Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 60.


Charlotte tampak biasa biasa saja ekspresi wajahnya karena data data yang dia baca hanya sekedar informasi rencana mereka untuk menuju ke rumah orang tua Alamanda.


“Coba apa ada informasi baru.” Gumam Charlotte lalu mencoba untuk mengupdate data terbaru.


Dan beberapa saat kemudian, ekspresi wajah Charlotte tampak serius.


“Ada nomor hand phone yang menghubungi dia.” Gumam Charlotte saat melihat nomor yang dia retas sedang dihubungi oleh sederet nomor. Charlotte lalu memasang head phone pada kedua telinganya. Charlotte mendengarkan percakapan nomor hand phone yang dia retas itu dengan serius.


Akan tetapi tiba tiba...


“Non.. sudah pegang tablet nya, sekarang tidur nanti dilanjutkan lagi setelah bangun tidur.” Ucap Sang pengasuh akan tetapi Charlotte yang sedang serius mendengarkan pembicaraan lewat head phone tidak mendengar suara sang pengasuh. Sang pengasuh itu pun lantas mendekati Charlotte dan menepuk pelan pundak Charlotte. Charlotte pun menoleh sang pengasuh lalu menangkupkan kedua telapak tangannya dan menaruh pada rahang kirinya lalu kepala sang pengasuh itu miring ke kiri, dan mata kedua pengasuh itu terpejam. Sebagai kode agar Charlotte segera tidur sebab jika sang pengasuh berbicara pasti Charlotte juga tidak akan mendengar mendengar. Charlotte hanya menganggukkan kepalanya. Akan tetapi dia masih saja mendengarkan pembicara di tablet nya lewat head phone. Ekspresi wajahnya pun tampak serius.


Melihat Charlotte yang masih serius dengan tabletnya, sang pengasuh pun lalu menepuk pundak Charlotte dengan pelan dan saat Charlotte menoleh sang pengasuh menunjukkan CCTV yang dipasang di kamar Charlotte. Charlotte pun melepas head phone pada telinganya lalu dia pun memelorotkan tubuhnya karena tadi dia bersandar pada sandaran tempat tidur.


“Nanny aku tidur siang sepuluh menit saja ya..” ucap Charlotte yang tidak mematikan tabletnya dia sudah tidak mendengarkan percakapan nomor yang dia retas namun dia merekam nya dan langsung mengirimkan kepada nomor hand phone milik Sang Papa Marcel.


“Iya Non yang penting tidur siang, nanti saya potret untuk bukti pada Oma Mama.” Ucap Sang pengasuh lalu dia melangkah mengambil hand phone miliknya untuk memotret Charlotte yang sudah terbaring dan mulai memejamkan matanya, dalam hati Charlotte tersenyum dengan ide sang pengasuhnya itu.


Sedangkan di lain tempat di sebuah jalan raya, mobil Marcel melaju dengan kecepatan penuh. Sesaat kemudian terdengar ada suara notifikasi masuk ke dalam hand phone milik Marcel.


“Bang Bule Vincent apa ya, mengabari kalau anaknya sudah lahir.” Gumam Marcel lalu tangan kirinya melepas pegangan kemudi mobilnya dan mengambil hand phone dari saku jas nya.


Marcel lalu sekilas mengusap layar hand phone miliknya.


“Charlotte.” Ucap Marcel saat melihat ada kiriman rekaman suara dari nomor Charlotte. Marcel pun segera membuka isi rekaman suara itu. Marcel menaruh hand phone miliknya pada jok di sampingnya dia masih bisa mendengarkan rekaman suara itu.


Marcel dengan serius mendengarkan rekaman suara akan tetapi dia tetap fokus mengemudikan mobilnya. Di rekaman suara itu terdengar suara dua orang laki laki.


“Kamu ke rumah sakit tempat Nyonya Ernest di rawat dan cari perawat itu. Dia sudah pergi dari keluarga Ernest atau masih bersama Nyonya Ernest. ”


“Baik Tuan.”


“Kalau kamu sudah mendapatkan perawat itu kabari aku.”


