Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 107.


Waktu pun terus berlalu di hotel bintang lima, jam makan malam telah tiba. Dokter Willy masih setia berada di dalam kamar Tuan dan Nyonya Ernest karena tugasnya belum terlaksana. Sebab dia belum bisa menemui Alamanda.


“Dokter silakan makan malam ke ruang makan khusus di hotel ini. Biar saya menemani istri saya makan di sini. Kasihan dia kalau harus ke ruang makan.” Ucap Tuan Ernest sambil menatap Sang istri yang masih terbaring di tempat tidur sebab leher belakang nya masih kaku kaku meskipun sudah minum obat.


“Pa, aku mau makan di ruang makan saja biar aku bisa segera ketemu Alamanda, kalau Dokter Willy tidak berani mengatakan pada Alamanda biar aku sendiri yang mengatakan dan aku akan minta izin pada Tuan Marcel.” Ucap Nyonya Ernest sambil berusaha bangkit dari berbaringnya. Tuan Ernest yang melihat Sang istri agak kesulitan mengangkat punggung dan kepalanya itu cepat cepat membantunya.


“Ma, makan di sini saja ya.. Biar aku telepon bagian restoran.” Ucap Tuan Ernest sambil membantu membangunkan tubuh Sang Istri.


“Tidak! Dokter Willy paling tidak berani pada Tuan Marcel.” Ucap Nyonya Ernest yang keukeuh ingin tetap makan di ruang makan. Dokter Willy pun segera bangkit berdiri dari sofa dan melangkah membantu Nyonya Ernest untuk duduk di kursi roda nya dan Dokter Willy pula yang mendorong kursi roda itu menuju ke ruang makan khusus. Tuan Ernest melangkah di samping kursi roda itu.


Sesaat mereka sudah sampai di ruang makan khusus yang dipesan oleh Tuan Ernest. Tampak keluarga Irawan sudah berada di dalam ruang makan itu. Charlotte pun sudah duduk cantik di dekat Jasmine. Sedangkan Nyonya Hanson sudah izin pulang terlebih dahulu sebab dia merasa tidak nyaman dekat dekat dengan keluarga Irawan.


“Oma.. Opa Ernest selamat malam, lihat aku makan banyak sekali karena tadi siang sudah minum jamu kuat seperti Papa..” ucap Charlotte dengan lantang sambil menunjukkan piring di depan nya sudah kosong.


“Di mana Mama kamu Nona Charlotte?” tanya Nyonya Ernest yang ingin segera bertemu dengan Alamanda.


“Nona di mana Mama Alamanda? Apa kamu makan makanan yang sehat Nona?” tanya Dokter Willy


“Tenang Dokter, Tante Jasmine sudah tahu makananku dia biasa membantu Mama untuk menyiapkan makanan jika aku sedang di rumah Mama Alamanda. “


“Dokter aku kan sudah bilang jika Mama dan Papaku masih tidur agar aku segera punya adik. Aku nanti sehabis makan juga akan tidur biar tubuhmu cepat kuat dan penyakitku segera pergi.. kata Nenek Oji biar penyakitku pergi wes ewes ewes... kik.. kik... kik...” ucap Charlotte lagi sambil tertawa kecil. Nenek Oji pun tersenyum lebar mendengar kalimat Charlotte.


“Hmmm jadi mereka berdua benar benar masih tidur? Atau sedang membuat adik buat Charlotte ?” gumam Nyonya Ernest di dalam hati.


Akhirnya Nyonya Ernest pun makan malam dengan tenang dan bahagia membayangkan dirinya akan segera memiliki cicit kandung. Tuan Ernest pun tampak senang melihat Sang istri makan dengan lahap dan ekspresi wajahnya sudah tampak tenang.


“Tuan Nyonya apa saya sudah boleh pulang setelah makan malam jika sepasang pengantin baru itu tidak mau diganggu.” Ucap lirih Dokter Willy.


“Jangan pulang dulu.” Ucap Tuan Ernest yang tahu jika kondisi emosi sang istri masih labil.


Akan tetapi tiba tiba hand phone milik Tuan Ernest berdering dengan nyaring. Tuan Ernest pun segera mengambil hand phone dari saku kemejanya.


“Ibu pelayan.” Gumam Tuan Ernest saat melihat nama kontak ibu pelayan senior melakukan panggilan suara. Tuan Ernest segera menggeser tombol hijau sebab dia khawatir jika ada hal penting tentang kedatangan Eveline di Mansion nya.


“Tuan, hiks... hiks... maafkan saya... hiks.. hiks..” suara ibu pelayan senior di antara isakan tangisnya.


“Ada apa?” tanya Tuan Ernest dengan nada panik hingga Nyonya Ernest dan juga orang orang yang berada di dalam ruang makan khusus itu menoleh menatap Tuan Ernest.


“Itu hiks... hiks... Tuan... hiks ...hiks...” suara ibu pelayan senior lagi.


“Kamu sekarang menangis dulu, baru setelah selesai kamu menangis katakan yang jelas kepadaku. Kalau kamu berkata satu patah kata terus menangis aku bingung!” suara Tuan Ernest dengan nada tinggi.


“Pa, ada apa?” tanya Nyonya Ernest dengan nada khawatir karena suaminya berbicara dengan nada tinggi.


"Ibu pelayan masih menangis belum mengatakan dengan jelas. Aku berharap Nona Eveline dan Mansion baik baik saja." ucap Tuan Ernest yang masih menunggu ibu pelayan mengatakan dengan jelas.