
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman apartemen. Marcel sudah mengurangi kecepatan mobilnya.
“Kak tidak usah diantar ke kamar. Sudah sangat larut, Kak Marcel masih harus melanjutkan perjalanan ke Mansion Hanson.” Ucap Alamanda sambil menoleh ke arah Marcel saat mobil sudah memasuki halaman Apartemen.
“Aku antar kamu sampai di dalam kamar.” Ucap Marcel yang sangat mengkhawatirkan akan keselamatan Alamanda. Marcel pun terus membawa mobilnya menuju ke tempat parkir.
“Kalau kamu mendengar rekaman percakapan tadi. Orang orang Mansion Ernestan masih mencari kamu. Siapa tahu mereka juga melihat mobil ku saat malam aku menjemputmu. Pokok nya kamu jangan keluar kamar seorang diri.” Ucap Marcel selanjutnya, karena seingat dia Alamanda datang saat rekaman percakapan sudah selesai. Alamanda pun menatap Marcel dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan antara kaget, takut dan kepo.
Setelah mobil berhenti Marcel cepat cepat membuka sabuk pengaman lalu dia segera membuka pintu dan berlari memutar mobil bagian depan menuju ke pintu samping Alamanda yang masih duduk dan siap siap membuka pintu akan tetapi Marcel lebih dulu membukakan pintu sebelum Alamanda membuka pintu mobil itu.
“Ayo, hati hati..” ucap Marcel sambil mengulurkan tangannya. Alamanda pun menerima dengan suka cita.
Mereka berdua melangkah menuju ke lift. Marcel terus saja memegang erat telapak tangan Alamanda. Rasa rasanya dia ingin terus menggandeng telapak tangan itu tanpa melepasnya. Di dalam lift pun Marcel masih saja memegang telapak tangan Alamanda akan tetapi dia tidak bisa melakukan lebih dari itu sebab di dalam lift itu ada orang lain selain mereka berdua, hingga pintu lift terbuka karena sudah sampai di lantai tempat kamar milik Marcel.
Marcel dan Alamanda keluar dari lift masih saling bergandengan tangan. Alamanda pun merasakan damai dan aman saat telapak tangan mereka saling bersentuhan.
Sesaat kemudian mereka sudah sampai di depan pintu kamar apartemen. Marcel pun menekan pass word pintu dengan satu tangan yang tidak menggandeng tangan Alamanda.
Saat pintu sudah terbuka, suasana di dalam kamar apartemen itu sudah sepi. Lampu di ruang makan dan ruang tamu sudah mati hanya ada cahaya redup dari lampu kecil di dekat pintu itu.
“Terima kasih ya Kak.” Ucap lirih Alamanda agar tidak mengganggu Tuan dan Nyonya Ernest yang sudah tidur.
“Sama sama, selamat istirahat ya...” ucap Marcel sambil menatap wajah cantik Alamanda.
“Iya Kak, selamat malam hati hati ya..” ucap Alamanda yang juga menatap wajah tampan Marcel.
“Hmmm.. kamu juga hati hati ingat jangan keluar kamar seorang diri.” Ucap Marcel lagi, saat Marcel akan membalikkan tubuhnya tiba tiba dia sangat mengkhawatirkan keselamatan Alamanda.
“Benar ya jangan keluar keluar.” Ucap Marcel lagi yang kini dia menghadap dan memeluk tubuh Alamanda dengan sangat erat.
Ancaman pembunuhan dan suara rekaman percakapan itu benar benar membuat Marcel trauma untuk kehilangan kekasih hati akibat kematian.
“I love you Al, aku tidak mau kehilangan lagi wanita yang aku cintai.” Ucap Marcel sambil mencium puncak kepala Alamanda.
