
Alamanda yang membayangkan jari jari sang Suami mengoles oles salep di bagian tubuh bawahnya itu selain berdenyut denyut minta dipegang, pipi Alamanda yang putih mulus pun tampak spontan semburat merah merona. Di tambah bibir Marcel yang berbisik hampir menempel di telinganya.
Marcel yang melihat hal itu segera mencium pipi Alamanda dan tangannya yang sudah mulai nakal pun meremas dengan pelan bagian tubuh Alamanda yang berdenyut denyut. Alamanda yang duduk di samping Marcel pun terkulai bersandar pada tubuh Marcel. Pasrah.
Sesaat pasangan pengantin baru itu kaget karena mendengar suatu teriakan yang berada di dalam kamar.
“Ma... aku mau minta jamu Nenek Oji. “ teriak Charlotte yang masih sibuk dengan tablet nya di atas tempat tidur sedangkan Marcel dan Alamanda sedang duduk di sofa panjang.
Marcel yang sudah menjauhkan tangan kakaknya dari tubuh Alamanda, mengerutkan kening nya mendengar Charlotte yang akan meminta jamu juga dari Nenek Oji.
Tampak Charlotte meletakkan tablet nya lalu dia turun dari tempat tidur dan berlari mendatangi Papa dan Mama nya. Alamanda pun terlihat sudah menegakkan punggung dan kepalanya sudah tidak lagi terkulai bersandar pada tubuh kekar Marcel. Ahhh begini lah nasib pasangan pengantin baru yang sudah ada anak balita.
“Mama... aku juga mau minta jamu Nenek Oji, ayo kita ke kamar Nenek Oji...” ucap Charlotte sambil menatao Alamanda tidak lupa tubuh mungilnya sudah menempel manja di tubuh Alamanda.
“Hmmm kamu mau jamu kuat juga?” tanya Marcel sambil mengerutkan keningnya.
“Kuat makan...” saut Alamanda.
“Iya benar Ma, aku baca ada jamu kuat makan. Biar aku makan yang banyak jadi tubuhku kuat, biar penyakitnya pergi menjauh...” ucap Charlotte yang baru saja browsing browsing mencari informasi tentang jamu karena tabletnya sudah di filter maka yang dia dapat informasi tentang edukasi perihal jamu dan khusus nya jamu untuk anak anak.
“Benar kalau begitu sekarang Charlotte diantar Mama menemui Nenek Oji dan nanti Charlotte juga boleh bobok dengan Nenek Oji dulu. Charlotte belajar jamu pada Nenek Oji...” ucap Marcel dengan nada serius kekepoan Charlotte tentang jamu justru merupakan angin segar buat dirinya agar Charlotte bisa sejenak nempel pada orang selain dirinya dan Alamanda.
“Pa, Nenek Oji belum di filter bagaimana kalau dia memberikan informasi yang tidak bagus buat anak anak...” ucap Charlotte sambil menatap Sang Papa.
“Biar Mama nanti yang memfilter Nenek Oji. “ ucap Marcel sambil tersenyum lalu mengusap usap punggung Alamanda sebagai kode agar Alamanda bisa mengatur bagaimana caranya agar Charlotte bisa tidur dengan Nenek Oji nanti malam.
Charlotte yang sudah sangat ingin juga mendapatkan jamu kuat, segera menarik tangan Alamanda untuk diajak menemui Nenek Oji. Alamanda pun juga dengan senang hati mengantar Charlotte dia pun berharap Charlotte mau berteman dengan Nenek Oji.
“Ma....” suara Marcel agak keras saat Alamanda dan Charlotte sudah berada di depan pintu. Alamanda dan Charlotte pun menoleh.
Alamanda yang paham akan maksud Marcel pun menganggukkan kepala nya. Di keluarga Alamanda pun meskipun rumah kecil dengan dua kamar Iqbal tidak pernah tidur satu kamar dengan kakak kakak perempuan nya.
Setelah Alamanda dan Charlotte sudah keluar dari pintu kamar. Marcel kembali meraih botol jamu dari Nenek Oji.
“Apa benar kata Nenek Oji, jamu ini akan membuat aku kuat perkasa dan Alamanda bisa segera hamil. Hmmm aku juga sudah sangat ingin punya anak lagi.” Gumam Marcel sambil melihat jamu di dalam botol itu.
“Baiklah aku minum sekarang saja. Mumpung Charlotte sedang sibuk ingin jamu juga. Pasti nanti Charlotte ikut Nenek Oji dan Alamanda segera kembali ke kamar. “ ucap Marcel lalu bangkit berdiri dari sofa dan melangkah menuju ke mini pantry. Untuk menuang jamu ke dalam gelas. Dan Marcel meminum satu gelas jamu dari botol itu.
Sementara itu Alamanda dan Charlotte masih pergi mencari Nenek Oji dan mereka berdua belum menemukan sosok Nenek Oji di kamar nya Nenek Oji.
“Nenek tidak punya hand phone ya Ma?” tanya Charlotte
“Tidak Sayang...” ucap Alamanda
“Besok biar dibelikan Papa..” ucap Charlotte sambil melangkah digandeng Alamanda. Mereka berdua pun melangkah menuju ke kamar Nyonya dan Tuan Ernest.
Sesampai di depan kamar Tuan dan Nyonya Ernest, Charlotte mengetuk ngetuk pintu dengan tidak sabar.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Mendengar ada suara Nenek Oji yang masih bercerita dengan penuh semangat. Charlotte pun segera berlari mendekati sumber suara itu.
“Nenek....” teriak Charlotte hingga Tuan Ernest yang masih berdiri sambil memegang handel pintu tampak kaget karena tubuh Charlotte yang langsung menerobos masuk ke dalam.
Tuan Ernest pun lantas menatap sosok Alamanda yang masih berdiri di depan pintu. Sungguh sangat ingin Tuan Ernest memeluk tubuh Alamanda. Akan tetapi dengan sekuat hati Tuan Ernest menahan diri. Tuan Ernest hanya mampu berdiri mematung.
“Maafkan Charlotte anak saya yang tidak sopan Tuan.” Ucap Alamanda yang mengira berdiri diam mematung nya Tuan Ernest karena tidak suka dengan tingkah Charlotte yang berteriak dan langsung lari menerobos masuk ke dalam kamar tidak menyapa Tuan Ernest terlebih dahulu.