Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 23. Air Keras


Hingga tengah malam tiba Charlotte belum juga tidur, Sang Pengasuh sudah mendengkur di atas tempat tidur dorong rendah yang ada di bawah dekat tempat tidur Charlotte.


Sementara itu Marcel yang berada di dalam kamarnya juga belum bisa tidur. Marcel sudah berbaring di atas tempat tidurnya yang luas, berkali kali Marcel sudah mencoba memejamkan kedua matanya akan tetapi pikiran Marcel masih terus saja aktif. Pikiran Marcel berlari lari sesaat dia teringat akan almarhum Patricia lalu pikirannya berpindah pada Alamanda kemudian berlari pada Nyonya Hanson.


“Hmmm Mama pasti akan semakin marah jika aku sudah melunasi hutang hutang orang tua Alamanda.” Gumam Marcel dalam hati sambil membolak balikkan tubuhnya agar mendapat posisi yang bisa membuatnya tertidur dan terlelap. Akan tetapi Marcel belum juga bisa terlelap, jangankan terlelap tidur tidur ayam saja belum juga bisa.


“Charlotte akan melakukan apa lagi ya, kok menyuruh aku tenang tenang saja.” Gumam Marcel dalam hati yang kini pikirannya berganti tertuju kepada puteri semata wayangnya.


Marcel lalu bangkit dari tidurnya dan dia turun dari tempat tidurnya. Marcel melangkah menuju ke pintu kamarnya, dia mengambil kunci cadangan kamar Charlotte yang berada di dekat pintu kamarnya. Dengan segera Marcel melangkah menuju ke kamar Charlotte.


“Hmmm benar anak itu belum tidur.” Gumam Marcel yang melihat lampu di dalam kamar Charlotte masih menyala terang, lewat ventilasi udara di atas pintu. Marcel pun langsung membuka pintu kamar Charlotte.


“Charlotte malam sudah terlalu larut kenapa kamu belum tidur Nak? Besok kamu harus pergi sekolah.” Ucap Marcel sambil terus melangkah mendekati tempat tidur Charlotte.


Charlotte kini sudah tidak memakai head phone akan tetapi dia masih fokus pada layar tabletnya sedang meretas data data Millie yang sedang chattingan untuk membuat rencana jahat pada Alamanda.


“Papa kenapa juga belum tidur bukannya besok Papa harus kerja? Kalau Papa besok bekerja dari Mansion aku juga akan sekolah dari Mansion saja.” Ucap Charlotte tanpa menoleh ke arah Sang Papa.


“Sayang kamu memang bisa belajar dari Mansion. Papa bisa memanggil guru. Tetapi dalam perkembangan kamu, kamu butuh teman teman sebaya kamu, Sayang...” ucap Marcel sambil berjalan mendekati Charlotte dan saat sudah berada di dekat tempat tidur Charlotte. Charlotte meletakkan tabletnya yang sudah tidak aktif.


“Baik Papa, aku akan pergi tidur. Tetapi mulai besok pagi kirim satu pengawal buat Ners Alamanda.” Ucap Charlotte sambil menatap Sang Papa. Sedang Marcel balik menatap Charlotte sambil mengernyitkan dahinya.


“Charlotte kamu omong apa Sayang? Kita baru saja bicara masalah tidur dan sekolah sekarang kamu bilang Papa harus mengirim pengawal buat Ners Alamanda.” Ucap Marcel dengan nada serius sambil menatap Charlotte yang kini sudah berbaring sambil memeluk guling.


“Pokoknya besok kirim pengawal buat Ners Alamanda. Aku ngantuk Papa. Tolong matikan lampu ya Pa....” Gumam Charlotte yang sudah memejamkan kedua matanya. Marcel pun menyelimuti tubuh mungil Charlotte lalu mencium dahi Chaterine dan selanjutnya Marcel meninggalkan kamar Charlotte menuju ke kamarnya.


