Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 29. Bukti


Di saat yang sama di gedung Hanson Co di ruang meeting, Marcel yang baru selesai meeting kaget saat mengaktifkan hand phone miliknya ada notifikasi masuk dari mobil banking miliknya, yang menginformasikan mendapat transferan dari nomor rekening yang tidak asing baginya. Apalagi isi berita adalah pembayaran cicilan hutang.


“Hmmm aku tidak merasa mengutangi dirinya.” Gumam Marcel dalam hati lalu di mengusap usap dan menekan nekan layar hand phone miliknya.


“Tuan, Nona Charlotte tadi menghubungi saya tetapi tidak meninggalkan pesan apa pun.” Ucap Zena yang juga sudah mengaktifkan hand phone sambil membereskan meja. Marcel tampak setelah selesai mengusap usap layar hand phone miliknya dia bangkit berdiri sambil mengusap usap lagi hand phone miliknya untuk menghubungi puteri semata wayangnya. Marcel sambil menghubungi Charlotte terus berjalan meninggalkan ruang meeting, ekspresi wajah Marcel terlihat sangat panik dan penuh emosi.


Kembali ke tempat tanah kosong milik Pak Er Te, di mana ada sebuah mobil berhenti, yang di dalamnya masih ada Henry dan Alamanda yang siap siap turun. Dan tiga laki laki itu sudah siap di atas motornya.


Alamanda yang tidak curiga sedikit pun sudah membuka sedikit pintu mobil akan tetapi dia belum turun dari mobil. Karena Alamanda masih berusaha melarang agar Henry tidak usah mengantar dirinya sampai ke rumah, dia bisa berjalan sendiri di jalan gang kecil itu.


“Sudahlah aku bisa jalan sendiri, aman di jalan itu aku sudah sejak bayi tinggal di sini.” Ucap Alamanda yang tangannya masih memegang pintu mobil yang sedikit terbuka tetapi masih duduk dan menoleh ke arah Henry yang tangannya terulur ke belakang jok untuk mengambil sesuatu. Henry juga masih mengawasi tiga laki laki yang sudah dalam posisi siap di atas motornya akan tetapi belum juga menyalakan mesin motornya.


“Apa Ners Alamanda mengenal mereka?” tanya Henry selanjutnya dengan pandangan masih tertuju pada tiga laki laki yang memakai helm tertutup kaca warna gelap.


“Tidak hafal karena tempat ini biasa untuk mangkal banyak anak jalanan, mereka tidak mengganggu warga di sini kok.” Jawab Alamanda sambil menoleh ke arah tiga laki laki yang belum juga menyalakan mesin motornya, mereka menunggu Alamanda turun dan berjalan menuju ke mulut gang.


“Coba Ners amati mereka jangan turun dari mobil dulu.” Ucap Henry dengan nada santun, Alamanda pun mengamati ketiga laki laki itu lama lama dia pun juga khawatir ketiga laki laki itu mengamati terus ke arah mobil yang mereka naiki. Dia khawatir itu adalah orang orang suruhan Juragan Darman.


“Nona Charlotte mengatakan ada yang berusaha mencelakakan Ners Alamanda. Dan kemungkinan mereka bertiga orang orangnya meskipun belum ada bukti tindakan mereka, baru data chat perencanaan yang didapat oleh Nona Charlotte.” Ucap Henry masih mengamat amati situasi.


“Kita tunggu mereka pergi lebih dahulu. Atau ada jalan lain selain tempat ini?” tanya Henry selanjutnya.


“Ada tetapi jalan kaki lebih jauh. Tempat parkir mobil tidak begitu aman.” Jawab Alamanda yang tampak bingung.


“Biar saya hubungi adik saya agar dia menjemput saya di mulut gang yang di sana.” Ucap Alamanda lalu mengambil hand phone dari dalam tas.


“Sip.” Ucap Henry lalu tampak mereka berdua menutup pintu mobil, Henry terus menjalankan mobil dan Alamanda mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi Jasmine agar menjemput dirinya dengan motor di mulut gang yang satunya.


