
Bang Bule Vincent melanjutkan untuk menghubungi Nyonya Leli. Bang Bule Vincent melakukan beberapa kali panggilan suara dan panggilan video selalu ditolak baik oleh nomor hand phone milik Nyonya Leli atau pun nomor hand phone milik Millie. Akhirnya Bang Bule Vincent pun mengirim pesan chat yang mengatakan kalau dia sahabat dari Marcel Hanson dan ada perlu sangat penting.
Dan sesaat kemudian hand phone milik Bang Bule Vincent berdering ada panggilan suara dari nomor hand phone milik Nyonya Leli.
“Ada perlu apa? Apa Marcel, menyuruh kamu menghubungi aku dan Millie, apa dia menyesal sudah menolak Millie?” suara Nyonya Leli saat Bang Bule Vincent sudah menggeser tombol hijau
“Ooo maaf Nyonya bukan masalah itu. Ini mengenai masa lalu Nyonya Leli.” Ucap Bang Bule Vincent dengan santun
“Masa lalu apa? Apa urusan mu dengan masa lalu ku?” tanya Nyonya Leli dengan nada ketus.
“Nyonya. Tuan Sam suami Nyonya yang dahulu sedang sakit kritis, dia memanggil manggil istri dan anaknya.” Ucap Bang Bule Vincent
“Aku sudah tidak ada hubungan apa pun dengan dia. Millie juga tidak mengenal dia yang Millie tahu Papanya adalah Donald. Jangan ganggu kebahagiaan kami.” Suara Nyonya Leli dengan nada tinggi dan kesal .
“Nyonya tolong datanglah setidaknya demi kemanusiaan.” Ucap Bang Bule Vincent
“Aku sudah tidak peduli, ingat jangan kamu hubungi Millie. Kalau kamu nekat aku akan buat perhitungan dengan kamu.” Suara Nyonya Leli dengan nada ketus dan selanjutnya sambungan teleponnya terputus.
“Hmmm benar yang dikatakan oleh Tuan Ernest, dia tidak mau menemui lagi Tuan Sam. “ ucap Bang Bule Vincent yang akan berganti menghubungi Millie dia tidak takut sedikit pun dengan ancaman Nyonya Leli meskipun kini statusnya sebagai istri seorang birokrat berkuasa.
Akan tetapi tiba tiba Tuan Ernestan sudah muncul lagi sosoknya di dekat mereka berdua dan...
“Benar kan yang aku katakan. Sekarang ayo kita ke Mansion, aku lihat di kamar Sam ada foto dia dengan istri dan anaknya seorang bayi perempuan. Mungkin itu bisa kamu kirim pada anaknya itu. Kalau pasangan bisa disebut mantan jika sudah berpisah namun tidak dengan anak, semoga anaknya terketuk hatinya .” Ucap Tuan Ernest dengan nada serius.
“Baiklah Tuan, mari ikut mobil saya. Nanti akan saya kirim foto itu ke nomor hand phone Millie.” Ucap Bang Bule Vincent setuju.
“Kirim ke nomor ku juga ya..” ucap Marcel, namun tiba tiba pundaknya ditepuk pelan dari belakang.
“Papa buat apa minta dikirim foto masa kecil Millie?” suara Alamanda yang baru saja datang.
“Sayang terus bagaimana dengan kontrak kerja kamu? Kita pulang ke Mansion Hanson ya?” tanya Marcel selanjutnya sambil masih menatap wajah Alamanda.
“Iya untuk sementara Alamanda boleh cuti. Ada Nona Eveline yang membantu aku, biar nanti Dokter Willy mengirim perawat pengganti.” Ucap Nyonya Ernest yang juga sudah berada di ruang tamu itu di atas kursi rodanya.
“Ayo Pa kita beresin barang barang kita. Oma Papa sudah telepon katanya kesepian di Mansion.” Ucap Charlotte sambil menarik tangan Sang Papa.
Marcel pun lalu bangkit berdiri dan mereka bertiga pamit pada Tuan dan Nyonya Ernest tidak lupa mengucapkan terima kasih.
“Hmmm aku padahal masih ingin menginap di kamar ini imajinasi ku bermain main di balkon belum kesampaian. Besok lagi saja kalau Mama sudah terobati kangen nya dengan Charlotte.” Gumam Marcel dalam hati sambil menggandeng tangan mungil Charlotte dan Alamanda.
Beberapa waktu kemudian dua mobil keluar dari tempat parkir. Mobil Bang Bule Vincent membawa Tuan dan Nyonya Ernest, yang satu nya mobil Marcel membawa anak dan istrinya. Charlotte dipangku Alamanda tangan mungil Charlotte melambai lambai pada mobil Bang Bule Vincent.
Saat mobil akan keluar dari pintu gerbang hotel. Tampak sebuah sepeda onthel masuk nyelonong dengan cepat. Untung saja Marcel selalu waspada dan cekatan dalam mengambil tindakan untuk keselamatan semua termasuk pengendara lainnya. Marcel menghentikan mobilnya demikian juga Bang Bule Vincent yang berada di belakang nya.
“Kakek, Nenek..” teriak Marcel dan Alamanda yang melihat Kakek dan Nenek Oji yang berada di atas sepeda itu. Kakek Oji tersenyum lebar di atas sepada yang sudah direm nya. Sedang Nenek Oji segera turun dari boncengan dengan kedua tangannya membawa kantong plastik yang berisi botol-botol jamu.
“Ini aku mau kasih jamu. Untung belum ketinggalan.“ teriak Nenek Oji.
“Hati hati ya... semoga cepat berhasil. Aku akan selalu rindu pada kalian. Jangan lupa sering datang ke rumah ya...” ucap Nenek Oji memberikan satu kantong plastik pada Marcel, Nenek Oji menitikkan air mata karena masih ingin selalu bersama.
“Iya Nek, kami akan selalu sering datang berkunjung.” Ucap mereka bertiga . Dan setelah pamit pada Nenek dan Kakek Oji, mobil segera berjalan. Nenek Oji pun sudah memberikan botol jamu pada Tuan Ernestan.
Akan tetapi tiba tiba...
“Waduh.. Aku belum kasih pesan tadi mana yang jamu Tuan Cucu mantu , mana yang buat Nona Charlotte. “ teriak Nenek Oji sambil menepuk jidat nya sendiri.
“Kek, ayo susul mereka!” perintah Nenek Oji pada suaminya dan dia segera duduk di boncengan sepeda.