Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 116.


“Hah? Nyonya Ernest belum tidur.” Gumam sosok laki laki yang berada di depan pintu kamar itu, dan dia segera menutup pintu kamar Nyonya Ernest itu dan berlalu sebelum mendapatkan pertanyaan lebih jauh.


Sementara itu Nyonya Ernest masih mengangkat kepalanya sambil menoleh ke arah pintu.


“Tuan Marcel, mau apa dia. Untung dia muncul di saat aku belum menggunting rambut Alamanda.” Gumam Nyonya Ernest dalam hati.


“Hmmm kenapa Papa tidak mengunci pintu dari luar tadi.” Gumam Nyonya Ernest lagi di dalam hati. Nyonya Ernest lalu menatap lagi wajah Alamanda yang tertidur pulas. Dia mungkin pulas karena capek melayani sang suami yang sangat bernafsu akibat pengaruh jamu.


“Hmmm sekarang saja aku ambil sedikit rambut Alamanda. Mumpung Tuan Marcel baru saja keluar dan tahu aku masih terjaga.” Ucap Nyonya Ernest lalu dia menggeser tubuhnya dan tangannya terulur pada nakas untuk mengambil gunting dapur itu.


“Aku perkirakan dia akan datang lagi nanti ke sini untuk mendatangi anak dan istrinya. Hmmm apa mungkin dia tidak bisa tidur sebelum mencium anak dan istrinya.” Gumam Nyonya Ernest di dalam hati dan tangannya sudah memegang gunting dapur itu. Nyonya Ernest menatap wajah imut Charlotte yang tertidur pulas, bibir mungil gadis kecil itu tersenyum. Mungkin dia sedang bermimpi bahagia dengan Papa dan Mamanya.


Nyonya Ernest lalu memandang wajah cantik Alamanda.


“Benar benar sama seperti wajah Debora.” Gumam Nyonya Ernest masih di dalam hati agar dua orang yang tidur pulas itu tidak terbangun. Nyonya Ernest lalu memegang rambut Alamanda yang sepanjang bahu itu.


“Seberapa ya.. Dokter Willy tidak bilang tadi seberapa panjang dan berapa helai rambut yang dibutuhkan.” Gumam Nyonya Ernest yang masih memegang rambut indah Alamanda.


Nyonya Ernest lalu berusaha mencari rambut Alamanda bagian belakang dan dalam dan sesaat kemudian...


KRESS


Nyonya Ernestan sudah berhasil memotong sedikit rambut Alamanda.


“Hmm Papa kok tidak membawakan tempat untuk menaruh rambut ini. Aku taruh di mana ya..” gumam Nyonya Ernest dalam hati sambil berpikir pikir tempat apa yang akan digunakan untuk menaruh sample rambut Alamanda.


Nyonya Ernest lalu menaruh lagi gunting dapur itu di atas nakas dan tangannya menggapai gapai box tisue dia akan mengambil satu lembar tisue yang akan digunakan untuk membungkus sample rambut Alamanda yang masih dia pegang.


Akan tetapi tiba tiba....


KRROOOMPYAANGG


Suara gelas minum dan gunting jatuh karena tersenggol oleh tangan Nyonya Ernest yang menggapai gapai box tisue dengan tangan gemetaran karena baru saja sukses menggunting rambut Alamanda.


“Nyonya.” Suara Alamanda yang kaget karena ada benda terjatuh dari nakas. Alamanda pun langsung bangkit dari tidurnya untuk mengecek benda yang terjatuh.


“Apa Nyonya mau mengambil gelas minum?” tanya Alamanda sambil turun dari tempat tidur setelah tahu gelas air minum Nyonya Ernest jatuh pecah dan airnya tumpah.


“Charlotte bobok lagi ya Sayang...” ucap Alamanda sambil menatap wajah Charlotte dan Charlotte pun lalu memejamkan lagi matanya.


“Iya.. Aku haus mau minum...” ucap Nyonya Ernest bohong agar Alamanda tidak curiga.


“Nyonya kalau perlu apa apa bisa bangunkan saya.. Sebentar saya ambilkan ..” ucap Alamanda lalu melangkah menuju ke mini pantry untuk mengambil gelas baru dan air mineral.


Saat Alamanda melangkah menuju ke mini pantry, Nyonya Ernest kembali menggeser tubuhnya dan tangannya ke kembali terulur untuk menggapai box tisue. Dia akan segera membungkus sample rambut Alamanda sebelum Alamanda kembali datang dari mini pantry.


Akan tetapi Nyonya Ernest kembali dikagetkan oleh suara.


“Oma mau ambil apa?” suara imut Charlotte yang ternyata belum tertidur lagi dan terbuka matanya lagi sebab merasa Nyonya Ernest menggeser geser tubuhnya .


“Oma kalau butuh sesuatu bisa bangunkan saya kalau Mama sedang tidak ada.” Ucap Charlotte yang meniru ucapan Alamanda dan dikembangkan. Nyonya Ernest yang masih deg deg an karena kaget itu, tersenyum karena gemas sekaligus terharu.


“Mau ambil tisue Nona Cantik.” Ucap Nyonya Ernest yang kali ini jujur.


Sesaat Charlotte pun bangun dari terbaringnya dan dia akan turun dari tempat tidur. Namun sebelum dia turun dari tempat tidur sudah terdengar langkah kaki Alamanda.


“Charlotte mau ke mana Sayang.. jangan turun dulu, pecahan kaca gelas belum Mama bersihkan.” Ucap Alamanda agak keras yang kaget dan khawatir Charlotte langsung turun dari tempat tidur dengan bertelanjang kaki.


“Tisue buat Oma, Mama..” suara Charlotte dengan lantang dan masih duduk di tepi tempat tidur.


Sementara itu Marcel yang belum tidur karena masih menunggu waktu semua orang tertidur dan dia akan menggotong tubuh Sang Istri untuk dibawa ke balkon. Kini mengerutkan dahinya mendengar sayup sayup suara anak dan istrinya.


“Hah? Kenapa mereka belum tidur semua?” gumam Marcel di dalam hati dia pun bangun dari sofa sebab akhirnya Tuan Ernest yang tidur di ekstra bed. Marcel melangkah menuju ke pintu kamar tidur itu, dia ingin tahu kenapa anak dan istrinya belum juga tertidur.


Saat Marcel baru melangkah beberapa langkah.


"Bos Muda mau kemana?" suara Tuan Ernest yang juga ikut terbangun.