
Di layar hand phone milik Marcel tampak Charlotte menganggukkan kepalanya.
“Okey Sayang, Papa putus sambungan video call nya, dan segera Papa kirim ke kamu nomor hand phone Tuan Ernest. Ooo iya Oma Papa sudah berada di Mansion Hanson. Besok Papa jemput kamu Sayang...” ucap Marcel lalu dia pun segera memutus sambungan video call dengan puteri semata wayangnya itu. Dan setelahnya Marcel segera mengirim kontak Tuan Ernestan pada Charlotte.
“Tuan dan Nyonya Ernest, hari sudah larut silahkan istirahat dan gunakan apartemen saya ini hingga situasi aman dan kasus terungkap..” Ucap Marcel setelah mengirim nomor hand phone milik Tuan Ernest pada Charlotte.
“Di sini ada dua kamar, Ners Alamanda bisa menempati kamar yang satunya itu.” Ucap Marcel selanjutnya sambil menatap Alamanda lalu menoleh pada satu kamar yang bisa digunakan oleh Alamanda.
“Terima kasih Anak Muda, tapi bagaimana saran kamu tadi, siapa yang bisa membantu untuk mengungkap kasus kami ini.” Ucap Tuan Ernest yang wajah tua nya semakin terlihat berkerut karena memikirkan masalah.
Marcel sejenak diam dia ragu ragu untuk mengatakan jika puterinya bisa meretas nomor hand phone untuk mencari tahu orang orang yang dicurigai. Selain ada kekhawatiran Tuan Ernest pasti tidak akan percaya dengan kemampuan anak kecil, juga karena tidak tega mengandalkan Charlotte untuk mengungkap kasus yang lumayan berat itu.
“Hmmm ooo iya Tuan ada teman saya namanya Bang Bule Vincent.” Ucap Marcel selanjutnya yang teringat akan sarannya tadi untuk memakai detektif swasta dan dia teringat akan temannya yang bisa dipercaya.
“Baiklah Anak Muda, saya minta tolong lagi pada Anda untuk menghubungi dia. Saya belum bisa berpikir jernih ...” ucap Tuan Ernest sambil mengusap wajah keriputnya.
“Baik Tuan Ernest, kalau begitu besok saya hubungi dia.” Ucap Marcel selanjutnya. Marcel pun lalu bangkit berdiri dan mohon diri.
Marcel pun melangkah menuju ke pintu apartemen itu dan Alamanda mengikuti langkah kaki Marcel. Marcel tampak tersenyum karena diikuti oleh Alamanda.
“Hati hati Tuan...” ucap Alamanda saat Marcel sudah membuka pintu apartemen itu.
“Ooo ya aku belum memberi tahu pada kamu pass word pintu ini.” Ucap Marcel sambil menoleh ke arah Alamanda dan dengan cepat Marcel mendekatkan wajahnya di telinga Alamanda. Marcel membisikkan pass word pintu apartemen itu pada Alamanda. Aroma harum rambut dan harum wajah Alamanda membuat jantung Marcel berdebar debar...
Dan sesaat kemudian ...
“I love you....” bisik Marcel dan secara reflek dia mencium pipi Alamanda dengan lembut. Dan kini jantung Alamanda yang berdetak detak lebih kencang, pipi Alamanda pun merona merah keduanya dan pipi yang dicium oleh Marcel rasanya bagai kena setrum listrik atau bagai kesemutan Alamanda yang baru kali itu pipinya dicium oleh seorang laki laki bingung merasakannya. Alamanda hanya bisa berdiri mematung.
“Pamit ya... kamu juga hati hati.. tidak usah keluar apartemen dulu. Segala kebutuhan biar orang orang Ku kirim ke sini.” Ucap Marcel sambil mengusap usap pundak Alamanda. Alamanda hanya mampu menganggukkan kepalanya dan Marcel pun berlalu dan menutup pintu apartemen itu dengan rapat.
“Ners... tolong bantu istri saya masuk ke dalam kamar.” Ucap Tuan Ernest agak keras dan membuat Alamanda tersadar dari terpakunya akibat ciuman dari Marcel.
