Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 64.


Sementara itu di apartemen, setelah Marcel dan Alamanda keluar dari pintu apartemen, Tuan Ernest masih duduk dan ekspresi wajahnya tampak berpikir dengan keras.


“Kurang ajar Sam, kenapa dia berbuat jahat pada perawat yang baru saja hadir di Mansion. Apa urusan dia pada perawat itu.” Gumam Tuan Ernest yang masih memikirkan rekaman percakapan dari hand phone milik Marcel.


“Untung saja dia akan ikut campur masalah perusahaan tidak aku izinkan. Pasti dia juga akan mengancam orang orang yang tidak dia suka.” Gumam Tuan Ernest lagi saat ingat kalau Tuan Sam pernah menawarkan diri untuk ikut membantu mengurus perusahaan akan tetapi saat itu Tuan Ernest tidak mengizinkan karena masalah profesional kerja saja, agar Tuan Sam fokus mengurus semua tentang Mansion dan Tuan Ernest tidak menaruh curiga pada Tuan Sam. Karena semua pekerjaan Tuan Sam pun terlaksana dengan baik. Di saat Tuan Ernest masih berpikir pikir, tiba tiba...


“Pa.......” suara Nyonya Ernest dari kamar tidur di apartemen itu. Tuan Ernest pun langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar tidur memenuhi panggilan sang istri.


“Paaaaa....” suara Nyonya Ernest lebih keras.


“Iya Ma, ini baru jalan...” suara Tuan Ernest juga keras agar sang istri mendengar dan tidak memanggil manggil lagi.


Dan sesaat kemudian..


“Papa lama sekali sih, aku sudah lapar tadi Ners Alamanda katanya yang memasak untuk makan malam kita.” Ucap Nyonya Ernest saat Tuan Ernest sudah membuka pintu. Tampak Nyonya Ernest sudah duduk di kursi rodanya karena tadi Alamanda memang sudah mendudukkan Nyonya Ernest di kursi rodanya agar Tuan Ernest tidak kesulitan menaruh sang istri di kursi roda di saat tidak ada Alamanda.


“Nama nya juga orang tua Ma, bangkit dari tempat duduk dan jalan harus hati hati agar tidak salah urat.” Ucap Tuan Ernest sambil mendekati kursi roda sang istri.


“Ma, aku sudah mengatakan jika perawat itu mirip dengan Debora.” Ucap Tuan Ernest sambil mendorong kursi roda sang istri keluar dari kamar tidur.


“Kenapa Papa katakan pada dia sekarang bagaimana kalau dia terus mengaku aku saudaranya Debora.” Ucap Nyonya Ernestan


“Aku rasa tidak Ma, bukannya sudah terbukti mereka tidak mengenal keluarga Debora.” Ucap Tuan Ernest sambil terus mendorong kursi roda sang istri menuju ke meja makan.


“Aku terpaksa mengatakan karena ada informasi sangat penting Ma. Mama jangan kaget ya, dan sabar kita selesaikan masalah ini dengan hati hati.” Ucap Tuan Ernest sambil menempatkan kursi roda Nyonya Ernest pada posisi di dekat meja makan.


“Apa Pa? Apa sudah dapat informasi mengenai keluarga perawat itu. Perawat itu lahir di rumah sakit yang sama tempat Archie dan Debora ditangani saat kecelakaan dulu Pa.” Ucap Nyonya Ernest dengan nada serius sambil menoleh menatap Sang suami.


“Benarkah Ma?” sekarang malah Tuan Ernest yang tampak kaget.


“Iya Pa, aku jadi berkhayal apa mungkin bayi yang dilahirkan oleh Debora masih hidup dan tertukar di rumah sakit dan bayi itu adalah perawat yang sekarang merawat diriku.” Ucap Nyonya Ernest yang air matanya mulai berlinang.


