Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 85.


“Hmmm, aku mengajak mereka untuk menginap di hotel, yang utama aku ingin bertanya tanya dengan Nenek Oji. Bagaimana kalau dia tidak mau ikut...” gumam Nyonya Ernest dalam hati sambil berpikir pikir.


“Bukannya AC bisa dimatikan kalau tidak kuat dengan udara AC.” Ucap Nyonya Ernest sambil sedikit menoleh ke arah Ibu Irawan yang terus mendorong kursi rodanya dengan sangat hati hati.


“Nah itu masalahnya Nyonya, kakek Oji malah kesenangan kalau sedang berada di ruangan ber AC.” Ucap Ibu Irawan. Nyonya Ernest lalu mengerutkan keningnya sambil melihat Kakek Oji yang sedang berjalan penuh semangat di samping suami nya.


“Ooo kalau begitu biar saja aku pesankan dua kamar untuk Kakek dan Nenek Oji.. Tolong bujuk Nenek Oji ya..” ucap Nyonya Ernest selanjutnya.


“Kalau nanti dia takut di kamar seorang diri biar nanti aku carikan teman buat Nenek Oji, aku pun mau untuk menemani dia.” Ucap Nyonya Ernest lagi.


“Baiklah Nyonya, saya antar Nyonya sampai mulut gang lebih dulu, nanti saya balik lagi untuk membujuk Nenek Oji.” Ucap Ibu Irawan sambil terus mendorong kursi roda Nyonya Ernestan. Sedangkan Tuan Ernestan dan Kakek Oji sudah berjalan di depan mereka dengan jarak agak jauh karena Kakek Oji sangat bersemangat untuk tidur di hotel.


Singkat cerita, akhirnya Nenek Oji pun berhasil dibujuk oleh Ibu Irawan dan cucu cucu Nenek Oji.


“Iqbal, kamu nanti temani aku. Kalau sampai Nyonya Ernest yang menemani aku malah aku kaku karena takut bukan kaku karena dinginnya AC.” Ucap Nenek Oji sambil menatap Iqbal yang sedang menggemas beberapa helai baju di dalam tas.


“Yang penting jangan minta ditemani Alamanda ya Nek...” ucap Marcel yang juga masih berada di rumah Alamanda karena mereka bergiliran untuk diantar mobil ke hotel.


“Tidak lah, Tuan Marcel dengan Alamanda tidak boleh pisah kamar. Kalau perlu biar Nona Charlotte tidur dengan Jasmine dulu agar Tuan bisa segera belah duren... he... he... he...” ucap Nenek Oji sambil tertawa terkekeh kekeh.. Keluarga Irawan masih sering memanggil Marcel dengan sebutan Tuan, Meski pun sudah diberi tahu akan tetapi lidahnya masih saja terbiasa menyebut Tuan.


“Aku mau tidur dengan Mama dan Papa. Kalau Papa mau belah duren aku juga mau ikut makan duren. Boleh kan Ma aku makan duren...” ucap Charlotte yang tampak khawatir jika tidak boleh tidur sekamar dengan Marcel dan Alamanda. Dan tidak tahu istilah belah duren yang dibilang Nenek Oji, Charlotte pikir belah duren dalam arti kata yang sebenarnya.


“Ha... ha... ha... “ tawa mereka bersama kecuali Alamanda hanya tersenyum dan mengusap usap puncak kepala Charlotte. Sebab dia pun juga masih berdebar debar jika membayangkan nanti malam Marcel membelah duren.


“Ma.....” ucap Charlotte lirih sambil menatap Alamanda dia bingung kenapa orang orang tertawa.


“Iya Sayang.. Charlotte tidur sama Mama dan Papa.. “ ucap Alamanda sambil masih mengusap usap kepala Charlotte.


“Ma, kenapa mereka tertawa?” tanya Charlotte dengan suara berbisik.


