
“Kalau begitu biar Henry juga ikut ke apartemen dan menjemput Alamanda.” Ucap Marcel sambil menatap Dokter Willy yang masih berdiri sambil mengusap usap kepala Charlotte.
“Baiklah begitu juga bagus. Nanti aku bilang pada Tuan dan Nyonya Ernest agar mengizinkan Ners Alamanda ke sini untuk menemui Nona cantik ini.” Ucap Dokter Willy sambil masih mengusap usap kepala Charlotte.
“Dan Papanya Nona Charlotte tentunya.” Ucap Dokter Willy selanjutnya sambil tersenyum menatap Marcel. Marcel hanya diam saja, nasihat Dokter Willy agar besok membawa Charlotte ke rumah sakit dan harus cek darah, membebani pikiran dia saat ini.
Dokter Willy pun pamit pada Marcel, Charlotte dan Nyonya Hanson yang juga masih berada di dalam kamar Charlotte itu. Dokter Willy segera melangkah untuk keluar dari kamar Charlotte.
“Dokter, tunggu!” teriak Marcel dan Dokter Willy pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Marcel.
“Nanny kamu ikut Dokter Willy. Kamu temani Nyonya Ernest saat Alamanda berada di sini.” Ucap Marcel sambil menoleh menatap pengasuh Charlotte.
“Dokter biar Nanny nanti yang menjaga Nyonya Ernest. “ ucap Marcel selanjutnya yang sudah kembali menatap Dokter Willy.
“Ayo.” Ucap Dokter Willy sambil menganggukkan kepalanya. Pengasuh Charlotte pun segera menjalankan perintah Marcel, dia segera membawa travel bag kecil berisi peralatan pribadi nya dan segera melangkah mengikuti Dokter Willy.
“Cel, Nyonya Ernest kan bukan balita kenapa Nanny yang kamu suruh menjaga dia?” tanya Nyonya Hanson sambil menatap tajam pada wajah Marcel.
“Hmm hanya sementara Ma, untuk membantu orang tua itu turun naik kursi roda.. Dan menghubungi pelayan apartemen, Nanny dulu kan juga sering ke sana untuk menemani Patricia dan Charlotte. ” ucap Marcel yang masih duduk sambil memangku Charlotte.
“Besok ke rumah sakit ya Sayang...” ucap Marcel sambil mengusap usap kepala Charlotte yang bersandar pada dada bidangnya.
“Sama Ners Alamanda ya Pa...” ucap lirih Charlotte.
“Hmmm semoga Nyonya Ernest mengizinkan Ners Alamanda ke sini sampai besok..” ucap Marcel yang masih mengusap usap kepala Charlotte.
Nyonya Hanson yang belum sepenuh hati mau menerima Alamanda menjadi menantunya langsung melangkah meninggalkan kamar Charlotte.
“Aku akan suruh pelayan membuat masakan khusus buat Charlotte.” Ucap Nyonya Hanson agak keras sambil membuka pintu kamar Charlotte dan segera melangkah keluar.
“Ayo Sayang kita tunggu Ners Alamanda di kamar Papa.. ada sesuatu yang ingin Papa tunjukkan pada kamu...” ucap Marcel selanjutnya sambil berdiri menggendong tubuh mungil Charlotte. Marcel terus melangkah keluar dari kamar Charlotte menuju ke kamarnya.
Marcel langsung melangkah menuju ke tempat tidurnya. Di atas tempat tidur itu ada satu kotak perhiasan yang tidak lain adalah satu kotak set perhiasan yang akan diberikan pada Alamanda.
Marcel lalu duduk di tempat tidur itu dan masih memangku tubuh mungil Charlotte. Charlotte pun menoleh menatap satu kotak perhiasan itu.
“Sayang ini akan kita berikan pada Ners Alamanda saat kita melamar dia..” ucap Marcel sambil tangannya meraih kotak perhiasan itu. Masih dengan memangku tubuh mungil Charlotte, Marcel membuka kotak perhiasan itu.
“Iya Sayang.. kamu jangan sakit lagi ya.. kita bisa jalan jalan dengan Ners Alamanda kamu akan memanggil dia Mama... “ ucap Marcel sambil mencium puncak kepala Charlotte yang masih terasa hangat. Sebab Charlotte belum minum obat masih menunggu waktu yang dianjurkan oleh Dokter Willy. Marcel memeluk tubuh Charlotte dengan penuh rasa kasih sayang dan cinta. Marcel tidak ingin tubuh mungil anaknya itu merasakan kesakitan lagi.
“Apa aku sudah boleh memanggil dia Mama.. Pa..” ucap Charlotte sambil menoleh menatap Sang Papa dengan bibir tersenyum dan mata yang berbinar binar.
“Boleh Sayang....” ucap Marcel sambil mencium puncak kepala Charlotte.
Beberapa menit kemudian....
Terdengar bunyi dering hand phone milik Marcel. Marcel pun segera mengambil hand phone yang dia taruh di atas nakas dekat tempat tidurnya.
Saat di lihat di layar hand phone miliknya tertera nama Henry sedang melakukan panggilan suara.
“Apa.” Ucap Marcel saat sudah menggeser tombol hijau.
“Tuan ini Ners Alamanda sudah masuk ke dalam Mansion utama.” Suara Henry di balik hand phone milik Marcel.
“Langsung kamu antar dia ke kamarku.” Ucap Marcel lalu menutup sambungan teleponnya. Sedangkan Henry yang mendengar perintah Tuan Marcel agar membawa Alamanda ke dalam kamar Marcel tampak kaget.
“Belum juga dilamar kok disuruh masuk ke kamarnya.” Gumam Henry di dalam hati. Akan tetapi mau tak mau dia pun mengajak Alamanda terus melangkah menuju ke lantai dua dan terus melangkah ke pintu kamar Marcel. Sedangkan Alamanda jantung berdebar debar. Perasaannya campur aduk antara kangen dengan Marcel dan Charlotte juga berdebar debar karena khawatir kesehatan Charlotte. Sebab Dokter Willy memberi tahu padanya jika ada kemungkinan sel kanker pada tubuh Charlotte muncul lagi.
TOK TOK TOK
Henry mengetuk ngetuk pintu kamar Marcel.
“Masuk!” suara berat Marcel dari dalam.
Sedangkan di lain tempat, di Mansion Ernestan. Tuan Sam berjalan mondar mandir di ruang kerjanya.
“Kenapa di rumah sakit tidak ada pasien bernama Nyonya Ernestan.” Gumam Tuan Sam dalam hati sambil masih berjalan mondar mandir. Dia sudah mendapatkan informasi dari orang suruhan nya, kalau tidak menemukan pasien bernama Nyonya Ernest dan juga tidak melihat sosok perawat Alamanda di rumah sakit.
“Apa besok aku saja yang ke rumah sakit.” Gumam Tuan Sam lagi di dalam hati.
“Benar begitu saja.. Mungkin Tuan dan Nyonya Ernest merahasiakan pada orang orang tentang keberadaan mereka di rumah sakit.” Gumam Tuan Sam lagi sambil tersenyum.
“Aku sekarang hubungi Tuan Ernest saja, aku katakan kalau aku akan menemui dia, untuk urusan laporan kerja.” Ucap Tuan Sam lalu dia mengambil hand phone miliknya untuk menghubungi Tuan Ernest.