Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 111.


Di saat Ibu pelayan sudah menekan nekan tuts pesawat telepon itu. Tiba tiba Eveline yang sudah menyerahkan jasad si Comel pada Bapak Satpam menoleh ke arah Ibu pelayan dan berteriak agak keras.


“Bu! Jangan telepon mereka dulu!” teriak Eveline dan segera melangkah ke arah Ibu Pelayan. Eveline teringat akan kesehatan Nyonya Ernest yang memiliki emosi tidak stabil dan penyakit tekanan darah tinggi.


Akan tetapi terlambat, sambungan telepon sudah ada bunyi nada terhubung.


“Kenapa Non? Nanti saya disalahkan lagi kalau tidak mengabari...” ucap Ibu pelayan sambil memegang ganggang telepon.


“Ingat kesehatan Nyonya Ernest.” Ucap Eveline lalu segera menyahut ganggang telepon dan segera meletakkan pada tempatnya.


KLEK


Sedangkan di hotel bintang lima di kamar Tuan dan Nyonya Ernest. Tuan Ernest yang sedang berdiskusi dengan Marcel. Diskusi nya terhenti karena suara dering hand phone miliknya.


“Dari Mansion. Tapi kenapa sudah mati.” Gumam Tuan Ernest karena sudah berubah menjadi panggilan tidak terjawab. Tuan Ernest menunggu beberapa saat. Akan tetapi tetap saja tidak ada lagi panggilan dari nomor telepon Mansion nya. Tuan Ernest pun segera melakukan panggilan balik.


“Hallo, ada apa?” suara Tuan Ernest saat panggilan nya sudah diterima.


“Maaf Tuan hanya ingin menyampaikan kabar jika Comel belum ditemukan.” Suara Eveline di balik hand phone milik Tuan Ernest. Ibu pelayan tidak berani untuk menerima panggilan suara dari Tuan Ernestan jadi Eveline yang menerima dan dengan terpaksa Eveline berbohong dahulu demi kesehatan Nyonya Ernest.


“Ya sudah, kalian cari lagi besok pagi. Atau kalian beli lagi yang sama seperti Comel agar istriku tenang.” Ucap Tuan Ernest dengan tenang sebab kini sang istri juga sudah lebih tenang di kamar tidur bersama Alamanda dan Charlotte. Tuan Ernest lalu menutup panggilan suaranya dan akan melanjutkan untuk berdiskusi dengan Marcel.


“Bagaimana Tuan? Saya tidur di sofa ini ya?” tanya Marcel setelah Tuan Ernest memasukkan hand phone pada saku kemeja. Kini mereka berdua berada di ruang tamu kamar hotel Tuan dan Nyonya Ernest. Sedang yang lain sudah kembali ke kamarnya masing masing.


“Tidak bisa Tuan Marcel, saya akan tidur di sofa ini karena saya tidak mungkin tidur di dalam, ada Ners Alamanda di sana.” Ucap Tuan Ernest sambil menatap wajah Marcel.


“Tuan bisa tidur di kamar saya atau ambil kamar lagi.” Ucap Marcel sambil tersenyum karena dia masih terus berusaha agar bisa tidur di kamar itu sebab dia berencana akan melanjutkan kegiatan enak enaknya dengan Alamanda.


“Percayalah Tuan, saya akan menjaga Nyonya Ernest.” Ucap Marcel lagi yang pantang menyerah.


“Bukannya saya tidak bisa untuk ambil kamar lagi atau tidak percaya pada Tuan Marcel. Tapi....” ucap Tuan Ernest tidak berlanjut sebab dia juga akan melanjutkan rencananya untuk mengambil sample rambut Alamanda, sebab karena kasus tensi darah Nyonya Ernest yang naik mendadak saat di ruang makan menyebabkan mereka belum menyiapkan gunting atau alat untuk memotong rambut Alamanda di tempat tidur Nyonya Ernest. Kalau dicabut pasti Alamanda akan terbangun dengan kaget.


“Tapi apa Tuan? Saya yang bayar semua tagihan hotel juga tidak apa apa... maaf jangan Bos Tua tersinggung..” Ucap Marcel dengan nada serius.


“Hmmm bukan masalah itu Bos Muda.. Tapi saya tidak bisa jauh jauh dari istri saya...” ucap Tuan Ernest sambil tersenyum menyindir Marcel pengantin baru yang sedang berbuka puasa. Tuan Ernest pun paham dengan maksud Marcel yang keukeuh ingin tidur di sofa.


“Tuan jika Tuan yang sudah puluhan tahun saja tidak bisa jauh jauh dari istri Anda. Apalagi saya Tuan, tidak bisa jauh jauh dari istri baru saya dan puteri tercinta saya...” ucap Marcel dengan wajah memelas.


“Hmmm bagaimana kalau Bos Muda tidur di karpet saja.” Ucap Tuan Ernest sambil menatap ke lantai yang beralas karpet tebal. Dalam hati dia tersenyum pada Marcel yang merupakan cucu mantunya itu, sebab Tuan Ernest sudah yakin jika Alamanda adalah cucu kandungnya.


“Tuan kita pesan extra bed saja ya..” ucap Marcel menawar lagi. Meskipun jika terpaksanya dia pun rela untuk tidur di atas karpet.


“Hmmm baiklah..” gumam Tuan Ernest mengalah. Akhirnya Marcel pun menelepon pihak hotel untuk memesan extra bed. Setelah memesan extra bed tampak Marcel berpikir pikir.


“Di mana nanti aku bermain main dengan Alamanda kalau Bos Tua ada di ruang ini? Apa di kamar mandi?” gumam Marcel dalam hati sebab tadi rencananya main bermain main di atas sofa bersama istrinya. Marcel pun lalu melangkahkan kaki menuju ke pintu penghubung balkon untuk mencari inspirasi.


Sedangkan Tuan Ernest juga sedang berpikir pikir bagaimana caranya untuk mengambil sample rambut Alamanda.