
“Cepat singkirkan mobil mu dari sini. Sebelum Nyonya Wijaya menegur aku.” Ucap petugas penjaga pintu gerbang dengan suara keras.
“Sabar napa aku sedang menelepon Tuan Marcel.” Ucap Henry. Akan tetapi petugas pintu gerbang tetap menyuruh Henry segera menyingkirkan mobilnya.
Henry pun segera menjalankan mobil agak menjauh dari pintu gerbang Mansion Wijaya. Dan setelah terhubung dengan Marcel, suara Marcel terdengar kaget dan emosi dan tetap menyuruh Henry terus berada di depan pintu gerbang Mansion Wijaya dan terus memantau Charlotte dari luar Mansion.
Sementara itu di Mansion Ernestan. Sam bisa menyelinap masuk ke dalam ruang kantor kecil milik Ibu pelayan. Di mana Ibu pelayan bersama para pelayan dapur lainnya kini sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. Di dalam ruang kecil itu, ada meja dan kursi kerja tempat Ibu pelayan untuk membuat laporan. Dan pada salah satu dinding ada rak tempat menyimpan kunci kunci cadangan kamar kamar para pelayan dan karyawan Mansion Ernestan.
“Hmmm ini kunci kamar perempuan itu.” Gumam Tuan Sam sambil mengambil kunci duplikat kamar Alamanda yang disimpan Ibu pelayan. Sebab Tuan Sam sudah tahu kode kode nomor nya karena dia sendiri juga yang membuat kode kode nomor kamar kamar di Mansion Ernestan itu.
Dengan cepat Tuan Sam menaruh kunci duplikat kamar Alamanda ke dalam saku celananya dan dia pun segera melangkah keluar dari ruang kantor kecil Ibu pelayan.
Sedangkan di kamar Tuan Erneatan. Tuan Ernestan masih mencari tahu apa yang sudah didengar isterinya dari cerita Alamanda.
“Aku tanya tanya Pa, nama nama orang tuanya, kakek neneknya, kakek nenek buyutnya. Tidak ada yang sama dengan nama nama trah keluarga Debora.” Ucap Nyonya Ernestan yang kini berbaring dengan menyandarkan punggung di sandaran tempat tidur.
“Aku juga tanya dia apa dia kenal dengan orang yang bernama Anderson. Kakek Abraham, Kakek Enoch.. dia malah bingung.” Ucap Nyonya Ernestan kemudian.
“Hmmm Mama lebih pinter mencari informasi dari pada dua orang suruhanku yang malah dikira penjahat itu. Untung dua orang itu tidak babak belur dihantam masa.” Gumam Tuan Ernestan tampak keningnya yang sudah berkerut semakin mengkerut.
“Hmmm kalau nama nama trah keluarga perawat itu tidak ada yang sama, ya mungkin hanya kebetulan saja Ma, dia mirip dengan Debora.” Ucap Tuan Ernestan selanjutnya.
“Iya Pa, kalau aku dengar dari ceritanya tadi kasihan perawat itu. Adik nya dua masih sekolah. Penghasilan orang tua dari kios kecil. Dia bekerja membantu orang tua untuk menyekolahkan adik adiknya. Katanya dia dulu bisa selesai sekolah karena orang tuanya pakai utang utang, dan nyaris akan dinikahi oleh orang tua karena tidak bisa bayar utangan.” Ucap Nyonya Ernest dengan nada dan ekspresi wajah sedih karena turut berempati pada nasib Alamanda.
“Mama jangan percaya begitu saja pada omongan orang baru.” Ucap Tuan Ernestan. Akan tetapi tiba tiba Tuan Ernestan dikagetkan oleh suara dering hand phone milik nya yang berada di dalam saku kemejanya. Tuan Ernestan pun segera mengambil hand phone miliknya.
