
“Siapa yang ketuk ketuk pintu itu? Mengganggu saja. Apa kamu memesan makanan lagi?” ucap Tuan Ernest sambil menatap Sang istri dan Eveline. Nyonya Ernest hanya menggelengkan kepalanya, dada dan lehernya masih sakit macam ada setingkat batu di dalam lehernya hingga dia tidak mampu mengucapkan satu patah kata pun.
Eveline lalu bangkit berdiri dan melangkah menuju ke pintu untuk membukakan pintu melihat siapa yang mengetuk pintu dengan keras. Eveline pun memasang mode waspada.
Saat pintu dibuka...
“Suster Rita.....” teriak Nenek Oji sambil berlari menghambur ke ruang tamu di kamar hotel Tuan dan Nyonya Ernest. Nenek Oji langsung berlari menuju ke tempat duduk suster Rita. Meski pun Nenek Oji sudah tua namun gerakannya masih gesit mungkin pengaruh dia juga sering minum jamu buatannya sendiri.
“Suster Rita, akhirnya kita bisa bertemu lagi setelah puluhan tahun tidak berjumpa. Aku pergi ke rumah sakit saat Alamanda diterima di sekolah perawat untuk memberikan kabar bahagia itu pada Suster Rita. Tapi suster Rita sudah tidak ada di rumah sakit itu. Saya tanya tanya pada teman teman suster tidak ada yang tahu. Tuan Ernest memang hebat langsung bisa menemukan suster Rita. Kalung dan liontin itu masih ada Suster hanya sempat saya gadaikan saja dan sekarang sudah saya berikan pada Alamanda.. terima kasih suster, kalung itu memang sudah menolong kami di saat kesulitan.” Ucap Nenek Oji beruntun sambung menyambung sambil langsung memeluk suster Rita dan menggusur menantu perempuan Suster Rita.
Suster Rita pun memeluk Nenek Oji, dia terharu dan sangat bahagia mendengar bayi perempuan cantik itu sudah masuk ke sekolah perawat. Sebab sejak dulu dia terus memberikan brosur brosur sekolah perawat pada bapak dan ibu Irawan saat mereka bertemu di rumah sakit.
“Sekarang sudah lulus ya dia..” ucap Suster Rita selanjutnya.
“Sudah. Bukannya Suster Rita tadi sudah bertemu dengan dirinya. Saya tahu suster Rita sudah datang ke sini dari Alamanda saat saya memberikan jamu kuat super subur laki laki pada suaminya...” ucap Nenek Oji dengan penuh semangat.
“Apa dia perempuan cantik yang dengan anak kecil tadi? Aku tidak mengira dia sudah punya anak balita. Usia berapa dia menikah? Apa dia menikah di bawah umur?” ucap Suster Rita yang tadi ragu ragu saat melihat Alamanda.
“Hmmmm .. Aku tadi sempat berpikir dia bayi perempuan cantik itu, sebab sangat mirip dengan almarhumah.” Gumam suster Rita di dalam hati sebab tidak mungkin dia akan mengatakan pada Nenek Oji.
“He.. he.. Dia baru menikah kemarin dapat duda keren kaya muda dan anak perempuan kecil itu anak sang duda itu... Saya buatkan jamu agar Alamanda cepat bunting biar ada pengikat dengan duda itu.” Ucap Nenek Oji dengan serius, dia memang jujur tidak ingin Alamanda dicampakkan karena tidak punya anak.
Saat suster Rita dan Nenek Oji masih berbincang bincang melepas rindu. Tuan Ernest dibantu oleh Eveline memindahkan Nyonya Ernest pada kursi roda. Tuan Ernest lalu mendorong kursi roda itu menuju ke pintu arah ke balkon yang ada di kamar hotelnya. Mereka berdua ingin berbicara serius agar tidak didengar oleh Nenek Oji dan juga suster Rita.
“Pa, aku sudah tidak sabar lagi untuk memeluk cucuku hiks... hiks... Aku sangat bahagia Pa, ternyata cucu kita masih hidup. Angelie anak bapak dan ibu Irawan, Pa.. sudah jelas itu. Suster Rita sudah menceritakan semua nya..” ucap Nyonya Ernest saat mereka berdua berada di balkon.
“Kurang ajar aku saat itu hanya percaya begitu saja dengan Sam.” Ucap Tuan Ernest lagi dengan nada kesal.
“Eveline segera suruh ke Mansion Pa, biar masalah segera selesai. Tetapi kenapa Bang Bule Vincent menyuruh Eveline seorang perempuan cantik, apa itu akan berhasil apa tidak malah membahayakan Nona Eveline.” Ucap Nyonya Ernest yang meragukan dan mengkuatirkan Eveline.
“Pasti Bang Bule Vincent sudah memperhitungkan Ma. Baiklah biar Eveline sekarang ke Mansion. Suster Rita biar nanti diantar oleh sopir hotel. Aku juga akan memberikan hadiah istimewa buat suster Rita yang sudah menyelamatkan cucuku dengan caranya.” Ucap Tuan Ernest lalu mengambil hand phone dari saku kemejanya.
Sementara itu di kamar pengantin. Marcel sudah tidak sabar untuk meminum jamu buatan Nenek Oji. Apalagi khasiat yang dikatakan oleh Nenek Oji.
“Pa, jangan diminum sekarang dan jangan satu botol diminum langsung.” Ucap Alamanda sambil merebut botol jamu dari tangan Marcel.
“Ma, biar aja. Aku mau adik bayi kok.. Mama kan sudah janji tetap sayang pada aku tidak membeda bedakan aku dengan adik ku.” Ucap Charlotte yang mendengar ucapan Nenek Oji agar Alamanda cepat hamil dengan minum jamu itu.
“Tapi aku bingung yang minum jamu Papa kok yang hamil Mama.” Ucap Charlotte lalu dia berlari mengambil tabletnya untuk mencari informasi tentang jamu dan hamil.
“Ma, biar aku minum sekarang aku penasaran dengan jamu ini.” Ucap Marcel sambil merebut kembali botol jamu itu.
“Pa, aku tidak mau seperti Mama yang kesulitan jalan. Ini juga masih sakit Pa...” ucap lirih Alamanda agar tidak didengar oleh Charlotte.
“Mama tidak usah jalan jalan, aku akan gendong ke mana Mama mau pergi..” ucap Marcel sambil tersenyum
“Nanti aku obati, Mama kan punya salep katanya...” bisik Marcel di telinga Alamanda dan itu justru membuat bagian tubuh inti Alamanda berdenyut denyut.