“Baik Tuan....” ucap Alamanda dan segera membalikkan badan dan langsung melangkah menuju ke sofa untuk membantu Nyonya Ernest duduk pada kursi roda dan membawanya ke kamar.
“Aku harap Mama segera sehat dan bisa segera melamar Alamanda. Baru mencium pipi saja hatiku sangat bahagia...” gumam Marcel dalam hati. Sang pengawal yang tadi menunggu di luar apartemen tidak tahu apa yang terjadi, dia tampak heran melihat Marcel bibirnya terus tersenyum sejak keluar dari pintu apartemen.
“Tuan, apa pelaku yang mengancam Ners Alamanda sudah diketahui?” Tanya sang pengawal sambil membukakan pintu mobil buat Marcel.
“Belum.” Jawab Marcel datar dan singkat sambil masuk ke dalam mobil. Sang pengawal tidak berani lagi bertanya hanya mampu menutup pintu mobil itu dengan rapat lalu dia pun membuka pintu mobil bagian depan dan dia segera masuk ke dalam mobil. Pak Sopir yang sudah siap di atas jok kemudi pun segera melajukan mobil meninggalkan tempat parkir apartemen menuju ke Mansion Hanson. Sang Pengawal masih melihat Marcel yang senyum senyum dari kaca spion depan.
“Apa kamu lihat lihat aku.” Bentak Marcel yang merasa dilihat sang pengawal dari kaca spion.
“Tidak Tuan.” Ucap Sang pengawal lalu menoleh ke arah luar mobil. Mobil pun terus melaju dengan kecepatan penuh.
Sementara itu di Mansion Wijaya. Charlotte yang sudah mendapatkan nomor hand phone milik Tuan Ernest, segera meretas nomor hand phone itu dan melihat data data yang ada di nomor tersebut.
“Kenapa Tuan Ernest, ingin tahu dengan keluarga Ners Alamanda ya...” gumam Charlotte dalam hati saat mendapatkan banyak data yang berisi perintah dari Tuan Ernestan pada dua nomor hand phone untuk mencari tahu keluarga Alamanda.
Charlotte pun berusaha untuk meretas dua nomor hand phone yang mendapatkan perintah dari Tuan Ernestan itu. Charlotte tampak serius dengan layar tabletnya hingga malam semakin larut.
“Non... sudah malam sekali istirahat dulu... dilanjutkan besok pagi.” Ucap Sang pengasuh sambil duduk di tepi tempat tidur Charlotte.
“Sebentar Nanny, kurang tiga puluh persen...” ucap Charlotte yang menunggu semua data dari nomor yang diretas masuk.
Dan baru saja Charlotte selesai bicara pintu kamar Charlotte terbuka dengan lebar dan muncul sosok Nyonya Wijaya.
“Charlotte ini sudah malam kenapa kamu belum tidur?” ucap Nyonya Wijaya sambil melangkah masuk dan berjalan menuju ke tempat tidur Charlotte. Charlotte tampak kaget dan mendongak menatap pada Sang Oma. Dia mengira pintu kamar sudah dikunci oleh Sang pengasuh ternyata sang Oma bisa membuka pintu dengan kunci duplikat .
“Kamu itu juga sebagai pengasuh tidak bisa mengasuh Charlotte, harusnya kamu memberi tahu pada Charlotte paling malam jam sepuluh Charlotte harus sudah tidur dan jam enam pagi bangun.” Ucap Nyonya Wijaya sambil menatap tajam pada Sang pengasuh Charlotte.
“Saya sudah suruh tidur dari tadi Nyonya.” Ucap Sang pengasuh takut takut.
“Ini akibat Charlotte dalam pengasuhan duda yang semua diserahkan pada orang yang dibayar. Anak tidak ada takutnya pada orang yang dibayar oleh Papanya. Oma nya di sana juga cuek karena dia sejak dulu tidak suka pada Charlotte.” Ucap Nyonya Wijaya lagi.
“Maaf Oma, ini sedang ada yang penting sekali.” Jawab Charlotte sambil sekilas melihat layar tabletnya yang menunjukkan data yang diretas baru masuk delapan puluh sembilan persen.