
“Saya sebagai orang tua, setuju dengan usul Bang Bule ini, Tuan Muda. Jika sudah saling suka kenapa tidak segera diresmikan saja agar aman semuanya. Resepsi pernikahan bisa belakangan setelah semua masalah selesai.” Ucap Tuan Ernest dengan nada serius.
“Di mana bisa nikah kilat Bang, aku tidak tahu, dulu waktu menikahi Patricia prosesnya panjang..” ucap Marcel sambil tampak berpikir keras.
“Aku punya kontak nya, kalau kamu dan Alamanda setuju akan aku hubungi dia. Kita lakukan pernikahan di sini atau di mana. Biar dia datang.” Ucap Bang Bule Vincent dengan santai.
“Bang Bule ini detektif swasta atau ..... “ ucap Tuan Ernest sambil mengernyitkan dahinya menatap Bang Bule Vincent.
“Ha.. ha... ha... apa saja Tuan yang penting halal dan membantu kemanusian ha... ha... ha...ha..” ucap Bang Bule Vincent sambil tertawa hingga tawanya terdengar oleh Alamanda dan Charlotte yang berada di dalam kamar Alamanda.
“Bang tapi nikah resmi yang diakui oleh negara dan agama kan?” tanya Marcel dengan nada khawatir.
“Iya iya resmi, buku nikah juga langsung dapat kalian nanti. Buku fisik dan digital.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius.
“Baiklah, aku percayakan pada Bang Bule Vincent. Aku tanya pada Alamanda dulu.” Ucap Marcel lalu bangkit berdiri dan melangkah menuju ke kamar Alamanda.
Marcel tanpa mengetuk pintu langsung membuka pintu kamar Alamanda, tampak Alamanda dan Charlotte sedang tiduran di tempat tidur. Charlotte menghadap dan memeluk pada tubuh Alamanda sedang Alamanda membelai belai rambut Charlotte tampak Alamanda sedang berbicara pada Charlotte. Hati Marcel sangat bahagia melihat pemandangan itu.
“Al... “ ucap Marcel sambil melangkah masuk lalu duduk di tepi tempat tidur itu. Alamanda dan Charlotte pun menoleh ke arah Marcel.
“Kita akan nikah kilat, apa kamu setuju.” Ucap Marcel dan mendengar hal itu Charlotte langsung bangun dari berbaringnya.
“Setuju Papa....” suara Charlotte dengan lantang dan tersenyum lebar matanya pun berbinar binar. Sedang Alamanda masih tampak bingung dan dia pun kini juga sudah duduk.
“Papa tanya pada Mama Alamanda dulu sayang...” ucap Marcel sambil mengacak acak rambut di puncak kepala Charlotte.
“Mama harus setuju ya.. Agar kita selalu bersama.” Ucap Charlotte sambil menganggukkan kepalanya pada Alamanda.
“Iya, saya setuju jika demi kebaikan bersama.” Ucap Alamanda sambil tersipu malu. Marcel pun gemas dibuatnya, tiba tiba burungnya sedikit meronta.
“Kalau begitu kita hubungi Mama Hanson dan orang tua kamu. Kita lakukan pernikahan kilat ini di mana? Di sini, di Mansion atau di hotel mana?” tanya Marcel dengan nada serius.
“Kak, lebih baik dilakukan di rumah saya. Agar tetangga tahu jika saya sudah menikah resmi, jadi tidak berpikir buruk pada aku. Maklum Kak di perkampungan gosip mudah berkembang.” Usul Alamanda
“Ooo okey okey... Aku bilang ke Bang Bule Vincent sekarang.” Ucap Marcel lalu bangkit berdiri dan melangkah dengan tergesa gesa tampak ekspresi wajahnya antara senang dan bingung karena akan mengadakan acara penting secara tiba tiba. Alamanda pun juga duduk bengong di atas tempat tidur, dia juga bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Sedangkan Charlotte langsung berdiri di atas tempat tidur sambil meloncat loncat kegirangan.
“Baiklah, aku hubungi dia. Kamu hubungi orang tua kamu dan orang tua Alamanda.” Ucap Bang Bule Vincent lalu dia mengambil hand phone miliknya yang berada di saku celana cargonya.
