
Jantung Alamanda berdebar lebih kencang, dia yang belum pernah masuk ke toko perhiasan mewah itu dan juga tidak tahu tentang seluk beluk perhiasan, benar benar tidak percaya diri. Apa lagi tampak di sekitar lokasi itu hilir mudik mobil mobil mewah dan juga tampak banyak perempuan perempuan cantik cantik dengan penampilan layaknya para sosialita juga berjalan keluar masuk mobil di tempat parkir dan toko perhiasan itu.
“Bagaimana kalau ada Nona Millie di dalam toko itu. Dan dia mengolok olok aku di depan orang orang.” Gumam Alamanda dalam hati yang sekilas tadi melihat seorang perempuan dengan penampilan mirip Millie.
“Ayo turun, apa kamu mau menunggu di dalam mobil.” Ucap Marcel yang dia sudah mematikan mesin mobilnya bahkan sudah melepas sabuk pengamannya. Ucapan Marcel membuyarkan lamunan Alamanda. Marcel pun lalu membukakan sabuk pengaman Alamanda.
Marcel dan Alamanda membuka pintu mobil dan mereka melangkah menuju ke toko perhiasan. Marcel selalu menggandeng telapak tangan Alamanda yang masih dingin.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya. ” sapa pelayan toko perhiasan itu pada Marcel dan Alamanda.
Marcel lalu mengajak Alamanda berjalan jalan di dalam toko itu untuk melihat lihat koleksi perhiasan pada etalase etalase di dalam toko yang besar itu.
“Kamu pilih sendiri mana yang kamu suka.” Ucap Marcel pada Alamanda, tampak Alamanda bingung karena menurut dirinya semua koleksi perhiasan yang ada di toko itu sangat bagus bagus. Berbeda dengan koleksi di toko emas depan pasar tradisional yang pernah Alamanda lihat saat mengantar Nenek Oji membeli kalung saat dapat bagian uang hasil penjualan tanah warisan di kampung.
“Terserah Kak Marcel mau belikan yang mana..” ucap Alamanda lirih sambil menatap Marcel. Sebab ada beberapa perempuan sosialita memperhatikan mereka berdua .
“Aku tidak begitu mengerti tentang perhiasan. Mama dan Patricia biasanya yang memilih sendiri.” Ucap Marcel yang tampak masih melihat lihat perhiasan .
“Saya.. juga tidak tahu..” ucap Alamanda tampak grogi karena beberapa perempuan masih memperhatikan dirinya atau terpesona pada Marcel atau mungkin kedua duanya.
“Hmmm baiklah..” gumam Marcel lalu dia mendongak dan menoleh mencari cari sosok pelayan. Dan setelah melihat sosok seorang pelayan toko perhiasan itu Marcel memanggil dengan melambaikan tangannya. Sang pelayan pun segera melangkah mendekati Marcel dan Alamanda.
“Apa yang bisa saya bantu, Tuan dan Nyonya?” ucap pelayan toko itu dengan santun.
“Tolong ambilkan model terbaru yang limited edition.” Perintah Marcel pada pelayan itu.
“Item apa Tuan?” tanya Sang pelayan.
“Satu set.” Jawab Marcel.
“Mari Tuan dan Nyonya, ikuti saya.” Ucap Sang pelayan itu. Marcel dan Alamanda pun mengikuti langkah sang pelayan itu.
Sesaat kemudian mereka berada di depan suatu etalase. Alamanda tampak memandang dengan penuh kekaguman koleksi yang ada di dalam etalase itu.
“Ini Tuan baru saja datang. Dan hanya ada satu set.” Ucap pelayan itu sambil menunjukkan satu kotak set perhiasan emas putih dengan bertahta hiasan berlian langka kualitas terbaik. Design nya pun sangat cantik dan elegan.
“Baik Tuan.” Ucap pelayan itu lalu menuliskan nota pembelian dan selanjutnya menyerahkan pada Marcel.
