
Sore hari di Mansion Hanson.
Marcel sejak pulang dari menjemput Charlotte, tidak lagi kembali ke Hanson Co ataupun ke ruang kerjanya di Mansion Hanson. Dia menunggui Charlotte di kamar Charlotte sambil bekerja dengan lap top nya setiap lima belas menit dia memegang dahi Charlotte untuk mengecek suhu tubuh Charlotte. Pengaruh obat yang Charlotte minum setelah makan siang tadi membuat Charlotte tertidur lagi.
Dan tiba tiba..
“Pa, kita jadi ke apartemen?” tanya Charlotte saat terjaga dari tidurnya.
“Iya Sayang, sepertinya kamu sudah tidak demam lagi. Okey, Papa mandi dulu ya...” ucap Marcel sambil menutup layar lap topnya.
“Aku juga mandi dulu Papa...” ucap Charlotte sambil bangkit dari tidurnya. Tampak Marcel yang sudah menutup layar lap topnya segera membantu Charlotte.
“Tidak usah mandi, biar Nanny mengelap tubuhmu saja...” ucap Marcel sambil merapikan rambut Charlotte.
“Nanti dikasih parfum yang banyak hmmm hmmm .. kamu tidak mandi juga masih harum kok... “ ucap Marcel sambil mencium puncak kepala Charlotte. Marcel pun lalu bangkit berdiri melangkah keluar dari kamar Charlotte. Dan pengasuh Charlotte pun segera menghampiri Charlotte untuk mengelap tubuh mungil Charlotte dan mengganti baju Charlotte.
Sedangkan Marcel hatinya lega sebab Charlotte tidak lagi demam. Dan dia sangat senang sebab akan bertemu lagi dengan Alamanda. Marcel segera mandi dan setelahnya tidak lupa dia menyemprot tubuhnya dengan parfum banyak banyak.
Setelah selesai berkemas diri, Marcel yang sudah tampil keren dan wangi maskulin itu segera melangkah keluar dari kamarnya menuju ke kamar Charlotte. Hati Marcel sungguh sungguh bahagia karena sudah bersatu dengan Charlotte buah hatinya, dan tidak lama lagi dia pun akan melamar Alamanda.
“Hmm apa sekalian nanti menentukan hari lamaran.” Gumam Marcel sambil melangkah menuju ke kamar Charlotte.
Marcel segera membuka pintu kamar Charlotte. Tampak Charlotte sudah tampil cantik dan harum parfum khusus Charlotte pun tercium di hidung Marcel.
“Anak Papa sudah cantik dan harum...” ucap Marcel sambil melangkah mendekati Charlotte yang masih duduk di tempat tidurnya. Dan Charlotte hanya tersenyum sambil menatap Sang Papa Marcel.
“Ayo Sayang.. kamu lihat di ruang depan ada banyak bingkisan itu buat Ners Alamanda yang tidak lama lagi akan kita lamar. Dia tidak hanya kita lamar untuk menjadi istri Papa tapi juga kita lamar untuk menjadi Mama nya Charlotte..” ucap Marcel sambil meraih tubuh mungil Charlotte untuk digendong.
Akan tetapi Marcel sangat kaget saat merasakan tubuh Charlotte agak demam. Suhu tubuh Charlotte lebih tinggi dibanding saat tadi ditinggal Marcel.
“Nanny..!” teriak Marcel.
“Iya Tuan..” suara sang pengasuh Charlotte dari meja rias di kamar Charlotte, dia sedang merapikan peralatan milik Charlotte.
“Apa Charlotte tadi kamu mandi kan?” tanya Marcel yang sudah menggendong Charlotte sambil mengusap usap puncak kepala Charlotte yang terasa demam lagi.
“Tidak Tuan, saya lap dengan air hangat saja dengan wash lap. “ jawab Sang pengasuh sambil menoleh ke arah Marcel tampak ekspresi wajah Sang pengasuh takut takut karena melihat ekspresi wajah Marcel yang tampak panik.
“Papa, aku tidak apa apa, ayo kita segera pergi ke apartemen aku sudah rindu dengan Ners Alamanda.” Ucap Charlotte sambil menatap wajah Marcel. Dua pipi Charlotte tampak merah jambu bukan karena tersipu malu akan tetapi karena suhu tubuhnya yang demam.
