
“Jangan khawatirkan akan hal itu. Yang penting malam ini kamu harus segera keluar dari Mansion ini. Jangan lama lama cepat kemasi barang barang kamu.” Ucap Marcel dengan nada serius sambil menatap wajah Alamanda yang malu malu.
“Tuan silakan keluar dari kamar dulu. Saya akan berganti baju.” Ucap Alamanda selanjutnya karena dia merasa tidak pantas keluar dari Mansion bersama Tuan Marcel menggunakan piyama tidur.
“Tidak perlu kita tidak memiliki waktu lama. Aku bantu kamu meringkasi barang barang kamu.” Ucap Marcel lalu dia melangkah dengan cepat menuju ke lemari Alamanda untuk mengambil semua baju baju milik Alamanda, dia sudah tidak sabar untuk segera membawa Alamanda keluar dari Mansion Ernestan. Alamanda pun segera meringkasi barang barangnya yang berada di luar lemari. Alamanda tampak malu malu saat Marcel memegang pakaian dalam miliknya yang berada di dalam lemari. Sedangkan Marcel malah berkesempatan untuk melihat ukuran pakaian dalam milik Alamanda.
Sementara itu di dalam kamar Tuan dan Nyonya Ernest. Dokter Willy tampak sudah memberi suntikan pada Nyonya Ernest agar kesehatan Nyonya Ernest tidak terganggu akibat situasi yang mendadak berubah.
Dokter Willy pun tampak mendudukkan Nyonya Ernestan pada kursi roda lalu dia mendorong kursi roda itu untuk keluar dari kamar. Nyonya Ernest masih terus memejamkan matanya kepalanya bersandar pada sandaran kursi roda.
“Sabar Ma... “ ucap Tuan Ernest sambil menarik koper besarnya. Mereka pun segera keluar dari kamar, tidak lupa Tuan Ernest mengunci pintu kamarnya dengan rapat. Dan tidak ada pelayan yang memiliki kunci duplikat kamar Tuan Ernestan.
Dokter Willy mendorong kursi roda Nyonya Ernest dengan cepat. Tuan Ernest pun dengan langkah lebarnya mengikuti langkah Dokter Willy yang terus mendorong kursi roda untuk ke luar dari pintu utama Mansion.
“Tuan... Tuan mau ke mana?” tanya salah satu pelayan yang melihat Dokter Willy dan Tuan Ernestan tergesa gesa berjalan.
“Ke rumah sakit.” Jawab Tuan Ernestan dengan lantang tanpa menoleh. Sang pelayan itu pun berlari mengikuti langkah Tuannya.
Beberapa saat kemudian Marcel dan Alamanda pun juga berjalan dengan cepat. Tangan Marcel menggandeng tangan Alamanda dan tangan kirinya memegang travel bag kecil milik Alamanda. Pengawal Marcel akan membawakan saja tidak diperbolehkan oleh Marcel.
Beberapa pelayan yang mendengar suara kursi roda dan langkah kaki berderap pun turut keluar dari kamar mereka. Mereka kaget saat melihat Alamanda berjalan dengan laki laki muda dan keren bukan penghuni Mansion.
“Ners mau ke mana?” tanya salah satu dari mereka dan Alamanda yang berjalan dengan cepat di samping Marcel itu tampak bingung menjawabnya.
“Ke rumah sakit.” Jawab Marcel dengan nada datar. Dan terus menggandeng tangan Alamanda dengan erat dan semakin mempercepat langkah kakinya.
“Nyonya sakit lagi ya?” tanya pelayan itu sambil ikut melangkah dengan cepat.
Sementara Dokter Willy dan Tuan Ernestan sudah berada di luar Mansion utama. Dokter Willy segera memasukkan Nyonya Ernest ke dalam mobilnya sesuai perintah dari Tuan Ernestan. Dia tidak mau menggunakan mobil miliknya karena CCTV di dalam Mansion yang mati dia khawatir kejadian dua puluh dua tahun silam terulang kembali.
Tidak lama kemudian Marcel dan Alamanda pun juga sudah keluar dari pintu utama Mansion. Alamanda tampak kaget saat melihat sosok Tuan Ernest masuk ke dalam mobil milik Dokter Willy dan terlihat Dokter Willy sedang melipat kursi dorong milik Nyonya Ernest dan memasukkan ke dalam bagasi mobil milik Dokter Willy. Akan tetapi Alamanda tidak berani bertanya pada Marcel sebab Marcel tampak tergesa gesa menarik tangannya agar segera masuk ke dalam mobil milik Marcel yang sudah menyala mesinnya.