“Iya Kak, kita berdoa semoga semua diberi keselamatan.” Ucap Alamanda yang juga memeluk tubuh kekar Marcel. Bagaimana pun Alamanda juga takut dengan ancaman pada dirinya itu. Ciuman Marcel yang semula di puncak kepala Alamanda pun mulai turun pada kening Alamanda lalu pada kedua pipi Alamanda. Dan Alamanda yang mendapatkan lagi kecupan lembut bibir Marcel mulai memejamkan matanya.
BYAR...
Suasana yang tadi redup oleh satu lampu kecil kini menjadi terang benderang.
Marcel dan Alamanda pun mengendurkan pelukannya dan Alamanda membukakan matanya.
“Kalian baru pulang.” Suara Tuan Ernest yang sudah berada di ruang tamu dan terus melangkah mendekat.
“Iya Tuan.” Ucap Alamanda yang segera membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke dalam kamarnya. Alamanda tertunduk agar pipi yang merona merah tidak terlihat oleh Tuan Ernestan.
“Tuan, saya langsung pulang ya, sudah larut. Maaf. Dan Alamanda sudah saya antar pulang dengan selamat.” Ucap Marcel dan Tuan Ernest hanya menganggukkan kepalanya. Setelah menjabat tangan Tuan Ernest, Marcel langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari pintu apartemen itu.
“Hmmm Bos Tua kenapa belum tidur.” Gumam Marcel sambil melangkah dengan cepat menuju ke lift yang akan mengantar menuju ke lantai dasar tempat mobil nya terparkir.
“Hmmm sabar....” gumam Marcel lagi yang kini sudah berada di dekat mobilnya yang terparkir. Dia merasa kecewa sebab gagal mencium bibir Alamanda. Dia pun segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam nya dan segera menjalankan mobil meninggalkan tempat parkir menuju ke Mansion Hanson.
“Apa iya sih Alamanda belum pernah dicium.” Gumam Marcel sambil melajukan mobilnya karena merasakan reaksi tubuh Alamanda saat dicium yang tampak kaku dan hanya menunggu, Marcel pun merasakan telapak tangan Alamanda yang sangat dingin , wajah merona dan detak jantung Alamanda hingga terasa di dada Marcel saat dia peluk tadi.
“Jika memang belum pernah dicium laki laki itu lebih baik. Biar kaku sekarang dan aku yang mengajarinya he... he... “ gumam Marcel sambil tertawa kecil, dia benar benar bahagia dan sudah tidak sabar untuk bisa selalu bersama dengan Alamanda dan Charlotte puteri tercintanya.
“Charlotte memang pintar memilihkan perempuan buat Papanya tidak seperti Mama.” Gumam Marcel lagi yang semakin menambah laju kemudinya. Malam yang larut, lalu lintas sudah sepi, mobil Marcel bisa melaju tanpa banyak hambatan.
“Hmmm semoga barang belanjaan sudah sampai Mansion dan Mama tidak banyak komplain.” Gumam Marcel lagi yang kini sudah memasukkan mobilnya ke dalam halaman Mansion Hanson. Marcel tiba tiba khawatir jika Nyonya Hanson melihat satu set perhiasan yang tadi dibeli dan melarang Marcel memberikan itu pada Alamanda.
Setelah memarkir mobilnya di garasi. Marcel segera melangkah menuju ke pintu utama Mansion. Suasana Mansion sudah sepi hanya petugas keamanan yang masih berjaga.
“Selamat malam Tuan Marcel, tadi ada kiriman datang.” Ucap petugas pintu utama Mansion.
“Hmmm kamu taruh di mana semua barang itu?” tanya Marcel sambil menatap tajam pada petugas penjaga pintu utama.
“Yang barang barang dari mall itu masih ada di balik pintu. Para pelayan belum memindahnya.” Jawab petugas penjaga pintu utama itu.
“Yang dari toko perhiasan?” tanya Marcel dengan nada serius sambil menatap wajah petugas pintu utama itu dia khawatir jika barang itu sudah berada di tangan Sang Mama.