Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 81.


“Okey okey.. nanti di saat melewati jalan yang sepi aku bisa melepaskan satu dua peluru.” Gumam Tuan Sam sambil tersenyum miring, hanya satu sudut bibirnya saja yang terangkat.


“Ha... Ha... Ha.. atau aku salip dari kiri aku pepet di saat arus dari depan ramai...” ucap Tuan Sam sambil tertawa karena mobil memang sudah memasuki jalur dua arah.


Sementara itu mobil Bang Bule Vincent terus melaju menuju ke lokasi rumah Alamanda. Tuan Nyonya Ernest dan Alamanda sejak tadi masih menceritakan tentang Charlotte. Bang Bule Vincent menyimak sambil fokus mengemudikan mobilnya, akan tetapi jiwa detektifnya sudah merasakan ada satu mobil yang membuntuti mobilnya.


“Ada satu mobil yang mengikuti kita, tapi Tuan Nyonya dan Ners Alamanda tenang saja. Apa Tuan mengenal mobil yang ada di belakang kita itu.” Ucap Bang Bule Vincent sambil terus fokus pada kemudi mobilnya.


Tuan Ernestan lalu tampak melihat spion untuk mengamati mobil di belakang.


“Sepertinya tidak.” Gumam Tuan Ernest dengan ekspresi wajah yang tampak berpikir mengingat ingat. Dia memang tidak mengenali mobil yang dikemudikan oleh Tuan Sam, sebab Tuan Sam memakai mobil yang tidak biasanya dia pakai.


Alamanda yang penasaran pun secara hati hati dan pelan pelan menoleh ke belakang untuk melihat mobil yang dibilang oleh Bang Bule Vincent membuntuti. Dan jantung Alamanda berdetak lebih keras saat tahu sosok yang ada di dalam mobil itu.


“Tuan Sam, itu Tuan Sam....” ucap Alamanda dengan suara bergetar karena takut.


“Benar dia Tuan Sam.” Ucap Alamanda lagi. Tampak ekspresi wajah Tuan dan Nyonya Ernest sangat panik.


“Okey. Tenang semua, pastikan sabuk pengaman terpasang dengan baik.” Ucap Bang Bule Vincent lalu dia menambah laju kecepatan mobilnya.


“Orang itu masih mencari Ners Alamanda. Kalau dia masih mengikuti kita, terpaksa aku harus mengecohkan dia. Kalau dia tahu rumah Ners Alamanda itu akan berbahaya buat keluarga Ners Alamanda.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya sambil terus melajukan mobilnya dengan sangat kencang bagai terbang. Tuan dan Nyonya Ernest sudah tidak lagi bisa berkata kata. Dua orang lanjut usia itu hanya bisa memejamkan mata dan menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran jok, sambil berdoa ... pasrah....


Sementara itu Tuan Sam, mengumpat habis habisan karena tidak bisa mengejar laju mobil yang dibawa oleh Bang Bule Vincent. Keahlian Bang Bule Vincent dalam mengemudikan mobil ditambah mesin mobil yang sudah dimodifikasi sedemikian hingga untuk mendukung pekerjaannya, membuat Tuan Sam benar benar menyerah dari pada ditangkap polisi lalu lintas atau dia sendiri mengalami celaka.


“Sial! mereka mau ke mana? Mereka tahu kalau aku kejar. Sepertinya perawat tadi mengenali aku. Terus siapa orang yang membawa mobil itu. Apa dia masih keluarga Tuan dan Nyonya Ernest.. Apa keluarga yang di luar negeri pulang... Apa Tuan dan Nyonya Ernest mau dibawa keluar negeri.” Gumam Tuan Sam


“Hmmm kalau begitu lebih baik aku ke Mansion Ernest saja. Coba aku cari surat surat penting mereka. Dan aku harus sudah stand by di Mansion sebelum mereka sampai Mansion.” Ucap Tuan Sam sambil melajukan mobilnya yang sudah kehilangan jejak mobil Bang Bule Vincent.


