau diganggu. Besok saja aku langsung ke rumah sakit.” Gumam Tuan Sam dalam hati lalu dia memasukkan lagi hand phone miliknya ke dalam saku jas nya, lalu dia melangkah keluar dari ruang kerjanya.


Sementara itu di Mansion Hanson, di kamar Marcel tampak suasana penuh haru dan kebahagiaan. Charlotte memeluk erat tubuh Alamanda dan Alamanda yang kini sudah memangku tubuh mungil Charlotte pun memeluk erat tubuh Charlotte sambil menciumi kedua pipi Charlotte yang masih terasa hangat.


Marcel pun secara reflek ikut memeluk tubuh Alamanda. Sedangkan Henry sudah disuruh langsung pergi oleh Marcel setelah mengantar Alamanda ke kamarnya.


“Mama.......” ucap lirih Charlotte sambil memeluk Alamanda, mata Charlotte pun berkaca kaca.


“Nona....” ucap Alamanda yang tampak kaget saat Charlotte mengucapkan kata Mama, dia mengira Charlotte menyebut kata Mama karena Charlotte yang sedang sakit itu merindukan Mama Patricia.


“Mama, panggil aku Charlotte saja...” ucap Charlotte sambil menatap Alamanda


“Aku ingin malam ini bobok di sini ditemani oleh Mama dan Papa...” ucap Charlotte lagi sambil menatap Alamanda dan Marcel dengan ekspresi penuh permohonan.


“Nona, itu belum boleh...” ucap Alamanda sambil menatap Charlotte. Sedangkan Marcel menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal.


“Mama... panggil aku Charlotte saja ya...” ucap Charlotte lagi dengan suara manja...


“Baik.. Charlotte...” ucap Alamanda sambil tersenyum lalu menciumi pipi Charlotte lagi.


“Mama nanti bobok di sini ya...” ucap Charlotte lagi akan tetapi tiba tiba terdengar suara ketukan pintu kamar.


TOK TOK TOK


“Charlotte saatnya kamu makan dan setelah nya kamu minum obat ya...” ucap Nyonya Hanson yang terus melangkah masuk dan di belakangnya seorang pelayan turut masuk sambil membawa meja dorong berisi menu makan buat Charlotte.


“Oma.. aku mau disuapi Mama...” ucap Charlotte sambil menatap Nyonya Hanson lalu kembali menatap Alamanda dengan bibir tersenyum.


“Mama...” gumam Nyonya Hanson sambil mengernyitkan keningnya.


“Iya.. Mama Alamanda.” Ucap Marcel lalu dia mengambil tubuh Charlotte dari pangkuan Alamanda lalu Marcel menggendong tubuh mungil Charlotte dan dibawa ke arah sofa Alamanda pun bangkit berdiri dan akan ikut berjalan ke arah sofa, sebab sang pelayan sudah menaruh meja dorong di sana.


Nyonya Hanson menoleh ke arah Alamanda dengan tatapan yang tidak suka. Dan sesaat mata Nyonya Hanson melihat satu kotak perhiasan di atas tempat tidur Marcel.


Nyonya Hanson pun melangkah menuju ke tempat tidur Marcel dan dengan cepat dia mengambil kotak perhiasan itu. Dengan tidak sabar tangan Nyonya Hanson pun cepat cepat membuka kotak perhiasan itu. Kedua mata Nyonya Hanson melotot saat melihat isi di dalam kotak perhiasan itu. Sedangkan Marcel tampak sudah duduk di sofa panjang sambil memangku Charlotte dan Alamanda duduk di sampingnya sedang membawa piring dan mengambilkan makanan untuk Charlotte.


“Marcel!” teriak Nyonya Hanson yang masih memegang kotak perhiasan itu. Marcel pun menoleh dengan ekspresi wajah pabriknya karena kotak perhiasan untuk acara lamaran berada di tangan Sang Mama.


“Sejak kapan kamu menyimpan barang bagus ini? Kenapa kamu merahasiakan ini dari Mama?” tanya Nyonya Hanson.


“Ma, aku baru saja beli itu untuk acara lamaran Ma. Kalau Mama mau jangan yang itu. Mama besok ke toko perhiasan saja.” Ucap Marcel yang langsung berdiri sambil menggendong Charlotte.


“Hmmm perawat itu mendapatkan barang bagus begini..” gumam Nyonya Hanson dalam hati.


“Oma itu buat Mama.. Oma besok cari yang lain saja biar Papa ku yang membayar..” ucap Charlotte yang juga khawatir jika Nyonya Hanson membawa pergi kotak perhiasan itu. Sedangkan Alamanda tampak tenang tenang saja sambil masih melanjutkan mengambil makanan untuk Charlotte, baginya yang utama adalah cinta dan kasih sayang dari Marcel dan Charlotte, masalah barang barang untuk lamaran itu nomor sekian.


“Hmmm okey okey..” ucap Nyonya Hanson lalu menaruh lagi kotak perhiasan itu di atas tempat tidur, sebab dia berpikir besok dia akan ke toko perhiasan dan membeli yang lebih bagus dari itu dan tentu saja dengan uang nya Marcel.


Marcel pun lalu kembali duduk. Alamanda mulai menyuapi Charlotte. Dan Nyonya Hanson melangkah keluar dari kamar Marcel.


Beberapa menit kemudian Charlotte sudah selesai disuapi oleh Alamanda. Charlotte makan dengan lahap, sebab hatinya sangat bahagia duduk dipangku oleh Sang Papa dan disuapi oleh Ners Alamanda yang sudah boleh dipanggil Mama meskipun belum resmi menjadi Mamanya.


Waktu pun terus berlalu hingga malam tiba. Mereka bertiga bercengkerama melepas kerinduan berada di dalam kamar Marcel.


“Mama, kita bobok di sini ya...” ucap Charlotte yang matanya sudah tampak sayu karena sudah mengantuk.


“Charlotte, Maa ma tidur di kamar lain ya.. Besok pagi Mama antar ke rumah sakit.” Ucap Alamanda yang masih agak canggung mengucap kata Mama untuk dirinya.


“Hiks.. maunya Mama bobok di sini, aku bobok dipeluk Mama dan Papa, aku sudah lama sekali tidak bobok sambil dipeluk Mama dan Papa...” ucap Charlotte yang matanya sudah mulai berkaca kaca dan pelan pelan menetes pada kedua pipi Charlotte yang sudah tidak gembil lagi.