Sang pengasuh Charlotte tampak segera mendekati Charlotte dan mengecek suhu tubuh Charlotte dengan termometer sebab dia sudah di pesan oleh Dokter Willy untuk mengecek suhu tubuh Charlotte. Ekspresi pengasuh Charlotte pun tampak panik saat suhu tubuh Charlotte di atas rata rata suhu tubuh normal.
“Iya Tuan, di atas suhu tubuh normal.” Ucap sang pengasuh saat Marcel menanyakan berapa suhu tubuh Charlotte.
“Aku tidak apa apa Pa...” ucap lirih Charlotte yang masih ingin bertemu dengan Alamanda.
“Kita tunggu Dokter Willy ya Sayang..” ucap Marcel yang kini sudah memangku tubuh mungil Charlotte. Dia benamkan tubuh mungil Charlotte itu pada dada bidangnya.
Beberapa menit kemudian Dokter Willy sudah datang.
“Hallo Charlotte cantik...” ucap Dokter Willy saat masuk ke dalam kamar Charlotte. Dan Dokter Willy pun segera memeriksa tubuh Charlotte.
“Tuan, besok lebih baik Charlotte dibawa ke rumah sakit lagi untuk cek darah.” Ucap Dokter Willy setelah memeriksa tubuh Charlotte.
“Apa ada yang mengkhawatirkan Dok?” tanya Marcel dengan nada dan ekspresi wajah tampak khawatir. Nyonya Hanson yang juga sudah berada di dalam kamar Charlotte juga tampak khawatir, dia sejak tadi mengomeli pengasuh Charlotte karena Charlotte kembali demam.
“Deteksi lebih awal lebih baik Tuan Marcel. Karena Nona Charlotte ada riwayat sel kanker di tubuhnya. Saya sudah memberi suntikan dan obat demam kalau hanya demam akibat virus flu biasa harusnya sudah membaik sore ini. Tapi ini Nona Charlotte demam lagi.” Ucap Dokter Willy.
“Sudah saya katakan, pola makan, pola hidup dan kondisi psikis sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sel kanker pada pasien dengan riwayat sakit kanker.” Ucap Dokter Willy selanjutnya karena dia tahu jika Charlotte beberapa hari terakhir tinggal di Mansion Wijaya.
“Dok, suntik aku lagi agar aku cepat sehat aku mau ketemu Ners Alamanda sekarang..” ucap Charlotte sambil memberikan pantatt nya pada Pak Dokter Willy.
“Suntiknya besok lagi ya Nona, nanti minum obat saja dan vitamin. Sekarang Nona istirahat dulu, jangan pergi pergi dulu. Kalau ingin ketemu Ners Alamanda, biar dia yang datang ke sini ya.. “ ucap Dokter Willy sambil memberikan obat dan vitamin pada Marcel.
“Dok, kalau besok pagi sudah tidak demam bagai mana?” tanya Marcel sambil menerima obat dari Dokter Willy.
“Tetap lakukan cek darah.” Ucap Dokter Willy dengan mantap.
“Iya Cel, sudah dibilang Pak Dokter, deteksi awal lebih baik. Kejadian ini juga bisa buat alasan kamu meminta hak asuh Charlotte. Baru berapa hari saja di Mansion Wijaya, Charlotte sudah sakit.” Ucap Nyonya Hanson yang kini tidak mau kehilangan Charlotte..
“Pasti di Mansion Wijaya pola makan Charlotte kacau, mereka tidak tahu jika sel kanker di tubuh Charlotte bisa muncul lagi. Tahu nya setelah dioperasi sudah selesai.” Ucap Nyonya Hanson yang masih ngedumel dan sang pengasuh pun mengangguk anggukkan kepalanya agar dia tidak diomeli lagi.
“Sama itu Nyonya terlalu dikekang tidak boleh ketemu Tuan Marcel dan tidak boleh pegang tablet. Nona Charlotte pasti stres..” ucap Sang pengasuh memberi tambahan laporan.
“Saya saja ikut stres.” Ucap sang pengasuh lagi. Marcel yang masih memangku Charlotte memeluk dengan erat tubuh mungil Charlotte sambil menciumi wajah Charlotte. Dia tidak ingin Charlotte sakit kanker lagi dan tidak ingin berpisah dari Charlotte.
“Okey kalau begitu, ini saya mau mengunjungi Nyonya Ernest. Nanti saya sampaikan pada Ners Alamanda kalau Charlotte sudah sangat kangen..” ucap Dokter Willy sambil mengusap usap puncak kepala Charlotte.