“Kak, ini terlalu berlebihan buat aku.” Ucap Alamanda saat sekilas melihat harga satu set perhiasan itu yang sangat fantastis.
“Tidak ada penolakan.” Ucap Marcel sambil sibuk mengusap usap layar hand phone miliknya.
“Sudah aku bayar, dan sudah aku tulis ke mana harus dikirim.” Ucap Marcel yang sudah mentransfer pada nomor rekening toko perhiasan itu.
“Baik Tuan, malam ini juga akan kami kirim ke alamat.” Ucap pelayan toko itu dengan santun sambil mengemas satu kotak perhiasan yang sudah menjadi milik Marcel. Marcel dan Alamanda pun melangkah meninggalkan tempat itu untuk keluar dari toko.
“Aku kirim ke Mansion Hanson dulu, besok aku ngasih nya saat aku datang melamar kamu.” Ucap Marcel sambil tersenyum dan menoleh ke arah Alamanda.
“Terima kasih Kak.” Ucap Alamanda yang masih tampak bingung karena Marcel membelikan satu set perhiasan mewah dan spesial yang tidak pernah terlintas di dalam pikiran nya.
“Hmmmm.” Gumam Marcel sambil merangkul bahu Alamanda dari samping karena melihat wajah bingung sang kekasih hatinya. Marcel pun semakin merapatkan pelukannya dan mereka berdua melangkah meninggalkan toko perhiasan itu menuju ke tempat parkir mobil untuk masuk ke dalam mobil dan melanjutkan belanja kebutuhan lamaran mereka.
Setelah dari toko perhiasan itu mobil menuju pada suatu mall. Dan Marcel membelikan segala macam kebutuhan Alamanda dari alat alat perawatan tubuh dan kecantikan, pakaian mulai dari pakaian dalam sampai gaun gaun malam yang cantik, sopan dan elegan.
“Kak sudah banyak sekali..” ucap Alamanda yang benar benar tidak enak hati sebab Marcel sudah keluar banyak uang untuk membelikan semua itu. Dan Marcel terus saja memaksa agar Alamanda mau. Alamanda masih teringat akan perkataan Nyonya Hanson saat mengatakan dirinya matre. Pasti Nyonya Hanson akan mengulangi ucapannya itu.
“Mungkin cukup dulu ya, nanti kalau kurang kita belanja lagi.” Ucap Marcel sambil tersenyum menatap Alamanda sebab dia sangat senang bisa jalan berdua dengan sang kekasih hati.
“Aku sudah lapar ternyata capek jalan jalan di mall, tapi kenapa Mama tidak ada capek nya kalau jalan jalan di mall.” Ucap Marcel sambil menggandeng tangan Alamanda.
“Kita mau makan malam di mana? Rasanya aku harus makan nasi nih.. perutku lapar banget..” ucap Marcel sambil terus melangkah di samping Alamanda. Semua belanjaan mereka dikirim ke alamat Mansion Hanson tidak lupa Marcel sudah memesan sekalian dikemas spesial untuk lamaran agar dia tidak perlu lagi menyuruh orang.
“Kak, saya sudah menuruti apa mau Kak Marcel sekarang kita makan malam mengikuti selera saya ya...” ucap Alamanda dengan hati hati sebab dia khawatir jika Marcel membawanya ke rumah makan mewah dan semakin malam mereka kembali ke apartemen, belum lagi kalau di rumah makan mewah bertemu lagi dengan para perempuan sosialita dengan gaun gaun malam yang bagus bagus, pasti mereka semua akan memandang sinis pada Alamanda yang hanya memakai blues dan celana kulot sederhana ditambah memakai sepatu flat hitam sepatu yang biasa dia pakai saat bekerja sebagai perawat.
“Hmmm, tapi sepertinya kosa kata saya diganti aku saja biar ga formil gitu..” ucap Marcel sambil terus menggandeng tangan Alamanda.
“Kamu mau makan malam di mana?” tanya Marcel selanjutnya.