Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 66.


“Di lesehan depan sana ya Tuan eh Kak..” ucap Alamanda yang letaknya tidak jauh dari mall.


“Ayo.” Ucap Marcel, lalu Alamanda pun mempercepat langkah kakinya, sebab kini dia uang lebih tahu tempatnya dan Marcel yang mengikuti langkah kaki Alamanda. Mobil masih dibiarkan parkir di lokasi parkir mall, sebab di tempat lesehan justru lebih susah mobil parkir sama saja jalannya malah lebih jauh.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di di tenda makan alias tempat makan lesehan. Marcel sekarang yang tampak bingung sebab harus melepas sepatu untuk duduk di tikar. Mungkin Marcel khawatir jika sepatunya nanti diinjak injak orang dan menjadi kotor atau menjadi tidak lagi nyaman saat dipakai. Sedangkan Alamanda langsung saja melepas sepatu dan mencari tempat duduk dan mengambil kertas menu. Dia sudah beberapa kali ke tempat lesehan ini bersama Jasmine dan Iqbal saat mereka bertiga jalan jalan ke mall untuk membeli baju hari raya.


Marcel pun akhirnya melepas sepatunya dan dia taruh di dekat sepatu milik Alamanda. Hmmm benar benar terlihat perbedaannya antara sepatu mahal dan sepatu murah milik Alamanda. Akan tetapi Marcel tidak menghiraukan hal itu.


Sesaat kemudian mereka sudah memesan menu makanan. Kali ini Marcel yang nurut pada Alamanda karena dia belum pernah makan di situ. Dan beberapa menit kemudian pesanan mereka datang, dua piring nasi dengan lauk lele goreng plus sambal dan lalapan dan dua gelas jus sirsat. Ditambah dua mangkok air.


Alamanda mengambil hand sanitazer lalu memakainya dan selanjutnya dia memberikan botol hand sanitazer itu pada Marcel. Marcel pun melakukan hal yang sama.


“Tidak ada air mengalir untuk cuci tangan di sini?” tanya Marcel dan Alamanda hanya tersenyum.


Alamanda pun lalu mencelupkan tangannya pada mangkok air itu dan setelah beberapa saat dia mulai mengambil nasi di piring dan mulai menikmati menu makannya. Alamanda teringat pada kedua adiknya.


“Hmmm maafkan kakak, tidak mengajak kalian makan di sini.” Gumam Alamanda dalam hati lalu dia telap telep makan dengan lahap sebab memang benar benar lapar.


Sedangkan Marcel tampak bingung cara makannya. Dia masih mencari cari sendok dan garpu akan tetapi tidak ada. Semua pengunjung makan dengan menggunakan tangan mereka. Akhirnya Marcel pun mengambil nasi dengan menggunakan jarinya.


“Kak, tidak seperti begitu cara makannya, nanti lama sekali he... he... bisa bisa subuh kita baru pulang.” Ucap Alamanda saat melihat Marcel mengambil nasi hanya menggunakan ibu jari dan telunjuknya saja.


“Aku pakai sendok dan garpu saja ya..” ucap Marcel selanjutnya. Lalu Marcel meminta pinjam garpu dan sendok pada penjual nya.


“Tuan Jangan minta pinjam pisau ya. Pisaunya buat kerja..” ucap Sang penjual sambil memberikan garpu dan sendok pada Marcel.


Marcel pun lalu mencoba makan dengan garpu dan sendok akan tetapi tetap saja dia merasa kesulitan karena meja yang rendah dan kecil ditambah lele goreng garing yang susah diambil meskipun dengan garpu.


“Gini nih Kak.. pakai lima jari semua kerja dan rukun.. he... he...” ucap Alamanda sambil memberikan contoh cara mengambil nasi dengan menggunakan tangan.


Alamanda menoleh ke kiri dan ke kanan. Sesaat sang penjual juga menoleh ke arah Alamanda dan ibu penjual itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Alamanda lalu mengambil piring nasi Marcel yang tampak masih banyak, lele gorengnya pun juga nyaris masih utuh. Marcel menatap Alamanda sambil tersenyum. Dengan kelima jari tangannya Alamanda mengambil nasi di piring Marcel tidak lupa sudah diberi daging lele goreng tanpa duri. Alamanda pun menyuapi Marcel. Ibu penjual terus saja memperhatikan sambil tersenyum. Beberapa pembeli pun juga ada yang memperhatikan mereka berdua.


Marcel tampak makan dengan lahap setiap nasi dan lauknya yang disuapkan oleh jari jari mulus Alamanda. Marcel pun selalu berusaha bibirnya bisa mengenai jari jari Alamanda.


Jantung Alamanda selalu berdebar debar saat bibir Marcel mengenai jari jarinya.


Akan tetapi tiba tiba...


“Al, sambal nya jangan banyak banyak ... hah.... hah... hah.... “ ucap Marcel lalu segera mengambil gelas jus sirsatnya dan menghabiskan hingga tuntas tak bersisa.


Marcel yang masih kepedasan itu akhirnya mengambil juga gelas jus sirsat milik Alamanda dan dia habiskan pula jus sirsat milik Alamanda.


“Maaf Kak.. “ ucap Alamanda lalu dia memesan lagi jus sirsat dan menyuapi lagi Marcel yang kini tanpa memberi sambal.


Setelah selesai makan Marcel membayar semua apa yang sudah dipesannya. Ibu penjual tampak senyum senyum pada Marcel.


“Jangan kapok ya Tuan, saya doakan langgeng abadi sampai kakek nenek ...” doa tulus ibu pelayan. Alamanda dan Marcel pun mengamininya.


“Kapan kapan kita datang lagi ke sini ya...” ucap Marcel yang sudah melangkah bersama Alamanda.


“Enak dan murah dan yang utama doa dari ibu penjual itu he... he... “ ucap Marcel sambil terus menggandeng tangan Alamanda menuju ke tempat mobil nya yang terparkir. Alamanda hanya tersenyum jantung nya masih berdebar debar karena beberapa kali bibir Marcel selalu mengenai jari jari nya. Rasa rasanya bibir itu masih saja menempel di jari jarinya. Sedangkan Marcel teramat sangat bahagia. Dinner di lesehan ternyata lebih romantis dibanding dengan di rumah makan mewah. Marcel pun tersenyum dan tertawa di dalam hati.


Hari pun semakin larut. Marcel langsung melajukan mobil menuju ke apartement agar dia dan Alamanda tidak mendapat teguran dari Tuan dan Nyonya Ernest.


Mobil terus melaju dengan kecepatan penuh...