
Mobil berjalan pelan pelan menuju ke tempat parkir apartemen itu. Jantung Alamanda berdetak lebih kencang.
“Jangan takut Ners, aku tidak seperti yang Ners sedang pikirkan.” Ucap Marcel sambil menggenggam erat telapak tangan Alamanda.
“Apa Tuan Marcel bisa membaca pikiranku.” Gumam Alamanda di dalam hati. Sedangkan Marcel masih terus menggenggam dengan erat telapak tangan Alamanda. Dan sesaat kemudian mobil sudah berhenti di tempat parkir.
“Ayo turun.” Ucap Marcel yang tangan satunya membuka pintu mobil dan satu tangannya masih memegang tangan Alamanda. Alamanda pun tangan satunya mengambil travel bag kecil yang ada di dekat kakinya. Lalu mau tak mau dia pun mengikuti Tuan Marcel yang menarik pelan tangannya untuk ikut turun dari mobil.
Marcel masih berdiri sambil memegang tangan Alamanda yang tampak masih bingung. Dan tidak lama kemudian muncul mobil Dokter Willy yang juga masuk ke dalam tempat parkir apartemen itu.
“Dokter Willy. “ gumam Alamanda yang didengar oleh Marcel. Marcel pun tersenyum lagi sebab mendengar nada suara Alamanda yang tampak lega.
“Kamu cek kamarnya!” perintah Marcel pada Sang pengawalnya yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Pengawal itu pun segera melangkah pergi meninggalkan Marcel. Sedangkan Marcel yang masih menggandeng tangan Alamanda melangkah menuju ke tempat mobil Dokter Willy.
Marcel membuka pintu belakang mobil Dokter Willy. Dan tampak sosok Nyonya Ernest yang wajah keriput nya tampak sembab. Tuan Ernest tampak membuka pintu di sebelah tempat duduknya lalu turun dari sana. Dokter Willy pun tampak juga sudah mulai melangkahkan kakinya untuk turun dari mobil.
“Mari Nyonya saya gendong saja.” Ucap Marcel lalu membopong tubuh Nyonya Ernest.
“Ayo ikuti aku.” Ucap Marcel lalu melangkah dengan cepat sambil menggendong tubuh Nyonya Ernest. Alamanda pun mengikuti langkah kaki Marcel yang melangkah dengan cepat. Sedangkan Tuan Ernest dan Dokter Willy menuju ke bagasi mobil untuk mengambil kursi roda dan koper besar milik Tuan Ernest.
Marcel yang masih menggendong tubuh Nyonya Ernest terus melangkah menuju ke lift dan Alamanda pun turut melangkah di sampingnya dan menekan tombol lift sesuai perintah Marcel.
“Suamiku Tuan.” Ucap lirih Nyonya Ernest.
“Nanti menyusul Nyonya, Dokter Willy sudah tahu kamar nya.” Ucap Marcel saat mereka sudah berada di dalam ruang lift. Nyonya Ernest pun hanya bisa pasrah berada di dalam gendongan Marcel sedang Alamanda masih terlihat bingung.
TING
Bunyi alarm lift tanda lift sudah sampai di lantai yang tertuju. Saat pintu terbuka Marcel pun segera menyuruh Alamanda ke luar lebih dulu lalu dia pun juga segera melangkah keluar dari pintu lift itu. Marcel terus melangkah dengan cepat, Alamanda pun terus memgikuti nya. Dan tidak lama kemudian mereka sampai di depan pintu Apartemen milik Marcel dan sang pengawal Marcel sudah berdiri di depan pintu itu dan selanjutnya membukakan pintu buat Marcel.
“Sementara di sini dulu sambil menunggu kasus terungkap.” Ucap Marcel sambil membawa masuk tubuh Nyonya Ernest lalu didudukkan di sofa di dalam kamar Apartemennya itu.
“Apartemen saya Nyonya, lama tidak saya tempati hanya dibersihkan oleh petugas apartemen. Dulu almarhum isteri saya yang sering berada di sini kalau sedang tidak ingin di Mansion Hanson atau di mansion Wijaya. Apartemen ini juga letaknya tidak jauh dari tempat kerja saya.” Ucap Marcel sambil menaruh beberapa botol kecil air mineral di meja.
Tidak lama kemudian pintu apartemen itu terbuka lagi dan muncul sosok Tuan Ernest dan Dokter Willy. Setelah menaruh barang bawaannya pun mereka berdua duduk di sofa.
“Tuan saran saya jangan melaporkan pada polisi tetapi pada detektif swasta saja. Saya punya teman yang bisa dipercaya.” Ucap Marcel setelah Tuan Ernest duduk dengan tenang. Marcel sungguh tidak tega melihat dua orang kakek nenek yang sudah tua tua itu mendapat kasus yang berat.
“Saya sudah tidak bisa berpikir jernih saat melihat semua CCTV mati.” Ucap Tuan Tuan Ernest yang wajahnya tampak terlihat sangat lelah.
“Tapi saya setuju dengan saran Anda Tuan Marcel.” Ucap Tuan Ernest selanjutnya sebab dia teringat kasus dua puluh dua tahun yang lalu juga tidak bisa diungkap secara tuntas oleh pihak kepolisian karena CCTV di garasi dan di depan rumah mati.
“Tolong kami anak muda..” Ucap Nyonya Ernest sambil menatap wajah Marcel
Akan tetapi tiba tiba hand phone milik Marcel berdering. Marcel pun segera meraih hand phone dari saku kemejanya.
“Charlotte” gumam Marcel saat melihat nama Charlotte melakukan panggilan Video. Marcel pun segera menggeser tombol hijau.
“Papa, apa sudah menolong Ners Alamanda?” suara Charlotte dengan lantang wajah imut nya tampak di layar hand phone milik Marcel.
“Sudah Sayang. Sekarang mereka berada di apartemen Mama Patricia.” Ucap Marcel sebab Charlotte menyebut apartemen itu dengan sebutan Apartemen Mama.
“Sepertinya orang yang mengancam Ners Alamanda sudah mematikan semua CCTV di Mansion Ernestan jadi tidak diketahui siapa pelakunya.” Ucap Marcel selanjutnya.
“Papa kirim nomor hand phone Opa kepada ku.” Suara Charlotte dengan lantang lagi.
“Opa siapa? Bukannya kamu tinggal di Mansion Opa.” Ucap Marcel yang mengira Charlotte minta nomor hand phone milik Opa Wijaya, dia tidak tahu jika Charlotte juga memanggil Opa pada Tuan Ernestan.
“Opa Ernestan Papa...” teriak Charlotte lagi.
“Oooh, okey okey tapi ingat Sayang kamu harus cukup istirahat jangan sampai sakit kamu kambuh. Kamu sudah diberi tahu oleh Dokter Willy dan Ners Alamanda kan jika sel kanker bisa muncul lagi meskipun sudah dioperasi.” Ucap Marcel mengingatkan kesehatan puteri semata wayangnya. Karena dia tahu pasti Charlotte ingin meretas hand phone milik Tuan Ernest untuk mencari kontak kontak yang mencurigakan di data hand phone milik Tuan Ernest.