Waktu pun berlalu dan mobil Marcel pun telah sampai di Mansion Hanson. Mereka bertiga segera masuk ke dalam Mansion.


“Mama... “ teriak Marcel saat melihat sang Mama terbaring di sofa panjang ruang keluarga.


“Oma.. ayo kita bersiap siap untuk melamar Mama Alamanda. “ teriak Charlotte di dalam gendongan Marcel. Marcel terus melangkah mendekati Sang Mama yang masih terbaring dengan mata terpejam.


“Ma...” ucap Marcel saat sudah di dekat Nyonya Hanson.


“Ma, ini demi Charlotte..” ucap Marcel yang sudah duduk di sofa sambil memangku Charlotte. Marcel lalu menjelaskan jika sel kanker di dalam tubuh Charlotte muncul lagi dan Bang Bule Vincent yang menguruskan nikah kilat itu, yang penting sah secara agama dan negara untuk resepsi bisa belakangan hari. Yang utama saat ini hati Charlotte bahagia.


“Charlotte cucuku...” ucap Nyonya Hanson yang sudah duduk lalu dia memeluk tubuh mungil Charlotte, diciumi wajah Charlotte, Nyonya Hanson kini tidak mau kehilangan Charlotte cucu satu satunya dari rahim menantu keluarga terpandang.


“Ayo Oma kita siap siap...” ucap Charlotte sambil tersenyum bahagia, Charlotte sudah tidak sabar untuk ke rumah Alamanda.


“Kita makan dulu Sayang.. Papa sangat lapar..” ucap Marcel sambil mengusap usap puncak kepala Charlotte.


Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Matahari sudah condong ke barat, sinarnya pun sudah mulai meredup tidak lagi menyengat.


Marcel sudah tampil dengan pakaian lengkap celana panjang berwarna putih dan jas pun juga berwarna putih. Dengan gagah Marcel keluar dari kamar karena Charlotte sudah berteriak teriak memanggilnya agar segera keluar dan berangkat ke rumah Alamanda.


“Ayo Papa cepat....” teriak Charlotte yang sudah tampil cantik dengan gaun putih berenda renda lembut. Rambutnya pun dihiasi bando cantik senada dengan gaunnya, sepatu pantofel putih cantik pun menempel di kaki mungilnya disertai kaos kaki putih berenda pula.


“Ayo Sayang..” ucap Marcel yang sudah membuka pintu kamar di tangannya membawa kotak perhiasan untuk Alamanda.


Nyonya Hanson pun sudah siap dengan memakai baju kebaya brokat kualitas terbaik dengan warna mocca. Sungguh tampak cantik dan elegan meskipun usia paruh baya. Tidak lupa dengan tas tangan dan sandal high heel yang satu set dengan pakaiannya itu.


Marcel dan Charlotte menuruni anak tangga dengan hati berbunga bunga. Sang pengasuh pun turut berjalan di belakangnya dengan tidak memakai baju seragam akan tetapi memakai baju batik.


Sesaat mata Marcel melihat sandal yang di pakai oleh Sang Mama.


“Ma.. sandal yang dipakai Mama ganti saja, yang tidak terlalu tinggi begitu, nanti pakai jalan kaki Ma..” ucap Marcel saat ingat untuk ke rumah Alamanda harus jalan kaki masuk gang.


“Ya tidak bisa ini sudah satu set. Mama sudah biasa jalan kaki pakai high heel.” Ucap Nyonya Hanson lalu melangkah ke pintu utama Mansion.


“Pokoknya aku sudah mengingatkan pada Mama.” Ucap Marcel sambil tangan satunya menggandeng tangan Charlotte.


“Cel kamu sudah memberi tahu pada orang tua Patricia belum?” tanya Nyonya Hanson sambil terus melangkah di depan Marcel.


“Sudah Ma, tapi ke Papa Wijaya, kalau ke Mama Wijaya pasti akan sangat lama untuk menjelaskannya.” Jawab Marcel yang memang telah mengabari acara nikah kilatnya dengan Alamanda termasuk alasanya mereka menikah kilat. Bagaimana pun dia harus menghormati orang tua Patricia.