Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 109.


Sesampai di depan pintu kamar Tuan dan Nyonya Ernest, Alamanda segera mengetuk ngetuk pintu kamar tersebut.


TOK TOK TOK


“Sayang kenapa kamu tinggalkan aku. Hmmm kamu masih bisa berjalan dengan cepat berarti nanti kita bisa main main lagi beronde ronde...” ucap Marcel yang baru saja berdiri di samping Alamanda dan tidak lupa merangkul pinggang ramping Alamanda sambil menoleh dan tersenyum menggoda pada Alamanda.


Alamanda menyikut pelan pinggang Marcel sebagai kode agar Marcel tidak membahas dulu masalah ranjang dan bath up. Dan benar sesaat kemudian pintu kamar Tuan dan Nyonya Ernest itu terbuka.


“Kak, Nyonya Ernest kambuh darah tingginya.” Suara Jasmine yang berdiri sambil masih memegang handel daun pintu yang sudah dia buka.


“Dokter Willy sudah pulang? Apa Charlotte sudah mandi? Sudah makan?” tanya Alamanda secara beruntun sambil terus nyelonong melangkah masuk.


“Mereka ada di kamar tidur.” Jawab Jasmine dan membuat hati Alamanda sedikit lega. Alamanda terus melangkah menuju ke kamar tidur Tuan dan Nyonya Ernest. Kamar hotel yang ditempati oleh Tuan dan Nyonya Ernest itu memang memiliki kamar tidur yang terjaga privasi nya.


Sedangkan Marcel dan Jasmine melangkah menuju ke sofa, Marcel segera menuju ke tempat duduk Nenek Oji dan dia duduk di dekat Nenek Oji, mungkin dia akan memesan lagi jamu super kuat subur laki laki atau akan memberi hadiah pada Nenek Oji.


Alamanda dengan segera membuka daun pintu kamar tidur Tuan dan Nyonya Ernest yang tidak dikunci itu. Telinga Alamanda mendengar suara imut Charlotte yang sedang membujuk Nyonya Ernest agar mau dibawa ke rumah sakit dan ditemani oleh Mama Alamanda.


“Tidak sakit kok Oma... darahku diambil untuk diperiksa jarum ditusukkan pada tanganku tapi aku tidak merasa sakit .. Aku dan Mama Alamanda nonton film Masha. Bener dech Oma tidak sakit.. Dan tidak mati kalau diantar Mama Alamanda..” suara imut Charlotte ..


Alamanda terus mendekati tempat tidur Nyonya Ernest. Dokter Willy yang berdiri menghadap ke arah pintu kamar segera mendongakkan wajahnya.


“Itu Ners Alamanda sudah datang.” Ucap Dokter Willy. Tuan Ernest dan Charlotte pun segera menoleh ke arah sosok Alamanda. Ekspresi wajah Nyonya Ernest pun mendadak tampak rileks tidak lagi kaku dan tegang.


“Mama...” suara Charlotte saat menoleh melihat sosok Sang Mama Barunya.


“Sayang, bagaimana keadaan Oma.” Ucap Alamanda sambil mengusap kepala Charlotte saat sudah berada di dekat mereka.


“Kondisinya tidak stabil Ners, naik turun tekanan darahnya dalam jarak waktu yang dekat. Saya sarankan untuk di rawat di rumah sakit saja. Tapi Nyonya Ernest tidak mau. Maunya di sini di rawat oleh Ners Alamanda saja.” Ucap Dokter Willy.


“Saya rasa di sini juga lebih aman dari Tuan Sam.” Ucap Alamanda selanjutnya sambil mengingatkan pada Dokter Willy jika mereka sedang bersembunyi dari pantauan Tuan Ernest dan orang orangnya.


“Ooo benar benar.. Kamu segera kirim alat apa yang dibutuhkan oleh istriku. Dan kamu kalau perlu juga menginap di hotel ini.” Perintah Tuan Ernest pada Dokter Willy.


“Terima kasih...” ucap Nyonya Ernest sambil memegang tangan Alamanda dengan sangat erat tidak lupa dia menatap wajah Alamanda dengan tatapan sangat intens.


“Sama sama Nyonya. “ ucap Alamanda yang belum tahu jika orang di depannya itu adalah Nenek kandungnya.


Dokter Willy tampak keluar dari kamar tidur. Dia akan menjalankan perintah Tuan Ernest.


“Bagaimana Dok?” tanya orang orang yang masih setia menunggu duduk di sofa di kamar hotel Tuan dan Nyonya Ernest. Suara Marcel dan Bapak Irawan tampak lebih dominan.


“Tetap tidak mau dibawa ke rumah sakit. Ners Alamanda yang akan merawat di sini.” Jawab Willy dan tampak dia segera sibuk dengan hand phone miliknya.


“Dok. Katakan sekali lagi dengan lebih jelas. Apa itu artinya istri saya akan tidur di kamar ini.” Ucap Marcel dengan ekspresi dan nada suara bingung, khawatir dan kecewa campur aduk menjadi satu.


“Benar Tuan Marcel. Kontrak kerja Ners Alamanda dengan Nyonya Ernest juga belum usai.” Jawab Dokter Willy tanpa menoleh ke arah wajah Marcel sebab dia masih sibuk dengan layar hand phone miliknya.


“Tapi kan ada izin cuti untuk hal hal penting. Alamanda kan baru saja menikah.” Gumam Marcel yang didengar oleh Dokter Willy.


“Coba Tuan, temui Ners Alamanda dan Tuan Ernest. Ini juga demi keamanan Tuan dan Nyonya Ernest demi pantauan Tuan Sam. Bukannya ini juga usul dari Tuan Marcel untuk menyembunyikan sementara waktu Tuan dan Nyonya Ernest dari Tuan Sam. Di sini memang privasi lebih terjaga Tuan dari pada di rumah sakit yang lebih mudah orang masuk ke lokasi rumah sakit. “ ucap Dokter Willy yang kini menatap wajah Marcel yang sudah mulai tampak kusut karena kecewa.


“Kamu temui Alamanda dulu sana cucu mantu ku Tuan Marcel dan ajak makan dulu ini makanan sudah dingin. Alamanda juga perlu makan lebih banyak agar dia tidak sakit.” Suara Nenek Oji yang prihatin dengan nasib cucu mantunya.


“Hah? Bagaimana dengan nasib burungku sekarang kalau membayangkan Alamanda saja masih menegang kencang. Apa iya aku tidur di kamar sendiri dan bersolo karier lagi...” gumam Marcel dalam hati sambil melangkah menuju ke kamar tidur Tuan dan Nyonya Ernest. Reaksi jamu super kuat subur laki laki masih terasa di burung milik Marcel.