
Kedua laki laki urusan Kevin dan Millie itu segera menyempurnakan letak kaca helmnya, dan langsung tancap gas . Orang suruhan Kevin dan Millie yang berada di jok belakang motor alias yang membonceng tangannya sudah siap dengan air keras yang ditaruh di dalam plastik dan jika dilemparkan plastik itu akan pecah dan air keras di dalamnya akan mengenai obyek sasaran.
Akan tetapi tiba tiba ada sebuah mobil hitam yang melaju dengan kencang mendahului motor yang dikendarai oleh dua orang laki laki suruhan Kevin dan Millie itu. Mobil hitam itu berhenti tepat di samping perempuan yang memakai baju putih putih itu. Pintu belakang mobil itu terbuka dan tampak seorang laki laki dengan postur tubuh gagah turun dari mobil dan langsung menarik tangan perempuan yang memakai baju putih putih itu dan dibawa masuk ke dalam mobil. Pintu mobil segera ditutup. Dan mobil hitam itu pun segera berjalan meninggalkan lokasi itu.
Sementara motor orang suruhan Kevin dan Millie karena kaget pengemudi mengerem dengan mendadak dan terjatuh. Air keras yang berada di dalam plastik pun meloncat dan pecah isi di dalamnya tumpah di atas aspal.
“Sial perempuan itu sudah dibawa masuk ke dalam mobil itu!” ucap laki laki suruhan Kevin dan Millie yang bertugas menjadi pengemudi motor. Dia tampak bangkit berdiri lalu menegakkan motornya yang terjatuh.
“Lebih sial lagi kita jatuh dan air keras itu tumpah di jalan. Untung tidak mengenai muka dan tubuh kita.” Ucap laki laki yang membonceng sambil menatap tumpahan air keras di atas aspal. Dia tampak masih terduduk di aspal. Beberapa orang yang ada di sekitar situ tampak ikut membantu mereka mendirikan motor dan pembonceng yang masih terduduk. Untuk sementara mereka berdua tidak berbicara membahas tugas mereka agar tidak didengar oleh orang orang yang berdatangan membantu.
Orang orang yang membantu mereka pun segera meninggalkan mereka, setelah meyakinkan kedua orang yang jatuh itu tidak luka parah dan tidak curiga jika dua orang itu akan berbuat jahat pada salah satu warga setempat.
“Haduh kita bakal kena marah sama Bos Kevin dan Pacarnya.” Ucap yang mengemudikan motor.
“Coba kita tunggu saja di sini. Siapa tahu bukan yang tadi. Siapa tahu sasaran kita belum datang.” Ucap pembonceng memberi ketenangan pada teman dan dirinya sendiri.
“Tapi air keras sudah tumpah.” Saut pengemudi motor.
“Kita buat cara lainnya saja yang penting celaka.” Ucap laki laki suruhan Kevin dan Millie yang berada di jok belakang motor.
“Kok tadi sepertinya perempuan itu dibawa masuk secara paksa macam diculik saja.” Ucapnya lagi dan temannya hanya mengangguk anggukkan kepalanya sambil mengusap usap sikunya yang masih terasa sakit.
Saat mereka masih berbincang bincang, motor Kevin tampak sudah datang mendekat dan motor terhenti di depan mereka. Kevin langsung mematikan mesin motor sport nya.
“Bagaimana?” tanya Kevin sambil menaikkan kaca helmnya.
“Maaf Bos, tadi kita kena musibah jatuh karena mengerem mendadak dan air keras tumpah di jalan.” Jawab laki laki suruhan Kevin dan Millie secara bersamaan.
“Guoblok!” teriak Kevin dengan nada tinggi.
Sedangkan di lain tempat. Mobil hitam yang membawa lari perempuan memakai baju putih putih itu terus berjalan dengan kecepatan tinggi.
“Tuan kenapa saya dibawa masuk ke dalam mobil Tuan?” tanya perempuan yang memakai baju putih putih itu yang tidak lain adalah Alamanda. Tubuh Alamanda masih di dalam pelukan laki laki yang tadi menarik tangannya dengan keras. Laki laki yang turun dari mobil dan menarik tubuh perempuan berbaju putih putih tadi adalah Marcel. Marcel masih terus memeluk tubuh Alamanda dari samping. Dia tadi sudah sangat khawatir dan panik. Sedangkan di samping kanan Marcel duduk seorang bocah cantik jelita sambil tersenyum menatap Marcel dan Alamanda.
