
“Kenapa mereka juga datang ke sini?” gumam Nyonya Hanson lagi di dalam hati.
Di saat Nyonya Hanson masih berdiri dan bengong. Bapak dan Ibu Irawan berjalan tergopoh gopoh menyambut dirinya.
“Nyonya mari silahkan datang... Eh silahkan masuk...” ucap Ibu Irawan dengan bibir tersenyum akan tetapi hati was was karena takut dan jantung berdebar debar.
“Maaf rumah kami seperti ini...” tambah Bapak Irawan, mereka berdua mengulurkan tangan pada calon besan itu sambil membungkukkan badan.
“Hmmm ..” gumam Nyonya Hanson dengan sinis dan hanya sebentar menyambut tangan bapak dan ibu Irawan, itu pun hanya ujung jari saja yang disentuhkannya.
“Cel! Terus aku duduk di mana?” tanya Nyonya Hanson yang sudah masuk ke dalam ruang tamu yang sempit itu dan Nyonya Hanson masih berdiri saja. Ruangan semakin terlihat sempit karena banyaknya bingkisan yang dibawa oleh Marcel.
“Sini Oma, dekat aku.” Suara Charlotte yang sudah duduk manis di samping Marcel sambil memangku kotak perhiasan yang sudah diberi hiasan pita cantik.
“Kalau Nyonya mau duduk di kursi biar kita masukkan satu kursi.” Suara Pak Irawan sambil bangkit berdiri.
“Tidak usah!” ucap Nyonya Hanson lalu dia pun duduk di samping Charlotte.
“Pihak keluarga mempelai perempuan dan mempelai laki laki sudah siap. Saksi dari kedua belah pihak juga sudah siap. Mari kita mulai saja.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius.
“Tunggu dulu ada orang yang masih kita tunggu.” Ucap Marcel sambil melihat waktu di arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Cel, apa kamu mengundang Tuan dan Nyonya Wijaya? Malu tahu kalau tahu sekarang besan ku jauh dari level dia..” bisik Nyonya Hanson pada Marcel.
Dan beberapa saat kemudian di pintu muncul sosok seorang laki laki dan seorang perempuan setengah baya.
“Maaf sudah menunggu kami.” Suara seorang laki laki setengah baya itu yang tidak lain adalah Dokter Willy yang didampingi oleh Sang istri. Mereka memang diundang oleh Marcel sebagai saksi.
“Sudah tidak ada yang ditunggu kan Cel?” tanya Bang Bule Vincent dan Marcel pun mengangguk mantap.
“Ya sudah kita mulai saja.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya yang kini dia menjadi pengatur jalannya acara nikah kilat itu.
“Terima kasih atas kedatangan bapak bapak ibu ibu, Tuan Tuan Nyonya Nyonya dan saudara semua untuk menghadiri acara pernikahan Alamanda dan Marcel di hari ini. Kita langsung mulai saja acaranya. Silahkan pihak keluarga mempelai laki laki menyampaikan maksud kedatangannya. “ suara Bang Bule Vincent sambil menatap ke arah tempat duduk rombongan Marcel.
“Oma sekarang mulai melamar Mama Alamanda, ucapkan seperti yang aku ajarkan tadi.” Bisik Charlotte pada Sang Oma. Beberapa orang yang mendengar tersenyum gemas pada Charlotte.
“Ehem... ehem...” Nyonya Hanson berdehem dehem untuk mengetes suaranya.
“Langsung saja juga pada pokok kedatangan kami keluarga Hanson ke sini. Saya sebagai orang tua Marcel akan melamar Alamanda untuk menjadi istri anak saya Marcel dan Mama dari cucu saya Charlotte.” Ucap Nyonya Hanson dengan nada datar sambil menatap bapak dan ibu Irawan.
“Dan karena Marcel dan Alamanda sudah saling mencintai maka kami berharap Bapak....” ucap Nyonya Hanson selanjutnya dan terhenti karena dia lupa nama orang tua Alamanda.
“Kami harap Bapak Irawan langsung menikahkan Alamanda dengan Marcel. ” Ucap Nyonya Hanson selanjutnya sambil menatap Pak Irawan.
“Saya juga minta maaf jika kedatangan kami mengagetkan karena dadakan. Saya sendiri juga bingung dengan kemauan Marcel ini, datang datang langsung minta nikah kilat padahal saya belum menyiapkan apa apa ...” ucap Nyonya Hanson lagi
“Oma.. sudah... jangan curhat di sini..” potong Charlotte yang sudah tidak sabar
“Iya Iya, begitu Bapak dan Ibu Irawan maksud kedatangan saya, semoga lamaran saya diterima. Terima kasih.” Ucap Nyonya Hanson selanjutnya lalu dia diam.