“Sabar Ma, kita selesaikan masalah ini secara bertahap, nanti jika tiba saatnya kita bisa secara baik baik atau secara sembunyi sembunyi melakukan test DNA pada perawat itu. Tuan Marcel sudah memberi pesan pada kita agar tidak gegabah. Kita baru mencari informasi tentang keluarga perawat Alamanda saja. Sam sudah mengancam perawat itu.” Ucap Tuan Ernest lalu memasang meja khusus di depan Nyonya Ernest karena Tuan Ernest tidak percaya diri untuk mengangkat tubuh Sang Istri memindahkan pada kursi makan, jadi Nyonya Ernest tetap duduk di kursi rodanya.


“Pa, apa yang Papa bilang ? Sam yang sudah mengancam perawat itu?” tanya Nyonya Ernestan dengan nada serius sambil menatap Tuan Ernest yang kini sudah duduk di kursi makan dan siap melayani sang istri.


“Iya Ma, sudah ada bukti percakapan Sam yang mencari perawat itu dan kita di rumah sakit.” Ucap Tuan Ernest.


“Kurang ajar, orang tidak tahu diri. Pecat dia sekarang juga Pa!” suara Nyonya Ernest dengan nada tinggi.


“Sabar Ma, ingat tekanan darah tinggi mu.” Ucap Tuan Ernest lalu memberikan satu gelas berisi air mineral pada Sang istri.


Sedangkan di lain tempat di jalan raya, mobil yang membawa Marcel dan Alamanda terus melaju.


“Kita ke mana dulu Al.. belanja dulu atau makan dulu?” tanya Marcel yang masih mengemudikan mobilnya, Marcel menoleh sekilas sambil tersenyum.


“Terserah yang mengajak.” Ucap Alamanda sambil tersenyum dan menoleh ke arah Marcel.


“Kalau terserah aku, aku ajak putar putar kota saja he... he... he...” ucap Marcel sambil tertawa kecil dan terus fokus pada kemudi mobilnya. Dia hanya menggoda pada Alamanda yang sebenarnya dia sudah punya tujuan ke mana pertama kali tempat tujuan nya.


“Belanja dulu saja Kak, aku belum lapar. Nanti kalau kemalaman kita bisa makan di apartemen saja, tadi aku masak agak banyak kok pasti cukup masakan yang masih ada di dapur.” Ucap Alamanda dengan nada serius sambil menoleh menatap Marcel dari samping dan Alamanda pun mengagumi wajah calon suami nya itu.


“Dari samping saja ganteng banget begitu makanya Nona Millie ingin menjebaknya.” Gumam Alamanda dalam hati dan masih memandangi wajah Marcel dari samping.


“Jangan lama lama kamu melihatku nanti pasti kamu mimpi kan aku.” Ucap Marcel sambil tersenyum dan tetap fokus pada kemudi mobilnya. Alamanda pun langsung tersentak dan memalingkan muka. Marcel yang tahu itu gemas dibuatnya lalu tangan kirinya melepas pegangan kemudinya dan terulur pada puncak kepala Alamanda.


“Tak apa Sayang pandang aku sepuas kamu dan mimpi kan aku selalu.” Ucap Marcel sambil tangan kirinya mengacak acak rambut di puncak kepala Alamanda sambil menoleh sekilas. Lalu Marcel kembali kedua tangan nya memegang kemudi mobilnya dan pandangan mata lurus ke depan namun bibirnya terus tersenyum. Alamanda pun tersenyum dan kedua pipinya merona.


Beberapa menit kemudian mobil memasuki halaman suatu toko perhiasan ternama di kota itu.


“Kita ke sini dulu ya...” ucap Marcel yang sudah biasa ke toko perhiasan itu untuk mengantar Mama atau almarhum istrinya dulu. Sedangkan Alamanda baru pertama kali itu, seumur umur dia belum pernah ke toko perhiasan untuk membeli perhiasan. Anting yang terpasang di telinga nya itu adalah anting yang dipakai sejak bayi yang membelikan Mama dan Papanya di toko emas yang ada di depan pasar tradisional. Pernah dia berkeinginan untuk membeli perhiasan dengan uang gajinya namun selalu dia batalkan karena uangnya lebih penting buat biaya sekolah adik adiknya atau untuk tambah modal warung.