Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 46.


“Al, bagaimana kabar kamu. Apa Nyonya nya galak dan tidak menyukai kamu seperti Nyonya Hanson?” suara Pak Irawan di balik hand phone milik Alamanda.


“Kabar baik Pa, Nyonya dan Tuan Ernest sangat baik. Mereka berdua sudah tua Pa. Seumuran Kakek Nenek Oji.” Ucap Alamanda dengan menyebutkan sang kakek dan nenek nya orang tua dari Pak Irawan.


“Ooo sudah tua. Ada hal penting apa kamu menghubungi Papa. Uang Papa masih cukup.” Suara Pak Irawan lagi sebab Alamanda biasanya menghubungi Papa nya jika ada hal penting atau akan menrasfer uang.


“Pa, Nyonya Ernestan bertanya apa kita mengenal keluarga Anderson, Kakek Abraham dan Kakek Enoch.. Aku tidak mengenal mereka apa Papa dan Mama mengenal?” tanya Alamanda selanjutnya.


“Siapa ya... Al? Kok macam nama nama orang asing gitu. Kalau Pak Abraham aku pernah dengar nama itu.” Suara Pak Irawan tampak berpikir pikir.


“Apa Papa kenal dengan kakek Abraham?” tanya Alamanda.


“Hanya kenal nama Al, itu Pak Abraham Samad di berita berita itu ha... ha... ha.. tapi aku tidak kenal dengan beliau.” Suara Pak Irawan sambil tertawa, di balik hand phone milik Alamanda


“Ihhh Papa, kalau hanya kenal nama ya sama aku juga kenal nama Abraham Lincoln, nabi Abraham. Tetapi tidak kenal orangnya, hanya kenal lewat cerita. “ ucap Alamanda dengan bibir cemberut sebab dia serius tetapi Papanya malah bercanda.


“He... he... he... memang kenapa Nyonya itu tanya tanya apa kita kenal dengan nama nama orang asing itu. Pasti mengira kamu ada darah orang asing. Kata Mama mu kulitmu putih itu karena waktu hamil kamu Mama rajin minum air kelapa muda dan kalau ada turis lewat dia sering mengusap usap perutnya. Dan jadilah kamu seperti itu. Pas hamilnya Jasmine kelapa muda mahal ga kebeli apalagi hamilnya iqbal kebutuhan semakin banyak ga bisa menuruti keinginan ngidamnya Mamamu.” Ucap Pak Irawan yang menyadari jika kulit Alamanda lebih putih dan bersih dari pada kedua adiknya dan isterinya pun kulitnya juga tidak seputih kulit Alamanda. Dulu banyak tetangga yang mengira jika Alamanda adalah bayi yang tertukar di rumah sakit. Akan tetapi tidak ada pihak rumah sakit yang mendatangi keluarga Irawan demikian juga tidak ada keluarga yang mendatangi Pak Irawan. Maka Pak Irawan dan Bu Irawan tenang tenang saja. Dan mengabaikan kasak kusuk tetangga yang mengatakan Alamanda bayi yang tertukar.


“Ya sudah lah Pa, nanti aku bilang pada Nyonya Ernest kalau Papa dan Mama juga tidak mengenal orang orang itu.”


“Iya, hati hati ya Al, jangan lupa sembahyang dan jaga diri baik baik. Eh bagaimana kabar Tuan Marcel jadi melamar kamu tidak. Itu Bang Tony tanya ke aku kalau Juragan Darman tidak jadi melamar kamu, dia mau menjadi suami kamu mau menerima Kamu apa adanya. Kamu sudah menjual sel telur kamu dia juga tidak apa.” Ucap Pak Irawan selanjutnya.


“Pa jangan bahas masalah lamaran dulu. Aku masih fokus menyelesaikan kontrak kerja dulu. Nyonya Hanson sedang sakit Pa. Sudah ya Pa, aku tutup teleponnya, bilang Bang Tony suruh cari perempuan lain saja.” Ucap Alamanda lalu dia menutup panggilan suaranya.


