Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 87.


Marcel melangkah pelan pelan ke dalam kamar mandi itu. Tidak ada suara gemercik air baik dari shower atau kran air lainnya.


“Hmm apa dia tiduran di bath up..” gumam Marcel sambil terus melangkah menuju ke tempat bath up yang terhalang oleh dinding ornamen di dalam kamar mandi itu.


Langkah Marcel yang pelan pelan tidak didengar oleh Alamanda yang sedang mempercepat gosokan lulurnya di bagian pantatnya.


“Biar lebih mulus dan bersih, macam almarhum istrinya dulu yang sangat bening berkilau...” gumam Alamanda sambil terus menggosok gosok dia yang miring menghadap dinding tidak melihat jika Marcel sudah berdiri tidak jauh dari dirinya.


Sementara itu Marcel yang melihat Alamanda sedang polos dan sedang menggosok gosok pantat yang putih mulus dan aroma lulur rempah rempah yang harum tercium di hidungnya, membuat terbit gairahnya. Spontan dia menelan saliva nya sendiri. Burung nya yang sudah pensiun dini alias puasa istilah dari Bang Bule Vincent, mendadak bangkit berdiri meronta ronta merindukan sarang yang hangat.


“Boleh aku bantu gosok gosok.” Ucap Marcel dengan suara yang sudah parau.


“Hah? Kak Marcel!” ucap Alamanda yang kaget sambil spontan menoleh ke arah Marcel dan menghentikan kegiatan menggosok gosok pantatnya. Alamanda langsung menarik handuk lebar yang berada di dekat bath up itu dan segera menutup tubuhnya dengan handuk lebar itu.


“Kenapa harus ditutupi, aku sudah boleh melihat semua yang ada di tubuhmu. Kamu sudah menjadi hak milikku yang sah.” Ucap Marcel sambil terus mendekat ke arah bath up. Celana panjang nya terasa semakin sesak karena burung nya yang pensiun dini minta diaktifkan lagi.


“Kak Marcel ke luar dulu sebentar. Aku bilas dulu lulur nya.” Ucap Alamanda yang masih menutupi tubuh polosnya dengan handuk lebar. Pipinya merona merah akibat malu dan takut menjadi satu.


Marcel terus mendekat lalu mencium puncak kepala Alamanda dan turun ke bawah mencium kening dan terus ke bawah menciumi pipi mulus Alamanda, tangan Marcel mengusap usap punggung Alamanda yang mulus dan masih terasa ada sisa sisa lulur berada di sana.


Alamanda hanya pasrah dan menikmati ciuman Marcel yang selalu dia rindu. Tangan Alamanda yang tadi memegang erat handuk lebar kini telah kendor pegangannya.


Di saat Marcel akan mencium bibir Alamanda dan mata Alamanda sudah terpejam.


“Pa....” suara keras Charlotte di luar kamar mandi. Marcel pun menjauhkan kepalanya dari wajah Alamanda dan segera menegakkan tubuhnya. Sedangkan Alamanda langsung membuka matanya dan mempererat lagi memegang handuknya.


“Cepat kamu bilas tubuhmu, dan dilanjut nanti.” Ucap Marcel sambil tersenyum dan mengacak acak puncak kepala Alamanda, lalu membalikkan tubuhnya.


“Sabar ya...” ucap Marcel sambil mengelus burungnya yang minta diaktifkan setelah pensiun dini.


Marcel terus melangkah menuju ke pintu kamar mandi dan segera keluar dari kamar mandi itu. Tampak sosok Charlotte sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


“Mama belum selesai Pa?” tanya Charlotte


“Belum, tadi air mati. Dan Papa betulin dulu.” Ucap Marcel bohong sambil menggandeng tangan Charlotte dan Charlotte mendongak menatap Sang Papa sambil mengernyitkan dahinya.


Mereka berdua terus melangkah ke tempat tidur.


“Aku kan tidak pergi pergi Pa.” Ucap Charlotte yang merasa tidak pergi dari kamar.


“Hmm tapi kan kamu turun dari tempat tidur.” Ucap Marcel sambil membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur pula, agar tubuhnya kembali rileks.


“Pa, Oma Mama baru saja meneleponku.” Ucap Charlotte sambil menatap Sang Papa.


“Oma Wijaya?” tanya Marcel dengan suara sedikit meninggi dan Charlotte mengangguk mantap.


“Bilang apa Oma?” tanya Marcel.


“Mau bicara sama Papa. Katanya menghubungi hand phone Papa ga bisa. Aku bilang hand phone Papa sedang off.” Ucap Charlotte.


“Charlotte jangan mau ya kalau diajak Oma Mama lagi. Bukan Papa melarang kamu berhubungan dengan keluarga Wijaya. Tapi kamu masih sakit, kamu harus diawasi oleh orang yang paham dengan kesehatan kamu. Jika nanti kamu sudah besar dan kamu sudah bisa menjaga sendiri kesehatan kamu , kamu bebas memilih ...” ucap Marcel sambil memeluk tubuh mungil Charlotte.


“Iya Pa, Charlotte mau nya sama Papa dan Mama Alamanda.” Ucap Charlotte sambil memeluk tubuh Sang Papa Marcel.


Sesaat tablet milik Charlotte berdering. Dan anak bapak itu saling mengurai pelukannya. Marcel cepat cepat mengambil tablet milik Charlotte dan benar Nyonya Wijaya melakukan panggilan video.


“Ma..” ucap Marcel saat sudah menggeser tombol hijau.


“Cel, Papa bilang kamu akan menikah dengan perawat itu. Kenapa tidak mengundang kami. Kamu takut ya.” Suara Nyonya Wijaya dengan ketus.


“Maaf Ma, ini karena permintaan Charlotte.. Sel kanker Charlotte muncul lagi Ma...”


“Halah, alasan..” saut Nyonya Wijaya


“Benar Ma, nanti saya kirim hasil lab uji darah Charlotte dan keterangan Dokter juga surat perjanjian Alamanda. Undangan resepsi pernikahan menyusul Ma. Resepsi akan kami adakan saat Charlotte sudah sehat benar.” Ucap Marcel dengan panjang lebar.


“Jadi kamu sudah menikah dengan perawat itu?” tanya Nyonya Wijaya dengan nada tinggi.


“Iya Ma.” Jawab Marcel dan sambungan panggilan video pun langsung diputus oleh Nyonya Wijaya.


“Hmmm semoga tidak mempermasalahkan lagi hak asuh Charlotte.” Gumam Marcel sambil menaruh tablet milik Charlotte.


Dan sesaat kemudian hidung Marcel dan Charlotte mencium aroma harum wangi semerbak. Kedua orang itu menoleh ke arah sumber aroma harum wangi.