
“Oooh tidak tidak.. tidak masalah namanya juga anak anak..” ucap Tuan Ernest yang terlihat gugup.
“Ayo masuk...” ucap Tuan Ernest selanjutnya. Benar benar bibirnya ingin mengusapkan kata Sayang pada Alamanda, dan tangannya ingin memeluk punggung Alamanda akan tetapi Tuan Ernest masih bisa menahan diri.
“Nah.. ini Alamanda Sus.. sudah menjadi perawat top markotop menjadi perawat nya orang orang kaya. Sekarang sedang menjadi perawat nya Nyonya Ernest. Sebelumnya menjadi perawat Nona Charlotte dan yang sekarang menjadi istri dari Tuan Marcel , papa nya Nona Charlotte ha... ha... ha...” ucap Nenek Oji yang kini memangku tubuh mungil Charlotte. Charlotte sudah bilang minta dibuatkan jamu namun Nenek Oji masih ingin bercerita dengan Suster Rita.
“Ooo makanya Tuan dan Nyonya Ernest mencari saya, karena Alamanda bekerja padanya.” Ucap Suster Rita sambil menatap wajah cantik Alamanda. Suster Rita belum tahu jika Tuan dan Nyonya Ernest mencari dirinya karena hubungan dengan kalung dan liontin milik Debora dan kemiripan Alamanda dengan Debora menantu Tuan dan Nyonya Ernest. Suster Rita belum tahu jika Tuan dan Nyonya Ernest adalah Opa dan Oma kandung Alamanda.
“Hmmm benar, untuk itu saya minta nomor rekening Suster Rita, saya akan memberi hadiah buat Suster Rita. Dan suatu saat saya dan istri saya akan mengundang suster Rita ke Mansion saya. Maaf saat ini kami sedang ada masalah serius.” Ucap Tuan Ernest sedang Nyonya Ernest yang duduk di kursi roda tidak lepas lepas pandangan mata nya pada wajah Alamanda.
“Terima kasih Tuan dan Nyonya. Maaf jika saya ada salahnya.” Ucap Suster Rita yang kini mulai curiga dan menebak nebak jika Tuan dan Nyonya Ernest ada hubungan keluarga dengan almarhumah ibu muda. Setelah mengingat ingat pertanyaan pertanyaan Tuan Ernest, kesedihan Nyonya Ernest juga hadiah yang baru saja diucapkan oleh Tuan Ernest. Dulu yang dia dengar hanya korban kecelakaan itu keluarga kaya, itu saja.
Suster Rita pun memandang wajah Alamanda, kini ada muncul ekspresi kekhawatiran nya pada nasib Alamanda selanjutnya.
“Apa Tuan dan Nyonya Ernest akan mencelakai Alamanda. Kasihan anak ini. Kenapa dulu ibunya meminta saya membawa pergi dirinya..” gumam Suster Rita di dalam hati.
“Apa aku harus menemui suaminya agar menjaga Alamanda dengan baik.” Gumam Suster Rita lagi.
“Benar begitu saja...” gumam Suster Rita selanjutnya. Sedangkan Tuan Ernestan tampak masih sibuk berbincang bincang dengan menantu Suster Rita karena akan mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening Suster Rita.
“Ehm.. ehm... Nenek Oji tolong kenalkan aku pada cucu menantu kamu. Aku akan memberi selamat kepadanya.” Ucap Suster Rita selanjutnya sambil menoleh menatap Nenek Oji.
“Nenek.. ayo buatkan aku jamu kuat...” bisik Charlotte yang sudah tidak sabar.
“Iya Nona.. sebentar..” ucap Nenek Oji pelan.
“Nenek itu tidak sopan!” ucap Charlotte sambil menatap wajah Nenek Oji.
“He... he... he... iya Nona, Nenek hanya bercanda. Ayo kita antar Nenek Suster Rita menemui Papa Marcel.” Ucap Nenek Oji sambil tertawa dan bangkit berdiri menggendong tubuh mungil Charlotte.
Alamanda pun turut mohon diri pada Tuan dan Nyonya Ernest dan Tuan Ernest berpesan agar nanti sore Alamanda datang ke kamarnya karena Dokter Willy akan datang. Tuan Ernest mengatakan jika Dokter Willy akan memeriksa istrinya padahal yang sebenarnya Tuan Ernest meminta bantuan Dokter Willy untuk uji DNA Alamanda.
Sesampai di depan pintu kamarnya , Alamanda segera membuka pintu kamar itu. Sedangkan Nenek Oji dan Suster Rita masih berjalan di belakangan nya.
Saat masuk ke dalam kamar tampak Marcel sedang tiduran di sofa panjang dengan gelisah tampak dia membolak balikkan badannya.
“Sayang.. untung kamu cepat datang..” ucap Marcel lalu bangkit dari tidurnya dan segera melangkah mendekati Alamanda.
“Papa kenapa?” tanya Alamanda tampak kaget melihat wajah Marcel yang memerah dan melangkah tergesa gesa mendekati dirinya.
“Aku sudah tidak tahan.” Ucap Marcel sambil menggendong tubuh Alamanda dan dibawanya menuju ke tempat tidur.
“Pa, jangan sekarang. Itu pintu belum dikunci dan sebentar lagi ada tamu.” Ucap Alamanda sambil meronta minta turun dari gendongan sang suami. Nafas Marcel pun sudah mulai memburu dirasa oleh Alamanda.
“Hah? Aku tidak menerima tamu hari ini.” Ucap Marcel yang masih dengan erat menggendong tubuh Alamanda. Burungnya sudah meronta ronta sejak tadi akibat reaksi jamu super kuat subur laki laki buatan Nenek Oji.
“Mumpung Charlotte ikut Nenek Oji.” Ucap Marcel selanjutnya sambil masih terus menggendong tubuh Alamanda yang terus meronta minta diturunkan, karena Alamanda tahu sebentar lagi Nenek Oji yang menggendong Charlotte dan Suster Rita akan tiba.