
“Turuti mau Charlotte agar hatinya tidak bersedih. Nanti kalau dia sudah tidur aku yang pindah kamar.” Bisik Marcel di telinga Alamanda, agar Charlotte tidak mendengar. Alamanda yang tidak tega Charlotte bersedih hatinya pun menganggukkan kepalanya.
“Mari Nona... eh.. ayo Charlotte kita tidur sekarang.” Ucap Alamanda yang masih belum terbiasa memanggil Charlotte tanpa Nona.
“Papa, ambilkan baju tidur ku ya.. aku mau ganti baju tidur.” Ucap Charlotte sambil menoleh menatap Sang Papa. Mata Charlotte yang sudah tampak sayu karena mengantuk namun kini ada binar binar bahagia karena akan tidur ditemani Ners Alamanda dan Sang Papa.
“Baik.. Tuan Puteri....” ucap Marcel sambil menangkupkan kedua telapak tangannya ditaruh di dada sambil sedikit membungkuk. Dan Charlotte pun tertawa bahagia melihat sang Papa berlagak bagai pelayan. Marcel lalu mengacak ngacak puncak kepala Charlotte dan segera melangkah keluar dari kamar Charlotte.
“Non... Ehmm Charlotte, tunggu duduk di sini ya.. aku juga mau ganti baju dulu...” ucap Alamanda yang masih terdengar kaku saat menyebut Charlotte tanpa Nona dan menyebut dirinya dengan kata aku yang biasanya dia menyebut dirinya dengan kata saya jika berbicara dengan orang orang yang dihormatinya.
“Mama ganti saja di sini, itu ruang ganti atau ke kamar mandi.” Ucap Charlotte sambil menunjuk pada suatu tempat di dalam kamar Marcel itu.
“Baiklah.” Ucap Alamanda sambil bangkit berdiri lalu dia berjalan menuju ke pintu kamar Marcel, sebab travel bag kecilnya dia taruh di dekat pintu.
“Mama cepat ganti baju, nanti aku digantiin sama Mama ya bajunya...” ucap Charlotte dengan suara manja. Alamanda yang berjalan ke kamar mandi sambil membawa travel bag kecil itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian pintu kamar Marcel terbuka, dan muncul sosok Marcel dengan tangan membawa baju tidur Charlotte, setelan piyama berwarna putih dengan motif gambar strowbery kecil kecil.
“Di mana Mama?” tanya Marcel selanjutnya yang tidak melihat sosok Alamanda.
“Sedang berganti baju Pa.” Jawab Charlotte dan Marcel pun akan menggantikan baju Charlotte namun Charlotte tidak mau karena menunggu Alamanda.
Sesaat kemudian Alamanda sudah keluar dari kamar mandi dia sudah tidak lagi memakai baju seragam perawat tetapi sudah memakai baju piama panjang yang sopan. Marcel menoleh ke arah Alamanda. Marcel tersenyum sosok Alamanda yang sudah tidak memakai baju seragam memberikan chimestry mereka lebih dekat.
“Aku juga mau ganti baju..” ucap Marcel lalu bangkit berdiri. Sambil berdiri Marcel membuka kancing kemejanya. Alamanda yang melangkah mendekati Charlotte serta merta matanya melihat dada bidang Marcel yang karena beberapa kancing baju sudah terbuka. Jantung Alamanda berdetak lebih cepat dan kedua pipinya merona, Cepat cepat Alamanda meraih baju tidur Charlotte. Sedangkan Marcel terus berlalu menuju ke lemari pakaian nya, dia tidak merasa sudah membuat jantung Alamanda berdebar debar.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga sudah berada di atas tempat tidur Marcel. Charlotte tidur di tengah tengah di antara Marcel dan Alamanda.
“Terima kasih Mama...” ucap Charlotte sambil memeluk dan mencium pipi Alamanda.
“Terima kasih Papa..” ucap Charlotte selanjutnya yang sudah membalikkan badan lalu memeluk dan mencium pipi Marcel.