Sementara di tempat lain, di rumah mewah orang tua Millie. Tepatnya di kamar Millie. Pemilik kamar itu pun juga belum tidur. Millie belum bisa tidur karena dia sangat bahagia. Dia baru saja berkomunikasi lewat aplikasi chatting dengan Kevin dan orang orang suruhan mereka. Besok pagi orang orang suruhan mereka bersama Kevin akan mendatangi lokasi rumah Alamanda. Akan menunggu saat Alamanda keluar dari rumah.


“Hmm aku sudah tidak sabar menunggu esok hari. Melihat perawat udik itu kesakitan dan seluruhnya wajahnya melepuh akibat siraman air keras.” Ucap Millie yang masih duduk di sofa di dalam kamarnya. Bibir Millie tersenyum senang membayangkan wajah cantik alamiah Alamanda yang ia irikan menjadi rusak akibat air keras yang akan disiramkan oleh orang suruhan dia dan Kevin.


Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari... Waktu pun terus berlalu...


Dan keesokan paginya di mansion Hanson, Charlotte pagi pagi sudah terbangun. Sang pengasuh yang sedang memberesi kamar sampai kaget.


“Non, kok sudah bangun? Sebelum Nanny bangunkan.” Ucap Sang pengasuh sambil menoleh menatap Charlotte yang memelorotkan tubuhnya dari tempat tidur. Sambil membawa tablet Charlotte segera berlari keluar dari pintu kamarnya.


“Papa.....” teriak Charlotte sambil mengetuk ngetuk pintu kamar Marcel. Marcel yang masih tidur sampai kaget dan spontan membuka kedua matanya.


“Charlotte anakku sudah bangun apa dia tidak tidur semalam.” Gumam Marcel lalu dia bangkit dari tidurnya.


Dengan cepat Marcel memutar kunci dan segera memutar handel pintu dan menarik daun pintu kamar itu. Tampak sosok Charlotte yang masih memakai piama tidurnya dengan satu tangannya membawa tablet kesayangannya.


“Papa apa sudah mengirim pengawal buat Ners Alamanda?” tanya Charlotte sambil mendongak menatap wajah Sang Papa yang baru saja bangun namun masih saja terlihat tampan.


“Belum Sayang. Tadi malam kan Papa langsung tidur dan baru bangun sekarang ini.” Jawab Marcel lalu menunduk dan mencium puncak kepala Charlotte lalu kedua pipi Charlotte.


“Papa itu gimana sih? Kan aku suruh pagi ini sudah ada pengawal buat Ners Alamanda.” Ucap Charlotte sambil tangan kirinya menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal dan tangan kanannya masih memegang tablet miliknya.


“Sayang ada apa dengan Ners Alamanda? Bukannya dia baik baik saja. Apa Juragan Darman itu akan membuat celaka pada Ners Alamanda?” tanya Marcel dengan nada dan ekspresi wajah bingung.


“Aku belum tahu tentang itu. Tapi Tante Millie dan Pacarnya akan membuat celaka Ners Alamanda.” Ucap Charlotte dengan nada serius


“Pacar?” tanya Marcel kaget sebab dia tidak tahu jika Millie sudah memiliki Pacar yang dia tahu Millie bergaul dengan banyak teman pria dan wanita.


“Aduhhhhh Papa jangan tanya itu dulu. Sekarang juga ambil hand phone Papa dan suruh salah satu pengawal segera ke rumah Ners Alamanda!” ucap Charlotte sambil tangan kirinya menarik tangan Sang Papa untuk diajak masuk ke dalam kamar agar segera mengambil hand phone untuk menghubungi salah satu pengawal keluarga Hanson.


“Cepat Papa agar tidak terlambat.” Teriak Charlotte agar Sang Papa segera memerintahkan salah satu pengawal keluarga Hanson cepat cepat pergi ke rumah Alamanda dan mulai pagi itu juga bertugas menjadi pengawal Alamanda.