
“Rahasia apa?” tanya Nyonya Hanson tampak nada dan ekspresi wajahnya sangat penasaran, kaget dan khawatir menjadi satu.
Charlotte pun segera mengusap usap layar tabletnya. Dan mulutnya berbicara mengatakan jika Millie sudah memiliki pacar bernama Kevin, dan segala rencana Millie setelah pernikahannya dengan Marcel. Termasuk rencana Millie dan Kevin yang mencelakakan Alamanda.
“Tidak mungkin Millie berbuat seperti itu.” Ucap Nyonya Hanson saat Charlotte sudah selesai berbicara.
“Ma, Charlotte punya buktinya.” Ucap Marcel membantu puteri semata wayangnya. Marcel pun lalu meraih tablet milik Charlotte dan memperlihatkan data chattingan Millie.
“Hah, itu kan bisa akal akal kalian berdua saja. Karena kalian berdua sudah tertutup mata kalian oleh perawat itu dan tidak melihat kebaikan Millie sedikit pun. Kalian selalu mencari keburukan Millie.” Ucap Nyonya Hanson yang masih tidak percaya pada Charlotte dan Marcel. Dia masih melindungi Millie.
“Ma, sekarang coba dengar ini, apa ini juga akal akalan aku dan Charlotte.” Ucap Marcel lalu dia membuka data percakapan panggilan suara Millie dengan Nyonya Hanson. Saat mendengar hal itu tampak wajah Nyonya Hanson memerah dan ekspresi wajahnya tampak tegang. Sebab dia benar benar mendengarkan rekaman suara dirinya dan Millie saat melakukan panggilan suara.
Charlotte lalu meminta tablet yang ada di tangan Sang Papa, selanjutnya dia mengusap usap layar tabletnya untuk mencari data rekaman suara percakapan Millie dan Kevin yang merencanakan untuk mengambil harta keluarga Hanson setelah menikah dan rencana meninggalkan Marcel.
“Kurang ajar.” Gumam Nyonya Hanson dengan nada kesal mendalam karena tidak mengira jika Millie yang sangat dia sayangi bagai anak sendiri akan tega melakukan hal itu. Nyonya Hanson pun secara reflek tangannya terulur mengambil botol air mineral di atas meja lalu membuka tutupnya dan menegak hingga habis tuntas.
“Okey, maafkan Oma. Aku akan batalkan perjodohan kamu dengan Millie. Tapi aku tidak setuju jika kamu memiliki isteri perawat itu. Macam kurang perempuan saja.” Ucap Nyonya Hanson selanjutnya setelah menghabiskan satu botol air mineral sambil menatap tajam ke arah Marcel.
“Ma, banyak perempuan dari kalangan terpandang. Tapi susah mencari perempuan yang tulus mencintai Charlotte, Ma. Buat apa aku bahagia kalau Charlotte anak satu satuku menderita.” Ucap Marcel lalu meraih tubuh mungil Charlotte dan dipangkunya, dia usap usap rambut kepala Charlotte dengan penuh cinta dan kasih sayang lalu dia cium dengan lembut puncak kepala Charlotte. Bagi Marcel, Charlotte lah harta dan kenang kenangan terindahnya dari almarhumah Patricia Wijaya istri tercintanya.
“Sekarang tinggalkan aku, sudah jam makan siang lewat kalian makan sana. Aku belum lapar.” Ucap Nyonya Hanson dengan nada datar, ekspresi wajahnya tampak sedih, panik, marah dan kecewa menjadi satu.
“Baik Ma, aku habis makan juga akan kembali ke Hanson Co. Mama harus tetap makan.” Ucap Marcel sambil menatap wajah Sang Mama dengan tatapan serius. Marcel pun tidak ingin jika Sang Mama sakit karena kecewa dengan berita yang baru saja didengar.
Marcel lalu menggendong tubuh Charlotte berjalan meninggalkan kamar Nyonya Hanson, untuk menuju ke ruang makan.