“Baik Tuan.”


“Okey, setelah kamu mendapatkan perawat itu akan ada perintah perintah selanjutnya. Aku akan tetap berada di dalam Mansion agar orang orang tidak mencurigai aku.”


“Baik Tuan.”


Rekaman selesai


“Hah! Itu pasti orang orang di dalam Mansion Ernest yang mengancam Alamanda. Tuan Ernest pasti hafal itu suara siapa. Tapi kalau aku kirim rekaman suara itu sekarang, pasti Tuan Ernest akan emosi, pasti akan meneleponku dan bertanya macam macam. Atau bisa bisa malah langsung keluar dari apartemen menuju ke Mansion Ernestan.” Gumam Marcel dalam hati sambil terus melajukan mobilnya menuju ke Hanson Co.


“Hmmm nanti pulang dari kerja saja aku ke apartemen. Aku beri tahu Tuan Ernest tentang rekaman itu dan sekalian aku bisa menemui Alamanda.” Gumam Marcel dalam hati sambil tersenyum membayangkan bisa berjumpa lagi dengan pujaan hatinya.


“Ahaiii bisa juga sekalian mengajak Alamanda keluar untuk membeli kebutuhan lamaran. Good good...” ucap Marcel sambil mengangguk anggukkan kepalanya tidak lupa bibir tersenyum.


“Kalau Charlotte sudah pulang dari Villa bisa aku ajak sekalian. Semoga saja Charlotte sudah pulang.” Ucap Marcel selanjutnya dia pun menambah laju kemudi mobilnya agar bisa segera sampai di Hanson Co dan dia ingin pekerjaannya bisa segera selesai.


Beberapa menit kemudian di ruang kerja Marcel.


“Tuan, nanti jadi meeting jam empat?” tanya Zena sang sekretaris pada Marcel sebab kemarin Marcel menginginkan ada meeting antar divisi setelah jam pulang karyawan.


“Batalkan!” jawab Marcel dengan cepat tanpa menoleh ke arah Zena. Pandangan mata Marcel terus pada berkas berkas di atas meja yang harus dia tanda tangani.


“Benar Tuan dibatalkan acara meeting sore nanti?” tanya Zena minta kepastian.


“Apa suara ku kurang keras atau kamu yang perlu periksa ke dokter THT Zena.” Ucap Marcel masih tanpa menoleh pada Zena.


“Saya hanya ingin memastikan Tuan.” Ucap Zena lalu dia pun mengetik pengumuman pembatalan acara meeting sore hari dan dengan segera dia mengirim di group chat para pimpinan divisi.


Tepat jam empat sore. Marcel mengambil hand phone miliknya dia akan menghubungi Charlotte.


“Charlotte kenapa hanya mengirim rekaman itu dan tidak meneleponku ya.” Gumam Marcel sambil mengusap usap layar hand phone untuk mencari kontak nama Charlotte. Sesaat kemudian panggilan video dengan Charlotte tersambung.


“Sayang, apa kamu sudah pulang? Papa akan jemput kamu kita nanti jalan jalan dengan Ners Alamanda.” Ucap Marcel saat Charlotte sudah menerima panggilan video nya, Marcel tidak mengatakan tentang rekaman suara dua laki laki itu sebab ada Zena di dalam ruang kerjanya.


“Belum Papa, ini aku baru bangun tidur siang.” Ucap Charlotte yang memang wajahnya tampak baru bangun tidur. Akhirnya Charlotte pun tidur pulas tidak hanya sepuluh menit.


“Ooh baiklah nanti segera kamu hubungi Papa kalau sudah pulang.” Ucap Marcel lalu dia memutus sambungan panggilan video nya.


Marcel bergegas meninggalkan ruang kerjanya. Zena menatap kepergian Bos nya dengan kekecewaan, dia yang sejak lama berharap bisa mendapatkan hati Marcel akan tetapi tetap saja gagal total.


“Sial, perawat itu yang bisa mengambil hati Tuan Marcel. Nona Millie aja kalah, apa sih kelebihan perawat itu.” Gumam Zena dalam hati dengan kesal.