
“Hah? Kamu perempuan menantang kami laki laki yang ada di sini ya! Jangan mentang mentang saudara Tuan Ernest kamu ya, aku tidak takut! ” Teriak laki laki yang membawa obeng itu sambil melangkah maju semakin mendekati Eveline dan tangannya terulur dengan gerakan cepat mengarahkan ujung obeng itu pada wajah Eveline, dia akan melukai wajah cantik Eveline.
Akan tetapi dengan gerakan yang lebih gesit tangan Eveline menyahut pergelangan tangan laku laki yang membawa obeng itu. Eveline mencengkeram sangat kuat pergelangan tangan laki laki itu hingga obeng yang dipegang nya terjatuh.
Laki laki itu tidak mau kalah dia pun mengarahkan tendangan pada tubuh Eveline. Dan laki laki yang duduk di kursi pojok bangkit berdiri mengambil obeng yang jatuh di lantai. Dia akan membantu temannya.
“Non ayo keluar saja...” ucap Ibu pelayan dengan gemetaran.
“Hei, jangan berkelahi di ruang ini bisa berantakan nanti kena marah Tuan Ernest.” Teriak pimpinan ruang itu.
Akan tetapi Eveline memelintir tangan laki laki itu. Dan...
Buuuuggggh....
Buuuuuuggggh...
Buuuuugggghhh...
Eveline yang memakai celana kulot bisa dengan lebih gesit menendang dua laki laki yang mengeroyoknya.
Sementara itu Ibu pelayan hanya bisa menjerit jerit minta tolong. Beberapa orang lainnya berlari keluar memanggil satpam, sedang pimpinan di ruangan itu sedang menelepon satpam agar segera datang. Beberapa orang malah memandang dengan terpana akan kegesitan Eveline dalam melawan dua laki laki itu.
Dan sesaat kemudian...
“Ammmpuuunnn... Ammmmpuuuuunnnn..” rintih dua laki laki yang sudah terkapar di lantai.
“Makannya jangan meremehkan orang lain.” Ucap Eveline lalu dia mengambil hand phone dari saku dalam celana kulotnya.
“Non Eveline tidak apa apa, saya sangat khawatir Non.” Ucap ibu pelayan sambil berjalan mendekati Eveline. Eveline tampak tersenyum santun dan dia sedang menghubungi seseorang.
Beberapa menit kemudian tampak pintu ruang itu terbuka dan muncul dua orang satpam Mansion. Pimpinan ruang itu tampak marah marah pada pak satpam yang terlalu lambat datang.
“Maaf, tadi sedang ada tamu ini mereka temannya Nona Eveline.” Ucap Pak Satpam dan bersamaan dengan itu dua laki laki teman Eveline atau anak buah Bang Bule Vincent masuk ke dalam ruang itu dan segera membawa dua orang yang sudah terkapar itu. Mereka akan dibawa ke markas.
Waktu pun berlalu di tempat lain di halaman hotel bintang lima tempat Tuan dan Nyonya Ernest menginap. Sebuah mobil berjalan menuju ke tempat parkir.
Sesaat Bang Bule Vincent sudah berada di depan pintu kamar Tuan Ernest.
TOK TOK TOK TOK
Bang Bule Vincent mengetuk daun pintu itu dan tidak menunggu waktu lama pintu sudah terbuka.
“Bro kamu tidak bekerja?” tanya Bang Bule Vincent saat sosok Marcel berdiri membukakan pintu buat dirinya.
“Apa kamu lupa aku sedang menjalani cuti pengantin baru. Dan waktuku sedikit terganggu gara gara Nyonya Ernest kambuh tekanan darah tinggi nya.” Jawab Marcel jujur apa adanya pada Bang Bule Vincent sahabatnya yang dulu senasib jomblonya meskipun dalam versi yang berbeda. Bang Bule Vincent dulu memang jomblo belum punya kekasih meski pun usianya sudah dewasa dan disukai banyak gadis termasuk Eveline salah satunya, sedang Marcel jomblo karena Patricia meninggal.
Bang Bule Vincent tidak menanggapi dia terus melangkah menuju ke dalam untuk mencari Tuan Ernest.
“Bagaimana kondisi Sam?” tanya Tuan Ernest dengan tidak sabar saat melihat sosok Bang Bule Vincent datang.
“Kritis Tuan, dokter sudah mengusahakan semaksimal mungkin.” Ucap Bang Bule Vincent sambil mendudukkan pantatnya di sofa, Marcel pun juga turut duduk di dekat Bang Bule Vincent.
“Padahal kita membutuhkan informasi dari mulutnya.” Gumam Tuan Ernest.
“Tuan apa Tuan tahu istri Tuan Sam yang pergi meninggalkan dia hingga dia nekat menghalalkan segala cara ingin kaya?” tanya Bang Bule Vincent
“Leli... yang sekarang menjadi istrinya Donald, birokrat dan pengusaha kaya itu. Ada apa?” jawab Tuan Ernest dan balik bertanya.
“Tante Leli....” gumam Marcel yang sangat kenal dengan Leli Donald sahabat Mamanya yang tidak lain adalah orang tua Milie.
“Apa kamu kenal Bro?” tanya Bang Bule Vincent pada Marcel dan Marcel hanya mengangguk malas.
“Kata Dokter Tuan Sam sempat mengigau mulutnya menyebut istriku anakku mengapa kamu pergi. Kata Dokter dengan kehadiran istri dan anaknya mungkin bisa membantu dia... “ ucap Bang Bule Vincent
“Tapi Sam sudah sangat membenci istri yang sudah mengkhianati dia. Aku sudah capek memberi nasihat pada dirinya agar merelakan istrinya dan memulai lembaran baru.” Ucap Tuan Ernest
“Apa Millie anak kandung Tuan Sam. “ gumam Marcel dalam hati sambil mengingat ingat masa kecilnya dulu. Dia kenal dengan Millie di saat Millie sudah di usia kanak kanak.
"Mama tahu hal ini tidak ya..." gumam Marcel lagi di dalam hati.