“Hmmm sudah pasti lah diterima dengan senang hati.” Gumam Nyonya Hanson selanjutnya di dalam hati. Bibir Nyonya Hanson tampak tersenyum seringai hanya satu sudut bibir yang terangkat.
“Kami orang tua Alamanda Juliana mengucapkan banyak terima kasih atas kedatangan Nyonya Hanson dan keluarga ke rumah kami yang sangat tidak layak ini. Kami mengucapkan mohon maaf sebesar besarnya. Dan untuk lamaran pada Alamanda, saya sebagai orang tua hanya mendukung kemauan anak, jika mereka sudah saling mencintai mari segera kita nikah kan mereka...” ucap Pak Irawan memandang Nyonya Hanson lalu Marcel dan Alamanda, selanjutnya memandang Bang Bule Vincent dengan maksud menyerahkan waktu pada Bang Bule Vincent.
“Mari.. ayo cepat..” suara lantang Charlotte dengan senyum lebar bahagia. Semua yang ada di ruangan itu tersenyum gemas pada Charlotte kecuali Nyonya Hanson yang hanya diam saja.
“Okey kalau begitu langsung saja.” Ucap Bang Bule Vincent.
Bapak Irawan pun lalu duduk berhadapan dengan Marcel yang masih didampingi oleh Nyonya Hanson dan Charlotte. Petugas yang akan menikahkan mereka pun juga duduk bersila di dekat mereka.
Pak Irawan dan Marcel lancar mengucapkan kalimat sakral pernikahan itu, meski pun tidak latihan. Dan pernikahan mereka pun dinyatakan sah.
Alamanda menjabat tangan Marcel, mencium punggung tangan Marcel. Marcel yang terharu pun lalu memeluk tubuh Alamanda dan mencium kening Alamanda dengan lembut sepenuh hati.
“Saya berjanji akan menjadi istri yang baik buat Kak Marcel, dan Mama yang baik buat anak anak Kak Marcel. Saya akan mencintai dan menyayangi Charlotte dengan tulus tidak membeda bedakan dengan anak anak yang saya lahirkan kelak.” Ucap Alamanda lalu memeluk dan menciumi Charlotte. Charlotte pun memeluk dengan erat dan menciumi pipi Alamanda, saking begitu bahagianya Charlotte sampai menangis. Marcel pun lalu memeluk dua perempuan yang sangat dicintainya itu.
Setelah mereka bertiga puas berpelukan, orang orang yang ada di ruang itu pun memberi selamat pada mereka bertiga.
Dan kini tiba Nenek Oji bangkit berdiri dan berjalan mendekati Alamanda.
“Al, karena kamu sudah menikah aku kasih kalung ini pada kamu.” Ucap Nenek Oji yang mendekat pada Alamanda sambil menyerahkan sebuah kalung emas putih dengan sebuah liontin inisial AD bertahta permata yang sangat indah.
Bapak Ibu Irawan dan anak anaknya terlihat heran dengan kalung yang dibawa oleh Nenek Oji, mereka semua belum pernah melihat kalung dan liontin yang sangat indah dan tampak merupakan barang mahal. Bukan kalung emas yang dijual di toko emas depan pasar tradisional.
“Meski pun aku tahu suami kamu sangat kaya, dan kamu tidak akan kekurangan. Tetapi aku berikan kalung ini ke kamu jika sewaktu waktu kamu sedang terkena masalah keuangan semoga ini bisa membantu kamu. Dan tugasku menjaga kalung ini selesai. Aku senang kamu bisa sehat sampai sekarang dan tidak menjual kalung bagus ini.” Bisik Nenek Oji sambil memasang kalung itu di leher Alamanda. Semua orang tidak mendengar apa yang dibisikkan oleh Nenek Oji, akan tetapi semua melihat ke arah Alamanda terutama pada kalung yang dipasangkan itu.
Tuan dan Nyonya Ernest terbelalak matanya saat melihat kalung terutama liontin yang nempel di dada Alamanda. Nyonya Ernest menepuk pundak sang suami yang duduk di karpet di sebelahnya.
“Sabar Ma, jangan gegabah...” bisik Tuan Ernest yang tidak didengar oleh yang lainnya kecuali sang isteri.