Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 110.


Sementara itu di Mansion Ernestan, Eveline telah sukses memasang lempeng tipis yang menyerupai stiker transparan dengan ukuran kecil di tempat tempat vital di Mansion utama.


“Hmmm tinggal aku pantau saja dari dalam kamar lewat hand phone ku.” Gumam Eveline dalam hati sambil terus melangkah menuju ke kamar tidurnya. Akan tetapi belum juga diri nya sampai di depan pintu kamar tidurnya. Terdengar suara langkah kaki yang sangat tergesa gesa dan bersamaan dengan itu...


“Nona... Nona... Tolong saya...” teriak suara ibu pelayan senior sambil berjalan dengan cepat mendekati Eveline.


“Ada apa Ibu?” Tanya Eveline sambil menoleh dengan ekspresi wajah dan nada suara kaget dan khawatir sebab melihat wajah Ibu pelayan masih berurai air mata.


“Nona, Comel hilang tolong bantu saya mencari Comel. Semua sudah mencari tapi tidak menemukan Comel. Nyonya Ernest marah marah ke saya..” ucap Ibu pelayan dengan ekspresi wajah dan nada suara penuh permohonan pada Eveline .


“Tadi saya lihat Comel sangat sayang pada Nona, siapa tahu jika Nona yang memanggil dia mau datang. Mungkin dia berada di atas pohon atau di atas atas bangunan Mansion , Nona...” ucap Ibu pelayan itu lagi.


“Baiklah mari saya bantu.” Ucap Eveline lalu mereka berdua melangkah menuju ke taman belakang untuk mencari Comel. Eveline berteriak teriak memanggil nama Comel akan tetapi tetap saja tidak ada anak kucing jenis Ragdoll yang cantik dan imut datang.


Eveline pun mengambil hand phone miliknya untuk membuka aplikasi yang sudah terhubung dengan alat CCTV rahasia buatan Alexandria saudara ipar Bang Bule Vincent.


“Hmm mungkin Comel lari masuk ke Mansion Utama mengikuti aku dan Ibu pelayan tadi sore.” Gumam Eveline dalam hati sambil mengusap usap layar hand phone miliknya sementara ibu pelayan masih berteriak teriak memanggil Comel.


Sesaat Eveline terbelalak matanya saat melihat di layar hand phone miliknya ada tangkapan rekaman CCTV, Tuan Sam berada di depan pintu kamarnya dan membuka pintu kamar itu.


“Bu, ada bahaya di dalam Mansion saya harus segera melihat kamar saya.” Ucap Eveline dan segera melangkah meninggalkan taman belakang. Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Eveline jika Mansion Utama dalam bahaya, Ibu pelayan pun juga segera melangkah menyusul Eveline tidak lupa dia memberi tahu pada Satpam yang menjaga pintu masuk pintu Mansion Utama. Pak Satpam pun juga ikut melangkah di belakang ibu pelayan untuk mengikuti langkah kaki Eveline.


Sedangkan Tuan Sam di dalam kamar nya tersenyum bahagia. Dia tadi sudah sukses masuk ke dalam kamar Eveline di saat Eveline sedang menikmati makan malam. Tuan Sam tidak mengetahui jika sudah dipasang lempeng mikro, CCTV rahasia di daun pintu.


“Aku rayakan kebahagiaan ini di luar Mansion saja.” Ucap Tuan Sam lalu dia bangkit berdiri sambil mengambil kunci kontak mobil nya di atas meja. Sepeti biasanya dia akan menuju ke club malam untuk bersenang senang dengan wanita bayaran.


Sementara itu Eveline yang sudah berada di depan pintu kamarnya segera membuka kunci pintu kamarnya.


“Nona ada bahaya apa?” tanya Ibu pelayan dengan suara keras dan segera ikut masuk ke kamar Eveline. Sebab Eveline sudah mulai melangkah menuju ke kamar. Sedangkan Pak Satpam masih berdiri di depan pintu kamar itu. Eveline segera menekan tombol saklar lampu yang tadi dia matikan saat dia keluar dari kamar.


BYAR


Suasana terang di kamar Eveline dan bersamaan dengan itu Eveline dan Ibu pelayan menjerit dengan histeris dan tidak lama kemudian dua orang perempuan itu menangis sambil melangkah menuju ke tempat tidur. Comel berada di atas tempat tidur Eveline dalam kondisi tidak bernyawa dan darah segar ada di sprai tempat tidur. Kertas bertulisan ancaman pun juga tergeletak di dekat jasad Comel.


Pak Satpam mendengar suara jeritan dan tangisan Ibu pelayan dan Eveline, segera melangkah masuk.


“Comel... hiks... hiks...” suara tangis Ibu pelayan dan Eveline saat melihat anak kucing yang cantik dan imut itu sudah tidak bernyawa dan masih ada darah segar keluar dari lehernya.


“Non, bagaimana ini? Siapa yang melakukan? Apa Tuan Sam?” tanya Ibu Pelayan masih sambil sesenggukan. Dia sudah curiga pada Tuan Sam sejak kasus kunci.


“Kurang ajar sekali dia, sangat kejam. Aku harus laporkan ini pada Bang Bule Vincent. Aku sudah tidak sabar pada orang itu.” Gumam Eveline dalam hari dia dengan hati hati mengambil jasad si Comel, dia pun sudah memotret untuk bukti yang akan dia laporkan pada Bang Bule Vincent.


“Non, saya lapor pada Tuan dan Nyonya Ernest dulu kalau Comel sudah tiada, dibunuh orang yang kemungkinan besar Tuan Sam pelakunya, agar dua segera dipecat oleh Tuan Ernest.” Ucap ibu pelayan dan segera melangkah menuju ke pesawat telepon yang ada di kamar Eveline, sedangkan Eveline masih menyerahkan jasad si Comel agar segera dikubur oleh Pak Satpam.