Setelah selesai menghubungi Sang Papa. Alamanda menaruh hand phone pada saku baju seragamnya. Dia tidak mengenakan baju seragam hanya di saat akan tidur saja. Mulai pagi sehabis mandi sampai malam menjelang tidur dia memakai baju seragam.


“Hmm mumpung belum jam makan malam, aku menemui Ibu pelayan saja tanya tentang kunci yang tertinggal tadi.” Gumam Alamanda lalu dia berjalan mengambil kunci duplikat lalu dia pun melangkah keluar dari kamarnya. Tidak lupa pintu dikunci lagi dengan kunci milik nya.


Alamanda terus melangkah menuju ke dapur untuk mencari ibu pelayan. Beberapa saat kemudian Alamanda sudah sampai di depan pintu dapur. Saat Alamanda akan mengetuk ngetuk pintu muncul Ibu pelayan yang baru saja keluar dari dapur.


“Kebetulan Bu, saya akan menemui Ibu, apa Ibu tadi akan masuk ke kamar saya?” tanya Alamanda jujur apa adanya.


“Ada kunci ini di pintu saya Bu.” Ucap Alamanda selanjutnya.


“Hmmm tapi aku sejak tadi di dapur.” Ucap Ibu pelayan tampak mengingat ingat.


“Hmmm apa Tuan Sam, tapi buat apa dia masuk ke kamar Ners Alamanda. “ gumam Ibu pelayan yang tahu selain dia Tuan Sam yang membawa kunci duplikat.


“Coba mari kita cek di ruang saya.” Ucap Ibu pelayan sambil melangkah menuju ke ruang kantor kerjanya. Alamanda yang masih memegang dua kunci itu pun mengikuti langkah kaki Ibu Pelayan.


Dengan cepat Ibu pelayan membuka pintu ruang kecil kantornya. Dia segera melangkah masuk menuju ke rak tempat menaruh kunci kunci.


“Hmmm kok tidak ada kunci kamar Ners Alamanda.” Gumam Ibu pelayan sambil memegang megang kunci kunci kamar sambil melihat lihat kode kode nomor kunci yang tertera .


“Apa itu kunci ku ya. Tapi aku merasa tidak ke kamar Ners Alamanda. “ gumam Ibu Pelayan itu lagi.


“Bagaimana Bu?” tanya Alamanda yang berdiri di dekat Ibu pelayan. Alamanda melihat ibu pelayan tampak masih mencari cari kunci.


“Tidak ada Ners. Itu mungkin kunci yang di sini. Tapi apa saya sudah terlalu tua hingga sudah pikun.” Ucap Ibu pelayan sambil menoleh menatap Alamanda.


“Ya sudah Bu, ini saya kembalikan kuncinya.” Ucap Alamanda sambil menyerahkan kunci duplikat itu. Ibu pelayan menerima masih tampak mengingat ingat kapan dia ke kamar Ners Alamanda.


“Ya sudah Bu, saya pamit. Sudah waktunya untuk ke kamar Nyonya Ernest.” Ucap Alamanda karena tidak lama lagi harus mendorong kursi roda Nyonya Ernest untuk dibawa ke ruang makan. Alamanda pun membalikkan tubuhnya berjalan menuju ke pintu untuk keluar.


“Ners...” panggil ibu pelayan dan Alamanda pun menoleh.


“Nanti kalau tidur di kamar kunci pintu dari dalam akan tetapi jangan diambil kuncinya biar masih tertempel di pintu.” Ucap Ibu pelayan memberi pesan pada Alamanda karena tiba tiba perasaan nya tidak nyaman.


“Bagaimana kalau Tuan Sam akan memperkosanya. Perawat itu sangat cantik.” Gumam Ibu pelayan yang mengkhawatirkan Alamanda.