Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 118.


Tuan Sam menatap wajah Eveline dengan penuh kebencian. Tangan yang memegang senjata api itu segera bergerak dan akan terarah pada tubuh Eveline. Akan tetapi gerakan kaki Eveline lebih cepat dan ... lagi lagi tendangan yang sangat kuat dari kaki Eveline membuat Tuan Sam terkaget dan senjata api itu terlempar jauh dari tangannya. Tuan Sam dengan cepat merangkak berusaha untuk meraih senjata api itu. Akan tetapi kembali tubuhnya ditendang oleh Eveline.


“Jangan bergerak atau kepala kamu yang aku ledakkan Tuan.” Ucap Eveline yang kini tangannya sudah memegang senjata api yang dia keluarkan dari tas tangannya , serta tangan kirinya menarik rambut kepala Tuan Sam dari belakang. Tarikan yang sangat kuat dari tangan kiri Eveline membuat Tuan Sam meringis.


Sesaat terdengar suara yang mengagetkan mereka berdua.


BRRAAAAKK


Pintu kamar itu terbuka dengan paksa sebab didobrak oleh dua laki laki bertubuh tegap gagah dan kekar.


“Nona Eveline maaf kami datang terlambat.” Ucap salah satu laki laki itu dan segera melangkah masuk. Mereka berdua adalah teman teman Eveline yang juga merupakan anak buah Bang Bule Vincent. Mereka berdua disuruh Bang Bule Vincent untuk membantu Eveline karena Bang Bule Vincent menangkap jejak Eveline yang tidak pada rencana semestinya.


“Tidak apa apa. Bawa dia ke markas.” Ucap Eveline sambil menyerahkan Tuan Sam pada dua temannya. Eveline pun segera mengambil senjata api Tuan Sam yang masih tergeletak di lantai.


“Aku mau kembali ke Mansion mau istirahat.” Ucap Eveline sambil melangkah mengambil jaket yang tadi dibuka paksa oleh Tuan Sam.


“Tunggu pembalasanku perempuan biadap!” teriak Tuan Sam yang dibawa paksa oleh dua laki laki teman Eveline.


“Hmmm kamu kira kalau sudah masuk ke dalam markas akan mudah untuk keluar.” Gumam Eveline sambil tersenyum. Dia pun selanjutnya berjalan menuju ke tempat mobilnya terparkir dan akan segera kembali ke Mansion.


“Hmm menunggu perintah Bang Bule Vincent selanjutnya.” Gumam Eveline sambil membuka pintu mobil nya. Di saat Eveline akan masuk ke dalam mobil terdengar dering hand phone dari dalam tas tangannya. Eveline segera mengambil hand phone miliknya yang berdering itu.


“Hmmm baru saja diomongi.” Gumam Eveline saat melihat ada kontak nama Bang Bule Vincent tertera di layar hand phone miliknya melakukan panggilan suara. Eveline pun segera menggeser tombol hijau.


“Sudah otw dibawa ke markas Bang. Terus apa selanjutnya tugas saya.” Suara Eveline yang sudah duduk di jok kemudi dan menutup rapat pintu mobilnya.


“Kamu kembali ke Mansion, cari orang orang yang bekerja sama dengan Sam. Nanti aku share nomor hand phone mereka.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone milik milik Eveline. Dan kemudian sambungan telepon itu pun sudah ditutup oleh Bang Bule Vincent. Eveline pun segera menyalahkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke Mansion Ernestan.


“Sudah bobok kan Tuan, baringkan saja di tempat tidur.” Ucap Nyonya Ernest sambil menepuk nepuk tempat tidur. Sedangkan Marcel yang masih menunggu Nyonya Ernest tertidur, diac belum mau membaringkan Charlotte.


“Iya Pa baringkan saja.” Ucap Alamanda yang sudah berbaring di samping Nyonya Ernest. Mata Alamanda pun sudah terlihat sayu.


“Belum pulas takutnya nanti terbangun lagi, kasihan jadi kaget nanti.” Ucap Marcel lirih beralasan.


“Nyonya silahkan tidur sudah terlalu malam tidak baik buat kesehatan Nyonya.” Ucap Marcel selanjutnya sambil menatap sosok Nyonya Ernest.


“Hmmm pasti anak muda itu ada maunya dengan cucuku. Biarlah aku tidur saja bukannya sample rambut Alamanda sudah aku dapat, biarlah mereka bersenang senang toh aku juga yang untung akan segera mendapat cicit. “ gumam Nyonya Ernest dalam hati lalu dia memejamkan matanya. Di dalam hati Nyonya Ernest tersenyum senang.


Beberapa menit kemudian Marcel yang melihat Nyonya Ernest sudah terlihat terlelap dia sangat bahagia hatinya.


“Akhirnya tiba juga waktu yang ku nanti nanti.” Gumam Marcel dalam hati sambil tersenyum, dia pun melangkah dengan pelan pelan menuju ke tempat tidur dan membaringkan tubuh mungil Charlotte dengan hati hati sekali agar tidak terbangun.


Marcel lalu melangkah memutari tempat tidur itu untuk menuju ke tempat Alamanda terbaring. Tampak Alamanda sudah memejamkan matanya.


“Ma, apa kamu sudah tidur.” Bisik lirih Marcel di telinga Sang istri. Alamanda yang belum terlelap pun membuka matanya.


“Okey, aku gendong Mama, akan aku tunjukkan sesuatu yang indah.” Bisik lirih Marcel lagi yang sangat ingin enak enakan di balkon.


Marcel mengecup lembut kening Alamanda dan segera menggendong tubuh Alamanda yang pasrah karena sudah mengantuk dan tak berdaya.


Marcel melangkah dengan cepat namun hati hati agar tidak menimbulkan bunyi. Setelah sampai di pintu, Marcel pun membuka pintu kamar tidur itu dengan pelan pelan.