“Bos Muda.” Gumam Tuan Ernest saat melihat di layar hand phone miliknya tertera nama kontak Bos Muda sedang melakukan panggilan suara. Yang tidak lain itu adalah nama kontak buat nomor hand phone milik Marcel. Tuan Ernestan sangat terkesan dengan sosok Marcel. Pebisnis Muda yang sangat potensial dan profesional. Saat Marcel melakukan kerja sama dengan Tuan Ernestan dan di saat itu pula Marcel sedang ditimpa musibah besar setelah Papa nya meninggal akibat serangan jantung dan tidak lama kemudian istrinya meninggal akibat penyakit kanker yang diderita oleh istrinya. Akan tetapi Marcel tetap bisa memegang kendali perusahaan dengan baik dan kerja samanya Tuan Ernest dengan Marcel membuahkan hasil sangat memuaskan menguntungkan kedua belah pihak.
“Selamat sore Tuan Ernestan yang terhormat.” Suara Marcel di balik hand phone milik Tuan Ernestan.
“Selamat sore Bos Muda, ada perlu apa tidak ada angin tiba tiba Bos Muda menghubungi Bos Tua he...he...?” ucap Tuan Ernest sambil tertawa kecil sebab mereka dulu sering bercanda di saat saat santai setelah meeting karena perbedaan usia di antara mereka berdua. Dan itu dilakukan sebelum Patricia meninggal, setelah meninggalnya Patricia, Marcel susah untuk diajak bercanda.
“Langsung pada maksud saya Tuan Ernestan, saya ingin Tuan Ernestan membatalkan kontrak kerja dengan Ners Alamanda. Dokter Willy akan mencarikan gantinya yang performa nya selevel dengan Ners Alamanda.“ ucap Marcel langsung to the point.
“Hah, kami baru beberapa hari bekerja sama dengan perawat itu, dan kami tidak ada masalah dengan perawat itu. Bagaimana mungkin kami membatalkan kontrak kerja.” Ucap Tuan Ernestan, Nyonya Ernest yang mendengar pun tampak ekspresi wajahnya kaget dan langsung menegakkan punggungnya dan memasang kedua telinganya untuk lebih menyimak pembicaraan sang suami.
“Tuan, saya sangat mohon kebaikan dari Tuan dan Nyonya Ernest, saya akan membayar berapa pun ganti uang yang Tuan Ernest minta.” Suara Marcel dengan nada serius.
“Baiklah saya bicarakan dengan isteri saya, karena dia yang memakai tenaga perawat itu.” Ucap Tuan Ernestan, sama seperti yang Dokter Willy kira, Marcel menghendaki Alamanda untuk merawat orang tua nya. Sambungan telepon mereka pun putus. Marcel menunggu informasi selanjutnya. Dan Tuan Ernestan menyampaikan maksud Marcel pada Nyonya Ernest.
“Pa, perawat itu sangat sabar dan sangat sopan. Susah Pa cari perawat macam dia. Pijitan nya juga enak Pa.” Ucap Nyonya Ernestan yang tidak mau melepas Alamanda diganti dengan perawat lainnya.
“Aku juga masih ingin dengar cerita tentang keluarganya. Masih belum puas Pa.” Ucap Nyonya Ernestan selanjutnya.
“Ya sudah aku bilang Bos Muda itu agar dia mencari perawat lain.” Ucap Tuan Ernestan.
Sementara di kamar sebelah, Alamanda yang masih berada di dalam kamar dan baru selesai mandi masih mengira itu kunci milik Ibu pelayan. Pikiran dia malah terfokus pada pertanyaan pertanyaan Nyonya Ernestan.
“Siapa sih keluarga Anderson.” Gumam Alamanda dalam hati karena tadi Nyonya Ernest menanyakan apa dia kenal dengan keluarga Anderson. Yang mana itu adalah nama orang tua Debora.
“Sepertinya Papa dan Mama tidak mengenal keluarga Anderson, terus siapa lagi tadi kakek Abraham, kakek Enoch.. ah nama nama asing... Tapi tidak ada salah nya aku tanya pada Papa dan Mama, agar Nyonya Ernestan lega.” Gumam Alamanda dalam hati karena tadi Nyonya Ernest berpesan pada dirinya agar dia menanyakan nama nama itu pada orang tuanya.
Alamanda pun segera mengaktifkan hand phone miliknya untuk menghubungi sang Papa.