
Alamanda segera mengambil hand phone dari saku bajunya. Saat dilihat di layar hand phone tertera sebaris angka yang sedang melakukan panggilan suara.
“Siapa.” Gumam Alamanda yang ragu ragu akan menerima panggilan suara itu. Sebab mengingat kejadian batalnya lamaran Juragan Darman, dia khawatir jika Juragan Darman atau orang orang suruhannya yang menghubungi dan meneror atau mengancamnya.
“Tapi bagaimana jika yang menghubungi keluarga Ernest apa Pak Dokter sudah memberi nomor hand phone punyaku pada mereka.” Gumam Alamanda yang masih menatap layar hand phone miliknya yang masih berkedip kedip. Akan tetapi saat Alamanda akan menggeser tombol hijau tiba tiba panggilan sudah berhenti.
Dan tidak lama kemudian terdengar suara notifikasi ada chat masuk dari sederet angka. Alamanda segera membuka isi pesan chat itu.
“Ners maaf ini saya Henry, saya lupa tidak minta jadwal Ners Alamanda, jam berapa nanti Ners Alamanda pulang.”
“Hmmm aku kira siapa, bikin khawatir saja.” Gumam Alamanda lalu membalas chat Henry dan menyimpan nomor hand phone Henry , pengawal barunya.
Alamanda segera melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerjanya, saat akan membuka pintu. Terdengar lagi suara dering dari hand phone miliknya. Alamanda pun segera mengambil hand phone miliknya lagi dan tidak jadi membuka pintu, dia tidak ingin teman temannya banyak bertanya jika Henry yang meneleponnya. Akan tetapi saat Alamanda mengambil hand phone miliknya yang tertera di layar adalah nama Dokter Willy, yang tidak lain adalah nama Dokter pribadi keluarga Hanson. Alamanda pun segera menggeser tombol hijau.
“Ners Alamanda, data pribadi Ners sudah saya kirim ke keluarga Ernestan, Tuan dan Nyonya Ernestan sangat setuju jika Ners Alamanda yang merawat Nyonya Ernest. Bahkan beliau bersedia memberikan gaji dua kali lipat yang ditawarkan tadi, asal yang datang Ners Alamanda.” Suara Dokter Willy di balik hand phone milik Alamanda.
“Bagaimana Ners, kesempatan tidak datang dua kali loh... he... he...” suara Dokter Willy lagi sambil tertawa kecil. Sedangkan Alamanda tampak masih berpikir pikir.
“Dua kali lipat aku bisa segera cepat melunasi utang keluargaku pada Tuan Marcel. Nyonya Hanson pasti akan semakin menghina aku dan keluargaku kalau aku tidak segera membayar. Hmmm ditambah biaya pengawal lagi... “ gumam Alamanda dalam hati.
“Bagaimana Ners?” tanya Dokter Willy lagi karena dia pun sudah dikejar kejar oleh keluarga Ernestan agar cepat cepat mengirim perawat buat Nyonya Ernest.
“Baiklah Dok, kapan harus mulai bekerja di Mansion Ernestan?” tanya Alamanda selanjutnya. Kebutuhan akan uang yang mendesak untuk menjaga harga diri keluarganya di hadapan Nyonya Hanson membuat dia segera memutuskan menerima tawaran itu.
“Besok pagi. Sama seperti waktu bertugas ke Mansion Hanson, besok pagi dari rumah sakit saya antar Ners Alamanda ke Mansion Ernestan. Saya akan suruh pihak rumah sakit segera membuatkan surat kontrak kerjanya.” Ucap Dokter Willy. Dan setelah terjadi kesepakatan sambungan telepon pun terputus. Alamanda pun segera melangkah masuk menuju ke ruang kerjanya.
Sementara itu di lain tempat Millie yang sudah pulang ke rumahnya. Tampak Millie sedang marah marah pada Kevin yang baru saja datang dan memberi tahu hasil kerja orang orang suruhan nya.