Saat selesai menghubungi Jasmine, Alamanda kaget saat melihat ada notifikasi yang berisi pesan ada transferan masuk dan lebih kaget lagi transferan dengan jumlah yang sama dengan jumlah nominal yang dikirimkan pada rekening Marcel dan juga dari nomor rekening yang tadi dituju.


“Hmm bagaimana cara aku membayarnya, kalau dikirim balik begini.” Gumam Alamanda dalam hati sambil mencari cari cara. Sedangkan Henry setelah menjalankan mobilnya tampak kaget dan panik karena dua motor, tiga laki laki tadi mengikuti mobil yang mereka naiki.


“Apa mereka membawa senjata api?” tanya Alamanda tampak mulai khawatir.


“Informasi dari Nona Charlotte mereka membawa air keras yang siap dilemparkan pada Ners Alamanda.” Jawab Henry dengan nada serius.


“Hah?” suara Alamanda dengan nada dan ekspresi kaget.


“Ners, di jok belakang ada jaket dan kaca mata Tuan Marcel, gunakan itu untuk pelindung Ners Alamanda dan pakai masker.” Ucap Henry sambil terus fokus mengemudikan mobil.


“Bagaimana jika mengenai Jasmine?” gumam Alamanda yang mulai tampak panik.


“Makanya saya akan antar Ners sampai rumah. Tuan Marcel akan marah jika saya lebih menjaga mobil dari pada Ners Alamanda dan keluarganya. Hubungi kembali adik Ners Alamanda agar kembali ke rumah saja.” Ucap Henry dengan nada serius.


Akhirnya Alamanda pun menurut pada Henry dia menghubungi Jasmine agar kembali ke rumah Dia pun sudah memakai jaket dan kaca mata milik Marcel yang ada di dalam mobil itu, dia juga telah memakai masker pada wajahnya. Demikian juga Henry dia memakai masker pada wajahnya. Kaca mata dan jaket sudah dia kenakan sejak tadi.


Saat mobil sudah sampai di dekat mulut gang. Mobil berhenti dan Henry membuka pintu dengan cepat dan melarang Alamanda keluar lebih dulu. Henry cepat cepat melangkah menuju ke pintu di samping Alamanda duduk dengan cepat dia membuka pintu dan Alamanda pun keluar dengan cepat. Situasi di sekitar jalan gang itu tampak sepi mungkin orang orang sedang ibadah sholat maghrib di rumah atau di Musholla. Hanya ada beberapa orang berjalan dengan cepat cepat. Benar yang dibilang oleh Alamanda tidak begitu aman mobil terparkir di sini, sebab situasi sepi dari pada di lahan kosong milik Pak Er Te.


Saat mereka sudah keluar keduanya berjalan dengan cepat menuju ke gang kecil itu dan benar tidak lama kemudian dua motor itu juga sudah berada di dekat mulut gang, dan...


Wwwwuuuuusssss


Satu buah plastik berisi air keras pun meluncur ke udara tertuju pada tubuh Alamanda dan Henry yang berjalan berdampingan. Dan kedua motor itu terus melaju dengan kencang meninggalkan mereka.


Plastik berisi air keras itu pecah dan mengenai tas kerja milik Alamanda yang digunakan untuk melindungi dirinya.


“Ners apa tangan Ners Alamanda terkena percikan?” tanya Henry tampak khawatir dia tidak menyangka laki laki itu dengan cepat melempar.


“Aku bisa dipecat oleh Tuan Marcel, jika ada tubuh Ners Alamanda yang terluka.” Gumam Henry dalam hati dan wajah tampak panik.


“Sekarang sudah ada bukti jika mereka sudah melakukan kejahatan. Akan aku laporkan mereka pada pihak yang berwajib.” Ucap Alamanda dengan nada kesal. Akan tetapi tiba tiba ada suara dering hand phone dari balik jaket yang dipakai oleh Henry.