“Mereka tertawa karena Papa ingin durian tapi belum musim.” Ucap Alamanda, Marcel yang mendengar karena duduk di dekatnya langsung mengangguk dan tersenyum pada Charlotte.


“Beli di super market aja sudah dikemas tanpa repot belah belah..” ucap Charlotte masih dengan suara lirih dan Alamanda pun hanya mengiyakan sambil tersenyum lalu mengajak Charlotte berjalan ke luar. Agar pembicaraan belah duren tidak diperpanjang.


Waktu pun terus berlalu dan mereka pun kini telah berada di hotel bintang lima. Kamar Nenek Oji bersebelahan dengan kamar Tuan dan Nyonya Ernest.


Pengasuh Charlotte masih bertugas menggantikan Alamanda selama Alamanda masih sibuk sebagai pengantin baru. Kini Nyonya Ernest sudah dimandikan dan sudah berganti baju.


Sang pengasuh Charlotte pun mendorong kursi roda Nyonya Ernest keluar dari kamar itu menuju ke kamar sebelah kamar yang ditempati oleh Nenek Oji dan Iqbal.


“Coba kamu ketuk ketuk pintu kamar itu.” Ucap Nyonya Ernest pada Sang pengasuh Charlotte.


TOK TOK TOK


TOK TOK TOK TOK


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncul sosok Iqbal yang sedang membukakan pintu.


“Di mana Nenek Oji?” tanya Nyonya Ernest dan Iqbal pun menoleh ke arah dalam. Tampak Nenek Oji sedang duduk di sofa sambil melihat layar televisi yang tertempel di dinding kamar.


Sang pengasuh Charlotte pun mendorong kursi roda Nyonya Ernest masuk ke dalam kamar.


“Nyonya...” ucap Nenek Oji lalu bangkit berdiri. Akan tetapi dilarang oleh Nyonya Ernest dan disuruh tetap duduk santai saja.


“Nenek maaf, aku sangat tertarik dengan kalung yang Nenek hadiahkan pada Alamanda. Di mana Nenek membeli atau memesannya?” ucap Nyonya Ernest selanjutnya saat Nenek Oji sudah duduk santai.


“Iya Nyah itu bagus sekali. Tetapi saya tidak membeli Nyah. Jadi maaf saya tidak tahu di mana kalung itu dibeli atau dipesan. Tidak ada surat suratnya juga. Tapi saya pernah tanya di toko emas di depan pasar bisa dijual ke sana. Dan toko itu mau membeli dengan harga mahal jika saya mau menjualnya.... tapi...” jawab Nenek Oji.


“Terus bagai mana kamu bisa mempunyai kalung itu nemu atau...” ucap Nyonya Ernest belum selesai lalu dipotong oleh Nenek Oji.


“Nyonya, saya tidak nemu dan tidak mencuri atau jambret. Meskipun saya orang miskin tapi tidak berani mengambil yang bukan hak milik saya Nyonya. Kalau mengambil bukan hak nya itu tidak berkah begitu kata orang tua saya dulu. Kalau tidak berkah itu meskipun sudah ada di tangan tetapi tidak memberi kebahagiaan dan kedamaian hati...” ucap Nenek Oji yang sensitif


“Aku tidak menuduh kamu mencuri, maksud ku apa kamu dikasih oleh seseorang?” ucap Nyonya Ernest dengan nada rendah.


“Iya saya dikasih oleh seseorang, waktu Alamanda baru saja lahir. Saya yang dikasih karena waktu itu Maknya Alamanda belum sadar karena pendarahan, Papa nya juga sedang bingung, stres benar benar stres waktu lahirnya Alamanda saat itu.” ucap Nenek Oji selanjutnya dengan wajah sedih.


“Hah? Siapa yang memberikan kalung itu kepada kamu laki laki atau perempuan?” tanya Nyonya Ernest dengan tidak sabar.


“Perempuan Nyonya.” Jawab Nenek Oji dengan takut takut.


“Siapa namanya, apa saat itu orang itu masih muda?” tanya Nyonya Ernest lagi.