“Gimana sih kamu itu, cari orang aja orang ga becus!” suara Millie dengan nada tinggi sambil menatap tajam ke arah Kevin yang sedang berdiri sambil menyulutkan satu batang rokok lalu duduk di samping Millie.
“Minta bayaran banyak lagi!” teriak Millie lagi
“Ini sih akibat kesalah kamu juga Beb.. coba aku bisa cepat cepat ke lokasi itu pasti tidak akan terjadi kegagalan.” Ucap Kevin setelah menghisap rokoknya.
“Hmmm kamu pagi pagi minta main tadi, kan aku jadi terlambat ke sana.” Jawab Kevin sambil tersenyum menatap Millie.
“Sudahlah Beb, besok kita bisa lakukan lagi. Masih banyak waktu.” Ucap Kevin selanjutnya sambil memeluk Millie dari samping.
“Jangan besok, nanti saja saat dia pulang dari kerja lakukan lagi.” Usul Millie yang sudah tidak sabar melihat Alamanda celaka.
“Okey Beb, aku hubungi mereka agar sejak sore dia sudah berada di tempat tadi.” Ucap Kevin lalu melepas pelukannya dan menaruh rokok pada asbak di atas meja. Dan Kevin mulai mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi lagi orang orang suruhan nya.
“Kamu juga lebih awal berada di sana. Aku tidak usah ikut.” Ucap Millie dengan nada ketus lalu lalu dia bangkit berdiri untuk mencari lagi botol wine. Kevin pun tampak tersenyum senang sebab sehabis minum wine biasanya dilanjut bermain main di atas tempat tidur dengan Millie.
Sedangkan di lain tempat di Mansion Hanson, Charlotte tampak masih sibuk dengan tabletnya. Sejak selesai mandi pagi, dia sibuk mencari cara meretas nomor hand phone yang dilindungi. Dia sungguh sungguh tidak berangkat ke sekolah sedangkan Marcel berangkat ke kantor karena ada meeting dengan kolega.
Charlotte hanya istirahat makan siang, dan setelah selesai makan siang, Charlotte melanjutkan lagi mencari cara bagaimana cara meretas nomor hand phone milik Kevin.
Sesaat kemudian Charlotte yang berbaring sambil menyandarkan punggung dan kepalanya pada tumpukan bantal tiba tiba dia berdiri di atas tempat tidur sambil meloncat loncat dengan tangan masih membawa tablet.
“Yeeeeaaaaaa.... yeeeeeaaaa... yeeeeeeaaaaa.....” teriak Charlotte meloncat loncat kegirangan di atas tempat tidur.
“Non menang lagi Non? dapat hadiah lagi?” tanya sang pengasuh yang sedang melipat baju baju Charlotte. Dia mengira Charlotte kegirangan karena menang dalam bermain game.
“Tidak Nanny aku bahagia karena tidak lama lagi Papa akan melamar Ners Alamanda. “ ucap Charlotte yang kini sudah tidak lagi meloncat loncat dan dia pun segera kembali pada posisi semula berbaring dengan bersandar sambil sibuk dengan tabletnya lagi.
Charlotte bahagia karena dia sudah menemukan cara meretas nomor hand phone yang sudah dilindungi dan kini dia tampak sibuk sedang berusaha meretas nomor hand phone Kevin.
“Nanny bisa kah Nanny mengambilkan es krim buat aku..” ucap Charlotte sambil menunggu data data nomor hand phone Kevin masuk ke dalam memori tablet miliknya.
“Nona tadi Papa Marcel pesan pada Nanny, agar mengajak Nona jalan jalan di taman tidak main sama tablet terus.” Ucap Sang pengasuh sambil menatap Charlotte yang masih berbaring sambil menatap layar tablet.
“Ayo kita ke taman sambil maem es krim.” Ajak sang pengasuh kemudian.
“Ah Nanny tidak asyik.” Gumam Charlotte lalu dia pun bangkit dari tempat tidurnya. Sambil menunggu semua data terdownload dengan aman sebab Marcel sudah memberi filter agar konten dewasa tidak bisa masuk ke tablet Charlotte.