
Sementara Charlotte dan Alamanda yang ditatap Mamanya Alamanda, malah mereka berdua saling pandang. Charlotte mengangkat kedua alisnya dan dinaik turunkan berkali kali. Alamanda yang sejak tadi tidak bisa tersenyum kini tersenyum melihat wajah Charlotte.
“Oma perutku lapar...” ucap Charlotte selanjutnya sambil menoleh menatap Mamanya Alamanda.
“Charlotte...” ucap Marcel dengan suara pelan sambil menoleh ke arah Charlotte, untuk memberi peringatan agar tidak terlalu jujur untuk mengatakan kondisi lambungnya. Meskipun Marcel pun kini juga sudah merasakan lapar.
“Ooo maaf Nona makan jamuan acara yang gagal ini mau?” ucap Alexandria sambil menatap wajah Charlotte dan Charlotte pun menganggukkan kepalanya.
“Sebenarnya aku dan Papa ingin mengajak Ners Alamanda dan orang tua Ners Alamanda makan malam di luar. Tetapi sepertinya waktunya belum tepat. Jadi tidak apa apa lah aku makan di sini...” ucap Charlotte kemudian sambil menatap Alamanda.
“Sebentar sebentar Nona ini adalah Nona yang dirawat Alamanda ya?” tanya Mamanya Alamanda setelah Charlotte mengucapkan kata Ners dan juga ingat jika Alamanda bekerja pada keluarga Hanson. Sebab tadi Mamanya Alamanda benar benar kaget dan panik karena gagalnya acara lamaran sehingga tidak bisa berpikir jernih.
“Al, jawab aku apa benar kamu sudah menjual sel telurmu? Apa benar dia anakmu?” tanya Mamanya Alamanda selanjutnya dengan nada serius.
“Ma itu aku jelaskan nanti saja. Sekarang biar Tuan Marcel dan Nona Charlotte makan dulu. Aku juga lapar.” Ucap Alamanda yang tidak ingin mengulas masalah ucapan Charlotte yang sudah sukses menggagalkan acara lamaran. Alamanda lalu bangkit berdiri masih dengan baju kebaya Alamanda berjalan menuju ke dapur kecil di dalam rumah itu. Alamanda membuatkan salad sayur dan salad buah kesukaan Charlotte. Sementara Jasmine dan Iqbal adik adik Alamanda sudah melangkah ke ruang tamu membawa nasi kotak yang sama dengan dibawa oleh tamu tamu tadi.
Marcel dan Charlotte sudah dipersilakan makan oleh kedua orang tua Alamanda akan tetapi Charlotte dan Marcel menunggu Alamanda.
Beberapa menit kemudian Alamanda yang masih memakai baju kebaya keluar sambil membawa mangkok berisi salad sayur, dan di belakangan Jasmine membawakan mangkok besar berisi salad buah, sedangkan Iqbal membawakan peralatan makan. Kedua adik Alamanda itu tadi membantu Alamanda agar lebih cepat dalam bekerja, di samping itu mereka berdua pun banyak bertanya tentang Charlotte dan Marcel.
Marcel menatap Alamanda dengan penuh kekaguman dan rasa sayang yang semakin dalam. Charlotte pun menatap Alamanda dengan senyum dan mata yang berbinar binar.
Mereka akhirnya mulai makan. Alamanda dengan sabar menyuapi Charlotte yang memang dengan manja minta disuapi oleh Alamanda. Charlotte pun mengatakan sedih hatinya saat Alamanda pergi dari Mansion. Dan minta Alamanda kembali lagi ke Mansion Hanson.
“Ners Alamanda maukah kamu menjadi Mamaku yang sungguh sungguh?” ucap Charlotte setelah selesai makan.
“Aku bicara untuk mewakili Papaku melamar Ners Alamanda he... he...” ucap Charlotte sambil tertawa kecil mungkin sejak tadi dia menyimak acara lamaran yang gagal dan kini dia mempraktikkannya untuk mewakili Papanya.
“Ehm ehmmm.” Marcel berdehem dehem lalu menegak air mineral di depannya.