“Selamat tidur Sayangnya Papa...” ucap Marcel sambil mencium puncak kepala Charlotte. Charlotte pun kini tidur terlentang, mata sudah mulai terpejam. Kedua tanganya berada di atas tubuh Alamanda dan Marcel. Tangan Alamanda dan tangan Marcel pun memeluk tubuh mungil Charlotte.
Marcel tersenyum, wajah Alamanda yang cantik alami sangat dekat di depan matanya, harum rambut Alamanda pun tercium di hidungnya. Hati Marcel sangat damai karena anak dan wanita pujaannya berada di sampingnya berada di atas satu tempat tidur dengan dirinya. Marcel pun lama lama terpejam matanya ikut tidur pulas seperti Charlotte. Tangan Marcel pun lama lama berpindah memeluk juga pinggang ramping Alamanda.
Sedang Alamanda jantungnya terus berdebar debar dan dia belum bisa tidur.
Saat melihat wajah Marcel, Alamanda benar benar mengagumi wajah tampan Marcel.
Ingin rasanya jari jari Alamanda membelai wajah Marcel, terutama bibir Marcel yang sudah membuat pipinya bagai disetrum.
Akan tetapi Alamanda tidak berani melakukan itu. Alamanda lalu mengangkat pelan pelan tangan Marcel yang menumpang di atas perutnya.
“Hhhhhmmmmm...” gumam Marcel, dan matanya masih terpejam.
Alamanda mengangkat punggung dan kepalanya, dia pun lalu duduk. Alamanda menepuk nepuk pelan kaki Marcel agar Marcel bangun dengan tidak kaget. Akan tetapi Marcel tetap saja tidur dengan pulas. Alamanda lalu menaruh guling di tempat dia tadi tidur dan selanjutnya dia pun melangkah ke luar dari kamar Marcel dan dia tidur di kamar tempat dia tidur dulu saat masih bekerja di Mansion Hanson.
Keesokan paginya...
Charlotte membuka matanya lebih dulu dari pada. Dia menoleh ke arah kiri, dan tidak ada sosok Alamanda di sampingnya.
“Mama....” teriak Charlotte sambil bangkit dari tidurnya. Teriakan Charlotte itu membuat mata Marcel terbuka.
“Sayang kamu sudah bangun.” Ucap Marcel yang juga langsung bangkit dari tidurnya.
“Mama di mana Pa?” tanya Charlotte dengan ekspresi wajah panik.
“Mungkin sedang di kamar mandi.” Ucap Marcel lalu dia menggendong Charlotte dan berjalan menuju ke kamar mandi. Akan tetapi betapa kagetnya mereka berdua saat di kamar mandi tidak ada sosok Alamanda.
Saat mereka berdua masih tampak panik. Pintu kamar Marcel terbuka dan muncul sosok Alamanda yang sudah tampak cantik dan segar meskipun masih memakai baju piama tidur.
“Mama dari mana kenapa meninggalkan aku?” tanya Charlotte.
“Mama ke dapur untuk masak sarapan Charlotte. Ayo sekarang mandi dan kita ke rumah sakit.” Jawab Alamanda yang memang dia bangun sebelum subuh dan memasakkan buat Charlotte dan Marcel. Marcel pun tersenyum dan semakin sayang pada Alamanda. Mereka pun segera bersiap diri untuk pergi ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian mobil Marcel sudah melaju menuju ke rumah sakit. Dan di saat mobil sudah berhenti di tempat parkir. Mereka bertiga segera turun dari mobil. Charlotte digendong oleh Marcel dan Alamanda yang memakai baju seragam perawat berjalan di samping Marcel.
Saat itu juga muncul sebuah mobil yang sedang masuk menuju ke tempat parkir. Alamanda yang sedang berbicara dengan Charlotte tidak begitu memperhatikan mobil itu.
“Itu perawat yang aku cari kenapa dia bersama dengan Tuan Marcel. Apa dia sudah tidak merawat Nyonya Hanson.” Gumam orang yang berada di dalam mobil itu.