
“Kami percaya Nona Cantik, kalau Papa Marcel bisa membelikan yang lebih bagus, tapi biarlah itu untuk Mama Alamanda. Oma Ernest sudah tua sudah tidak ingin kalung itu lagi...” ucap Nyonya Ernest sambil tersenyum menatap wajah imut Charlotte.
Di saat mereka masih berbincang bincang tentang kalung. Terdengar suara ketukan di pintu kamar itu.
TOK TOK TOK TOK
“Aku yang buka kan pintu ya...” teriak Charlotte sambil turun dari pangkuan Tuan Ernest lalu berlari menuju ke pintu. Tangan mungil Charlotte terangkat ke atas meraih handel pintu dan memutarnya, sesaat tampak sosok tiga orang perempuan berbeda generasi. Nona Eveline, Suster Rita dan satu perempuan lagi yang usianya kira kira mendekati empat puluh tahun, dia lah menantu perempuan Suster Rita.
“Ooo tamunya Papa dan Opa Ernestan.. Opa Ernest ada tapi Papa sedang bobok katanya masih mengantuk dan nanti mau kerja lembur..” ucap Charlotte sambil menatap Eveline.
“Kami mau bertemu Tuan dan Nyonya Ernest, Nona cantik..” ucap Eveline sambil tersenyum menatap wajah imut Charlotte. Dia sebenarnya ingin berteman lebih dekat dengan Charlotte sebab dia sudah diberi tahu oleh Bang Bule Vincent jika rekaman percakapan Tuan Sam didapat dari tablet milik Charlotte. Akan tetapi waktu belum memungkinkan.
“Silahkan masuk, sudah kami tunggu tunggu.” Suara Tuan Ernest
Mereka lalu duduk di sofa di ruang tamu di dalam kamar hotel Tuan dan Nyonya Ernest.
“Ceritakan pada kami, bagaimana kamu bisa mendapatkan kalung dan liontin itu.” Ucap Nyonya Ernest yang sudah tidak sabar.
“Ehmmm ...” gumam Suster Rita mengatur kata kata , perasaan dan juga mengingat ingat masa lalu.
“Begini awal ceritanya. Saat itu saya sedang membantu pasien yang akan melahirkan secara normal karena tidak memiliki biaya operasi, tetapi karena kondisi kesehatan tidak memungkinkan ibu itu malah pendarahan dan bayi belum bisa ke luar...” ucap Suster Rita mengawali ceritanya.
“Kenapa tidak dioperasi pakai BPJS...” saut Charlotte yang ikut duduk di pangkuan Alamanda. Alamanda yang tahu jika pasien itu adalah Mamanya tampak ekspresi wajah Alamanda sedih dan prihatin.
“Saat itu belum ada BPJS Nona Cantik..” ucap Suster Rita sambil tersenyum menatap Charlotte.
“Lanjutkan.” Ucap Nyonya Ernest setelah Alamanda dan Charlotte sudah keluar dari kamar itu.
“Karena ibu itu tidak kuat dan pingsan dan bayi harus segera dikeluarkan maka harus dilakukan operasi.” Ucap suster Rita itu selanjutnya.
“Apa bayi itu selamat?” tanya Tuan dan Nyonya Ernest secara bersamaan.
Suster Rita tidak menjawab akan tetapi dia menarik nafas dalam dalam.
“Selang beberapa menit ada pasien lagi yang masuk ke dalam ruang operasi itu. Dia korban kecelakaan, sama ibu muda itu juga mengalami pendarahan akan tetapi dia masih sadar. Dan saya diberi tugas untuk membantu pasien itu.” Ucap Suster Rita dan kini air mata mulai menggenang dan satu kedipan saja air mata itu sudah jatuh ke pipinya.
“Debora.” Gumam Tuan dan Nyonya Ernest dalam hati yang menebak korban kecelakaan yang akan melahirkan itu Debora sang menantu.
“Dia terus berteriak teriak meminta anaknya diselamatkan sambil dia menahan kesakitan, sakit karena luka kecelakaan dan sakit karena mau melahirkan hiks.. hiks... hiks...” ucap Suster Rita yang mulai menangis terisak isak, karena teringat kejadian yang dia lihat di masa lalu.
“Terus, bagaimana?” tanya Tuan dan Nyonya Ernest dengan tidak sabar.
“Bayi itu selamat bayi perempuan yang sangat cantik wajahnya sangat mirip dengan ibu muda itu.” Jawab suster Rita.
“Namun Ibu muda itu hanya bisa melihat beberapa menit saja bayi yang dilahirkan dan selanjutnya dia menghembuskan nafas terakhirnya sambil mencium bayi yang belum sempat mendapat asi itu.” Ucap Suster Rita sambil menghapus air matanya.
“Terus bagaimana dengan kalung dan liontin itu. Punya siapa kalung dan liontin itu? apa punya pasien korban kecelakaan itu? dan bagaimana bisa ada di tanganmu ? Terus di mana bayi perempuan cantik itu?” tanya Tuan Ernest dengan tidak sabar.