“Akan tetapi acara lamaran yang sebetulnya bukan malam ini. Benar kami tadi datang ke sini hanya ingin berkunjung saja.” Ucap Marcel kemudian dan tampak Alamanda tersipu sipu malu. Papanya Alamanda tampak mengangguk anggukkan kepala tanda sangat setuju. Selain Marcel sudah melunasi hutang hutangnya, Marcel pun lebih muda dan lebih keren daripada Juragan Darman. Namun beda dengan Mamanya Alamanda wajah beliau tampak tegang dan berekspresi serius tanpa senyuman.
“Kami keluarga yang sangat sangat sederhana ini merasa tersanjung anak kami Tuan lamar. Akan tetapi kami inginkan orang tua Tuan Marcel yang datang melamar anak saya untuk Tuan Marcel.” Ucap Mamanya Alamanda dengan nada serius, sebab Alamanda pernah curhat kepadanya jika Nyonya Hanson tidak menyukai dirinya bekerja di dalam Mansion Hanson. Jika bekerja saja tidak disukai apalagi masuk dalam keluarga Hanson, begitu pikir Mamanya Alamanda.
“Baik saat acara lamaran resmi nanti, saya akan datang bersama orang tua saya.” Ucap Marcel dengan mantap meskipun dalam hati dia tidak yakin jika Sang Mama, Nyonya Hanson bersedia datang ke rumah Alamanda untuk melamar.
“Asyyyyyiiiikkkkk...” teriak Charlotte dengan senyum lebar cerianya, lalu bangkit berdiri dan meloncat loncat. Jasmine yang sejak tadi duduk di dekatnya gemes dan menoel noel kedua pipi Charlotte. Iqbal yang juga duduk tidak jauh dari mereka juga tersenyum bahagia menatap Charlotte.
Waktu pun berlalu saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan Marcel pamit mohon diri. Charlotte sebenarnya masih ingin berlama lama berada di dekat Alamanda, akan tetapi setelah diberitahu oleh Marcel akhirnya dia pun mau pulang. Keluarga Alamanda mengantar hingga di tempat parkir mobil. Marcel mengeluarkan semua bingkisan yang tadi sudah dibeli dan diberikan pada keluarga Alamanda. Marcel lalu segera menggendong Charlotte dan dimasukkan ke dalam mobil, Marcel pun juga turut masuk. Lalu mobil berjalan meninggalkan keluarga Alamanda yang masih berdiri di mulut gang sambil melambai lambaikan tangan, telapak tangan mungil Charlotte pun dia tempelkan pada kaca jendela mobil di samping tempat duduknya.
Mobil terus melaju menuju ke Mansion Hanson. Charlotte tampak terus tersenyum sedangkan Marcel hanya diam saja dia masih mencari cara bagaimana caranya untuk mengajak Sang Mama agar mau melamar Alamanda.
“Papa tenang saja nanti aku bantu agar Oma mau datang melamar Ners Alamanda.” Ucap Charlotte dengan nada serius sambil menoleh menatap Sang Papa yang mengemudikan mobil dengan ekspresi wajah berpikir keras. Akan tetapi tiba tiba Marcel teringat akan kejadian tadi.
“Sayang bagaimana kamu bisa punya ide tentang Papa membeli sel telur Ners Alamanda? Kamu kok tahu istilah sel telur segala?” ucap Marcel sambil geleng geleng kepala karena tidak menyangka anaknya bisa mempunyai ide seperti itu dan berani mengucapkan hingga sampai bisa membatalkan acara lamaran.
“Papa ingin tahu banget?” tanya Charlotte sambil menoleh menatap wajah Sang Papa dari samping, sebab Marcel masih fokus mengemudikan mobilnya. Marcel pun menganggukkan kepalanya.
“Aku pernah dengar pembicaraan Oma dan Mama Patricia dan aku juga cari informasi dari mesin pencarian.” Jawab Charlotte dengan nada serius dengan tatapan mata yang tertuju ke arah depan mobil.
“Oma dan Mama bicara apa?” tanya Marcel penasaran. Marcel lalu sekilas menatap wajah Charlotte akan tetapi kini ekspresi wajah Charlotte tampak sedih.
Mobil terus melaju menuju Mansion Hanson. Marcel masih menunggu Charlotte menceritakan sesuatu akan tetapi tampak Charlotte masih membisu. Marcel melepas tangan kiri dari pegangan kemudinya lalu mengusap usap puncak kepala Charlotte sejenak.
“Hmmm mereka bicara masalah apa.” Gumam Marcel