“Kamu katakan pada mereka seperti apa adanya, ini semua demi kebaikan Charlotte dan kebaikan burung kamu yang sudah lama puasa itu.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya pada Marcel sambil dia mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi kontak nama seseorang yang bisa menikahkan kilat.
Marcel pun juga sibuk dengan hand phone miliknya untuk menghubungi Nyonya Hanson. Sedangkan Tuan Ernest hanya duduk sambil melihat kesibukan dua orang muda itu akan tetapi di hatinya muncul sebersit rasa bahagia.
“Dia akan datang sore hari setelah selesai menikahkan para mempelai yang sudah mendaftar di kantor lebih dulu.” Ucap Bang Bule Vincent setelah selesai menghubungi orang yang akan menikahkan Marcel dan Alamanda.
“Kalau begitu sambil menunggu waktu, kita bisa membahas masalah rekaman percakapan itu. Saya yang tidak bisa tenang sekarang karena masalah di Mansion saya belum selesai.” Ucap Tuan Ernest sambil menatap wajah Bang Bule Vincent.
“Baiklah Tuan.” Ucap Bang Bule Vincent
“Bro kirim rekaman percakapan itu ke aku. Dari mana kamu mendapatkannya.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya pada Marcel yang sudah selesai juga menghubungi Nyonya Hanson.
“Charlotte.” Ucap Marcel sambil mengusap usap layar hand phone miliknya untuk mengirim rekaman percakapan pada hand phone Bang Bule Vincent.
“Hah? Benarkah?” tanya Bang Bule Vincent selanjutnya. Dan Marcel pun menganggukkan kepalanya sambil menceritakan tentang keahlian Charlotte dalam meretas nomor hand phone dan juga mencari cari informasi lewat tablet kesayangan milik Charlotte. Termasuk awal mula keahlian Charlotte hanya karena tidak ingin Sang Papa Marcel memiliki pacar.
“Hmmm kalau dia sudah sehat bisa menjadi anak buah ku Bro...” gumam Bang Bule Vincent akan tetapi Marcel yang sedang sibuk pikirannya dengan acara nikah kilat yang tiba tiba tidak begitu memperhatikan gumaman Bang Bule Vincent. Marcel tampak masih sibuk dengan hand phone miliknya.
“Tuan Muda, bagaimana jika saya dan istri saya juga Bang Bule Vincent mengantar Alamanda pulang ke rumahnya. Saya dan istri saya mencari hotel di dekat dekat sana. Sambil menunggu waktu pernikahan saya dan Bang Bule Vincent bisa melanjutkan perbincangan masalah ancaman pembunuhan Ners Alamanda, rekaman suara Sam dan juga kecelakaan yang menimpa anak dan menantu saya.” Ucap Tuan Ernest sambil menatap Marcel dan Bang Bule Vincent secara bergantian.
“Okey aku setuju Bro, kamu dan Charlotte pulang bersiap siap nanti kamu datang dengan Mama kamu. Kamu jelaskan Mama kamu itu secara langsung, Kalau bicara lewat telepon saja juga bisa bisa salah paham.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya sebab dia tadi mendengar percakapan Marcel dengan Nyonya Hanson yang agak alot.
“Tuan Nyonya Ernest dan Alamanda ikut di mobil ku saja.” Ucap Bang Bule Vincent dan tampak Tuan Ernest yang sudah klik dengan Bang Bule Vincent pun langsung setuju.
Tuan Ernest pun bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya untuk memberi tahu Sang istri. Sedangkan Marcel berjalan menuju ke kamar Alamanda.
Marcel dengan segera membuka pintu kamar, tampak Alamanda sedang berbicara dengan lawan bicaranya lewat hand phone, sedang Charlotte tampak menatap Alamanda dengan bibir tersenyum dan mata yang berbinar binar.
“Sayang.. Kita pulang ke Mansion dulu menjemput Oma untuk melamar Mama Alamanda nanti. Mama juga harus pulang ke rumah untuk bersiap siap.” Ucap Marcel sambil mendekati Charlotte.
“Tapi benar kan Pa, nanti kita ke rumah Mama dan kita bisa bersama sama lagi...” ucap Charlotte yang enggan berpisah dengan Alamanda.