Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 82.


Di rumah Alamanda tidak kalah hebohnya dengan mansion Hanson. Bahkan lebih heboh karena tetangga tetangga yang mengetahui ada acara pernikahan dadakan terus saja kepo. Jasmine dan Iqbal pun kaget saat pulang sekolah karena di rumah ramai ramai ada tetangga di rumahnya dan warung tutup. Jasmine dan Iqbal pun sempat menangis histeris dikira ada yang meninggal salah satu anggota keluarga nya.


Dan kini mereka semua sudah siap menerima kedatangan Marcel dan keluarganya. Alamanda sudah tampil cantik dengan kebaya putih, dia masih duduk di dalam kamarnya ditemani oleh Jasmine dan perias alias make up artist yang kemarin juga merias Alamanda.


“Kalau kali ini aku berharap tidak gagal lagi Kak... semoga pernikahan yang dadakan ini sukses dan langgeng abadi pernikahan Kak Alamanda dan Tuan Marcel.” Ucap Jasmine yang sudah tampil cantik dengan gaun sederhana.


“Al.. ayo keluar. Itu sudah ada tamu datang mencari kamu.” Suara Ibu Irawan di balik pintu kamar Alamanda


“Sebentar lagi pasti Tuan Marcel juga datang. Aku deg deg an nih.. ga bisa omong... Bapak mu sedang menjemput Pak Er Te dan Wak Haji untuk saksi, sudah ditelepon ga diangkat angkat.” Ucap Ibu Irawan lagi.


Alamanda pun keluar dari kamar masih ditemani oleh perias dan Jasmine. Kursi kursi di ruang tamu sudah dikeluarkan dan kini lantai ruang tamu terhampar karpet dan tikar.


Di ruang tamu itu tampak Bang Bule Vincent dan Tuan Ernestan duduk di atas karpet sedangkan Nyonya Ernestan duduk di atas kursi rodanya. Tuan dan Nyonya Ernest memandang Alamanda tanpa berkedip. Karena mereka berdua bagai melihat Debora sang menantu yang sudah meninggal.


Kakek dan Nenek Oji pun sudah duduk manis sambil tersenyum mengangguk angguk.


“Tuan, Nyonya dan Bang Bule maaf.. seperti ini rumah kami...” ucap Alamanda sambil tersenyum lalu dia memberi salam dan duduk bersimpuh di atas karpet itu juga.


“Sebentar lagi Marcel datang. Dia sudah memberi kabar ke aku kalau sudah on the way.” Ucap Bang Bule Vincent yang belum melihat Papanya Alamanda.


“Iya Bang, Papa baru menyusul pak Er Te dan Wak Haji.” Ucap Alamanda.


“Iya sudah disusul oleh Iqbal juga kok belum juga datang.” Ucap Ibu Irawan yang juga sudah ikut duduk di samping Alamanda. Tuan dan Nyonya Ernest terus saja memandangi wajah Ibu Irawan, Kakek Nenek Oji dan Jasmine untuk membandingkan dengan wajah Alamanda dan hal itu justru semakin membuat Ibu Irawan grogi dan panik.


Dan tidak lama kemudian Pak Irawan sudah datang bersama para tetangga yang akan dijadikan saksi pernikahan dadakan Alamanda.


“Maaf maaf ... “ ucap Pak Irwan yang baru saja masuk sambil memberi salam pada Bang Bule Vincent dan Tuan Nyonya Ernest.


“Maaf tadi saya sedang menjelaskan pada para warga yang bertanya tanya.” Ucap Pak Er Te yang juga sudah ikut masuk. Dan benar para tetangga masih saja kepo dengan acara pernikahan Alamanda yang diadakan secara dadakan.


Sementara itu di lain tempat mobil Marcel pun semakin mendekati lokasi rumah Alamanda. Di belakang mobil Marcel ada dua mobil yang mengikutinya akan tetapi bukan mobil Tuan Sam namun mobil para pengawal dan kerabat dekat keluarga Hanson.


Sesaat mobil berhenti di lahan kosong untuk tempat parkir.


“Kok berhenti di sini?” tanya Nyonya Hanson. Sedangkan Marcel langsung membuka pintu mobil.


“Iya Nyonya.” Jawab Pak Sopir yang sudah pernah mengantar jemput Alamanda.


“Seberapa jauh ini harus jalan kaki?” tanya Nyonya Hanson yang berjalan di belakang Marcel.


“Itu Oma, sampai di rumah yang ada orang orang di depan itu.” Ucap Charlotte yang berjalan paling depan.


“Hah? Jauh sekali bisa lecet lecet kakiku. Marcel kamu itu tidak bisa apa cari istri yang rumahnya tidak menyiksa aku begini. Belum menjadi istri saja sudah membuat aku menderita.” Ucap Nyonya Hanson dengan suara keras karena langkahnya semakin tertinggal jauh dari Marcel apalagi Charlotte.


“Mama minta gendong pengawal saja!” suara Marcel dengan keras juga.


“Ogah. Malu tahu. Aku berhenti di sini, sudah tidak kuat jalan.” Suara Nyonya Hanson yang akhirnya berhenti tidak mau lagi melanjutkan berjalan kaki. Digendong tidak mau disuruh copot sandal high heel nya apalagi.


“Nyonya, mobil tidak bisa masuk di jalan gang ini.” Ucap salah satu pengawal yang setia menemani Nyonya Hanson yang mogok jalan.


Dan di saat Nyonya Hanson masih mogok jalan. Ada tiga orang laki laki dengan baju jas lengkap juga berjalan dengan tergesa gesa di jalan gang itu. Ketiga laki laki itu membawa tas hitam yang lumayan besar.


“Lihat itu Nyonya mereka juga berjalan kaki.” Ucap Sang pengawal agar Nyonya Hanson mau kembali melanjutkan langkah kakinya. Akan tetapi Nyonya Hanson masih mogok jalan.


Marcel dan Charlotte sudah sampai di rumah Alamanda. Jasmine menyambut Charlotte dengan bahagia.


“Ayo Bro, petugas yang menikahkan juga sudah tiba katanya sudah berjalan menuju ke rumah ini.” Ucap Bang Bule Vincent saat Marcel sudah masuk ke dalam ruang tamu.


“Mamaku mogok jalan kaki.” Bisik Marcel pada Bang Bule Vincent agar tidak didengar oleh keluarga Alamanda. Bang Bule Vincent pun langsung mengernyitkan dahinya.


Akan tetapi tiba tiba...


“Tante, Omaku mogok jalan, tolong kamu jemput dia dengan motor kamu.” Ucap Charlotte pada Jasmine.


“Baiklah Nona cantik akan aku jemput Oma Nona...” ucap Jasmine sambil tersenyum tidak lupa menoel dagu Charlotte karena gemas.


Akhirnya Nyonya Hanson pun mau dibonceng di motor Jasmine, Meski pun bibirnya masih saja cemberut. Dia yang masih setengah hati menerima Alamanda untuk menjadi menantunya ditambah lokasi dan rumah Alamanda yang menurutnya jauh dari sempurna semakin dongkol hatinya.


Saat masuk ke dalam rumah Alamanda, Nyonya Hanson sangat kaget saat melihat ada Tuan dan Nyonya Ernest berada di dalam ruang tamu itu.


“Tuan dan Nyonya Ernest...” gumam Nyonya Hanson dalam hati.