“Aku harus menghubungi Leli.” Gumam Nyonya Hanson selanjutnya lalu bangkit berdiri untuk mengambil hand phone miliknya yang berada di atas nakas. Dia akan menghubungi Leli Donald, sahabatnya yang tidak lain adalah Mamanya Millie.
Setelah mengambil hand phone miliknya, Nyonya Hanson mengusap usap layarnya. Setelah menemukan kontak nama Leli Donald, Nyonya Hanson akan menekan tombol simbol telepon. Dia akan melakukan panggilan suara akan tetapi ekspresi wajahnya tampak ragu ragu. Lalu dia membatalkan keinginannya. Nyonya Hanson pun lalu meletakkan hand phone miliknya di atas tempat tidur dan dia pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur itu. Nyonya Hanson tampak berpikir pikir dengan serius. Nyonya Hanson pun lalu memejamkan matanya, tampak air meleleh dari ujung kedua matanya yang terpejam itu.
Hampir satu jam Nyonya Hanson berbaring di atas tempat tidurnya dengan mata terpejam akan tetapi tidak tidur. Air mata yang meleleh dari kedua matanya berkali kali dihapusnya akan tetapi berkali kali pula terus mengalir. Dan di saat air mata sudah tidak lagi keluar. Nyonya Hanson bangkit dari tidurnya, dia duduk di tepi tempat tidur sambil mengambil lagi hand phone miliknya. Kini dia sudah memantapkan hati untuk menghubungi sahabatnya.
“Heiii bestie benar benar kita ada ikatan batin yang kuat, baru aja aku akan menghubungi kamu. Aku masih di New zealand, tapi Millie baru saja menghubungi aku katanya mau menyusul ke sini. Dia bilang ingin agar pernikahan dipercepat.” Suara seorang perempuan di balik hand phone milik Nyonya Hanson.
“Lel aku akan mengatakan hal yang sangat penting.” Ucap Nyonya Hanson lalu dia terdiam tampak sedang memikirkan cara merangkai kata.
“Apa, cepat katakan? Soal cucu laki laki percaya dech pasti akan dapat.” Suara Leli Donald itu lagi di balik hand phone milik Nyonya Hanson.
“Leli, aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar Marcel mau menikah dengan Millie, namun dia tetap menolak. Kita batalkan saja perjodohan ini.” Ucap Nyonya Hanson selanjutnya.
“Halah masalah itu gampang namanya laki laki nanti kalau dijadikan satu kamar setiap hari lama lama juga suka lalu tuman.” Suara Leli Donald lagi dengan keras.
“Tidak Lel, lebih baik kita batalkan saja perjodohan ini. Aku ceritakan selengkapnya setelah kamu pulang.” Ucap Nyonya Hanson selanjutnya.
“Nyonya Hanson yang terhormat, jika kamu batalkan perjodohan Marcel dan Millie, aku akan bongkar rahasia kamu yang menyebabkan suami kamu itu meninggal karena sakit jantung!” suara Leli Donald dengan nada tinggi di balik hand phone milik Nyonya Hanson.
“Lel, tolong jangan katakan pada Marcel. Kamu mau aku transfer berapa akan aku kirim dengan segara tetapi tolong jangan katakan pada Marcel.” Ucap Nyonya Hanson penuh permohonan dengan nada dan ekspresi wajah yang tampak khawatir.
“Ha... ha... ha... mauku adalah... teruskan rencana pernikahan Marcel dan Millie atau aku bongkar perselingkuhanmu dengan Wijaya.. ha... ha... ha.... Ingat itu aku bongkar perselingkuhan mu dengan Wijaya ha... ha... ha... Dan kamu tidak akan punya muka lagi ha... ha... ha....“ suara Leli Donald sambil tertawa terbahak bahak lalu sambungan telepon itu terputus. Nyonya Hanson tampak gemetar seluruh tubuhnya, keringat dingin keluar dari seluruh pori pori kulitnya dan dia pun lalu terbaring lagi di atas tempat tidurnya. Lemas tak berdaya.