“Kita mau antar Ners Alamanda ke rumah sakit.” Ucap Charlotte yang masih menatap Alamanda dengan senyum lebarnya.
“Pasti driver itu menghubungi.” Gumam Alamanda sambil segera mengambil hand phone dari dalam tas kerjanya.
“Batalkan nanti aku transfer untuk mengganti kerugian dia.” Ucap Marcel dengan nada serius.
“Dan mulai hari ini, Henry yang akan mengantar jemput Ners Alamanda. Dia akan menjadi pengawal pribadi Ners Alamanda.” Ucap Marcel selanjutnya setelah Alamanda selesai berkomunikasi dengan sopir taxi on line yang sudah dia pesan. Pengemudi mobil yang bernama Henry yang diberi tugas oleh Marcel itu menganggukkan kepalanya dengan sopan sambil terus fokus mengemudikan mobil.
“Tapi Tuan itu terlalu berlebihan buat saya.” Ucap Alamanda yang merasa tidak pantas memiliki pengawal pribadi. Karena dia tidak tahu jika ada yang akan membuat celaka pada dirinya.
“Jangan menolak.” Ucap Marcel dengan nada serius.
“Iya Ners, tadi Om Henry akan berangkat sendiri tapi aku dan Papa takut jika Ners Alamanda menolak atau tidak percaya pada Om Henry. Jadi hari pertama Om Henry kerja aku dan Papa antar.” Ucap Charlotte masih menoleh menatap Alamanda.
“Tapi aku dan Papa belum mandi ha... ha... ha...” ucap Charlotte selanjutnya sambil tertawa terkekeh kekeh
“Apa aku bau?” tanya Marcel mulai tidak percaya diri akibat kejujuran dari puteri semata wayangnya.
“Iya Tuan.” Ucap Alamanda dan Marcel pun mengangkat lengan kirinya lalu mencium ketiaknya sendiri, dia pun mencium aroma harum parfum nya. Meskipun belum mandi karena tergesa gesa, Marcel dan Charlotte sudah menyemprot tubuh mereka dengan parfum.
“Tapi bau harum kok.” Ucap Alamanda sambil tersenyum dan Marcel pun kembali memeluk Alamanda dari samping. Charlotte terlihat menatap mereka berdua dengan sangat bahagia. Apa lagi dia hari ini diizinkan kembali oleh Sang Papa untuk tidak pergi ke sekolah. Charlotte yang sering bosan di sekolah itu pun hari ini bahagianya berlipat lipat. Bahagia karena Sang Papa bisa menyelamat Ners Alamanda, bahagia karena Sang Papa memeluk tubuh Ners Alamanda dan bahagia karena hari ini tidak pergi sekolah.
Charlotte lalu minta pindah duduk di tengah tengah antar Marcel dan Alamanda. Setelah dia sudah berada di tengah. Dipegangnya tangan kanan Alamanda dan tangan kiri Marcel. Lalu disatukan telapak tangan Alamanda dan Marcel. Charlotte memegang dengan erat dua telapak tangan itu. Dan dengan jenaka dia tersenyum menatap Alamanda yang malu malu dan Marcel yang tampak gugup.
Sedangkan di lain tempat di Mansion Hanson, Millie tampak sudah berada di dalam ruang makan bersama Nyonya Hanson.
“Tante tenang saja, perawat udik itu sekarang tidak bakal didekati oleh Charlotte ataupun Kak Marcel. Percayalah Kak Marcel dan Charlotte akan menjauhi perawat udik itu Tante.” Ucap Millie sambil memotong motong kentang dan daging di atas piringnya.
“Benarkah Millie? Kamu tidak membuat kesalahan lagi kan?” tanya Nyonya Hanson dengan nada dan ekspresi wajah serius menatap Millie.
“Jangan sampai Marcel malah membenci kamu.” Ucap Nyonya Hanson selanjutnya yang khawatir kejadian cangkir kopi terulang yang menyebabkan Marcel marah besar.
“Tenang Tante, kali ini Millie memakai orang lain. Jadi bukan salah Milie.” Ucap Millie sambil tersenyum.
Akan tetapi tiba tiba senyum Millie berhenti. Nyonya Hanson pun juga tampak kaget saat mendengar langkah kaki yang berjalan dengan tergesa gesa dari arah depan.