“Tuan, apa benar Nyonya Ernest mau dibawa ke rumah sakit. Kasihan dia, saya akan menemaninya.” Ucap lirih Alamanda entah mengapa dia tidak tega meninggalkan Nyonya Ernest.
“Iya kamu nanti akan menemani dia, kasihan orang orang tua itu.” Ucap Marcel dan ucapan itu semakin membuat bingung Alamanda karena katanya Marcel akan membawa dia keluar dari Mansion Ernestan tetapi kenapa dia juga harus menemani Nyonya Ernest. Sedangkan Marcel terus memeluk tubuh Alamanda dan pak sopir terus melajukan mobil menuju suatu tempat yang sudah disampaikan oleh pengawal Marcel.
Mobil yang dikemudikan oleh Dokter Willy pun terus mengikuti mobil milik Marcel.
“Ikuti terus Tuan Marcel.” Perintah Tuan Ernest pada Dokter Willy.
“Pa kita mau ke mana?” tanya Nyonya Ernest yang duduk di samping Suaminya.
“Kita cari tempat yang aman dulu Ma. Aku tidak mau kejadian kelam masa lalu terulang lagi. Tuan Marcel akan melindungi kita dan perawat itu.” Ucap Tuan Ernest sambil mengusap usap pundak istrinya, Nyonya Ernest tampak mengusap wajahnya.
“Aku semakin penasaran dengan perawat itu, kenapa dia mendapat ancaman dari orang dalam Mansion. Kalau hanya pelayan yang cemburu dengan kecantikannya tidak akan mengancam sampai dengan mematikan semua CCTV Mansion.” Ucap Tuan Ernest
“Tuan jika boleh tahu apa yang sudah terjadi di masa lalu?” tanya Dokter Willy memberanikan diri sebab sesungguhnya dia juga penasaran dengan keluarga Ernestan akan tetapi sebelum Tuan Ernest menjawab terdengar suara isak tangis Nyonya Ernest.
“Maaf..” Ucap Dokter Willy dengan suara lirih dan di jok belakang tampak Tuan Ernest sedang menghibur isterinya. Namun suara isak tangis Nyonya Ernest justru semakin keras.
“Archie... Debora kenapa kalian meninggalkan kami begitu cepat... sekarang kami berdua sudah renta tidak ada teman, ada orang yang mirip kamu sedikit menghibur aku saja kenapa ada orang yang tidak suka hiks... hiks....” Ucap Nyonya Ernest di antara isakan tangis nya. Dokter Willy yang mendengar tampak sangat menyesal dengan pertanyaan nya.
“Hah kenapa aku jadi bodoh menanyakan hal itu dan ada Nyonya Ernest. Kenapa aku tidak sabar untuk menanyakan nanti nanti saja.” Gumam Dokter Willy dalam hati. Sambil terus melajukan mobilnya mengikuti mobil milik Marcel yang terus melaju dengan kencang.
Beberapa menit kemudian mobil milik Marcel sudah memasuki halaman sebuah Apartemen mewah. Apartemen milik Marcel.
“Tuan saya mau dibawa ke mana?” tanya Alamanda yang takut takut karena dia tidak dibawa pulang ke rumah orang tua nya atau ke rumah sakit akan tetapi justu ke apartement.
“Apa Ners Alamanda tidak tahu ini adalah sebuah Apartemen.” Jawab Marcel sambil tersenyum dan justru itu membuat Alamanda semakin takut. Alamanda tidak tahu jika mobil Dokter Willy juga terus mengikuti mobil milik Marcel karena Alamanda tidak menoleh noleh dan tidak bisa melihat apa yang ada di belakang mobil dari spion, sebab mobil milik Dokter Willy juga agak jauh di belakang mobil Marcel.
“Apa aku akan dijadikan simpanan Tuan Marcel, dia kan duda pasti sudah merasa kesepian.” Gumam Alamanda dalam hati dia yang takut pun pelan pelan menjauhkan tubuhnya dari pelukan Marcel. Marcel yang merasa tubuh Alamanda berusaha menolak pelukannya, justru semakin menguatkan pelukannya sambil tersenyum senang.