Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 117.


“Mau lihat di dalam kamar tidur Tuan. Sepertinya ada suatu keributan kecil.” Ucap Marcel sambil terus melangkah menuju ke pintu kamar tidur. Tuan Ernestan yang khawatir dengan istrinya pun juga ikut segera bangkit dan juga melangkah di belakang Marcel.


Sesaat mereka berdua sudah sampai di depan pintu kamar tidur. Marcel dengan segera membuka daun pintu kamar itu. Tuan Ernest tampak kaget saat melihat Alamanda sedang jongkok di bawah sambil memunguti pecahan kaca gelas yang jatuh.


“Hmmm Mama pasti saat mau ambil gunting menjatuhkan gelas dan membuat mereka terbangun. Gagal mengambil sample rambut Alamanda malam ini.” Gumam Tuan Ernestan sambil memijit mijit keningnya.


Sedangkan Marcel segera melangkah masuk dengan cepat untuk mendekati istrinya yang tampak sibuk.


“Sayang, apa yang terjadi? Siapa yang membanting gelas?” tanya Marcel sambil terus melangkah.


“Bukan membanting gelas Papa... Oma tidak sengaja menjatuhkan gelas minumnya..” teriak Charlotte yang masih duduk di tepi tempat tidur dengan kedua kaki mungilnya menggantung. Sedang Nyonya Ernest masih terbaring dengan punggung bersandar di kepala tempat tidur. Satu tangannya masih menggenggam sample rambut Alamanda dan satu tangannya memegang selembar tisue yang sudah diambilkan oleh Alamanda. Nyonya Ernest masih bingung untuk membungkus sample rambut Alamanda sebab tidak menyangka jika Charlotte terbangun dan Alamanda pun sudah tiba.


“Charlotte kamu jangan turun ke lantai sebelum lantai benar benar bersih.” Ucap Marcel sambil terus melangkah. Marcel pun seperti Alamanda khawatir akan Charlotte yang biasa turun dari tempat tidur dengan telanjang kaki.


“Biar petugas hotel saja yang membersihkan Al.” Ucap Marcel selanjutnya lalu dia menuju ke tempat pesawat telepon dan menghubungi pihak hotel. Sedangkan Tuan Ernest tampak juga melangkah mendekati isterinya.


Di saat Marcel masih sibuk menghubungi pihak hotel dan Alamanda masih melangkah menuju ke tempat sampah. Nyonya Ernest dengan cepat memberikan sample rambut Alamanda pada Tuan Ernest secara diam diam, dan tanpa diketahui oleh Charlotte yang masih menatap Sang Papa nya yang sedang sibuk menelepon pihak hotel .


“Hmmm syukurlah sudah dapat sample rambut Alamanda.” Gumam Tuan Ernest dalam hati dan menggenggam erat sample rambut Alamanda.


“Baiklah, aku keluar untuk membukakan pintu petugas hotel yang akan datang membersihkan.” Ucap Tuan Ernest mendapat kesempatan untuk segera keluar dan menyelamatkan sample rambut Alamanda.


“Nona Charlotte tidur lagi ya.. maafkan Oma Ernest yang sudah mengganggu tidur Nona. “ ucap Tuan Ernest lagi sambil menoleh ke arah Charlotte lalu dia segera melangkah untuk keluar dari kamar.


“Iya Sayang.. Charlotte bobok lagi ya..” ucap Marcel sambil melangkah mendekati Charlotte. Dan selanjutnya Marcel menggendong tubuh mungil Charlotte dia ciumi keningnya dan dia timang timang agar segera tidur pulas lagi, sebab Marcel masih berharap bisa melakukan enak enak dengan sang istri.


Sementara itu di lain tempat. Di salah satu kamar sebuah hotel bintang tiga. Tuan Sam yang masih setengah sadar itu menarik dengan paksa jaket yang dikenakan oleh Eveline.


Eveline tampak hanya menurut saja. Tampak Tuan Sam mendorong tubuh Eveline ke tempat tidur, Eveline pun terjatuh di tepi tempat tidur. Belahan dada Eveline semakin tampak memesona dan juga paha putih mulus Eveline yang memakai dress sexie merah menyala itu.


Tuan Sam menelan saliva nya sendiri sudah benar benar tidak tahan melihat tubuh sintal Eveline yang sering berlatih bela diri itu.


Dan di saat tubuh Tuan Sam akan menindih Eveline, tiba tiba...


CIIIAAAAAATTTTTTTTTT


Satu tendangan yang tidak disangka sangka oleh Tuan Sam dilepaskan oleh satu kaki kanan Eveline dan tepat mengenai wajah Tuan Sam yang sudah tidak sabar ingin mencumbui tubuh mulus nan sintal milik Eveline.


BRUUUKK


Tuan Sam tanpa sempat mengaduh tubuhnya terjatuh sebab kuatnya tendangan Eveline apa lagi high heel lancip Eveline tepat mengenai mulut Tuan Sam.


“Haduhhhhhhh .. kurang ajar benar ini perempuan. “ gumam Tuan Sam sambil memegangi mulutnya yang berdarah. Di saat Tuan Sam berusaha akan bangun dengan segera Eveline yang sudah berdiri itu segera menginjak dada Tuan Sam dengan kuat.


Tuan Sam pun tidak mau kalah tangannya berusaha untuk meraih senjata api yang ada di saku jas.


“Akan aku bunuh kamu malam ini perempuan biadap.” Suara Tuan Sam dengan nada kesal dan penuh emosi.


“Siapa sebenarnya kamu hah?” suara Tuan Sam selanjutnya yang kini tangannya sudah berhasil memegang senjata api yang ada di dalam saku jas. Eveline tidak menjawab dia berkonsentrasi. Mengangkat sedikit kakinya dan selanjutnya menginjak lagi dada Tuan Sam dengan lebih keras.


“Kuraang aaaaajar!” suara Tuan Sam tertekan karena menahan rasa sakit. Akan tetapi Tuan Sam tidak mau menyerah kini tangannya sudah memegang senjata api yang sudah dikeluarkan dari saku jas nya.


“Hmmm kuat juga orang tua ini.” Gumam Eveline dalam hati yang memperkirakan Tuan Sam tak berkutik dengan tendangan kaki kuatnya di dada Tuan Sam.