
Sementara di lain tempat di Mansion Wijaya. Charlotte sudah dibaringkan di atas tempat tidur. Sang pengasuh terus saja menemani Charlotte, dia kini duduk di tepi tempat tidur Charlotte. Sedangkan Nyonya Wijaya tampak berjalan mondar mandir. Dia tadi tidak mengatakan pada Pak Sopir untuk membawa mobil menuju ke Mansion Hanson.
“Aku harus alasan apa ya...” gumam Nyonya Wijaya dalam hati yang masih berjalan mondar mandir dia belum rela jika harus berpisah dengan Charlotte.
Sesaat kemudian terdengar suara dering hand phone dari dalam tas tangan yang berada di atas meja. Yang tidak lain adalah tas tangan milik Nyonya Wijaya.
“Papa apa Valecia ya?” gumam Nyonya Wijaya dalam hati sambil melangkah menuju ke meja untuk mengambil hand phone miliknya yang berdering. Dia tadi memang menghubungi Tuan Wijaya yang masih bekerja di kantor dan Valecia yang masih di kampus nya.
Dengan cepat Nyonya Wijaya mengambil hand phone miliknya, saat dilihat di layar hand phone miliknya tertera nama Marcel Hanson sedang melakukan panggilan video.
“Marcel.” Gumam Nyonya Wijaya yang mau tak mau harus menggeser tombol hijau.
“Mama... kenapa Mama tidak membawa Charlotte ke Mansion Hanson?”
“Ehmm maaf Cel tadi karena aku panik lupa memberi tahu pada Pak Sopir tahu tahu sudah dekat lokasi mansion Wijaya, ya sudah langsung ke Mansion Wijaya kasihan juga Charlotte kalau tidak segera dibaringkan.” Jawab Nyonya Wijaya beralasan. Dan Marcel pun langsung memutus panggilan video nya.
Di mansion Hanson.
“Bagaimana Cel?” tanya Nyonya Hanson sambil menatap Marcel yang kini sudah memasukkan lagi hand phone miliknya ke dalam saku jas nya.
“Ayo Ma kita jemput Charlotte!” ajak Marcel yang bergegas melangkah menuju ke pintu utama Mansion Hanson. Nyonya Hanson tampak masih berdiri mematung.
“Ayo Ma, cepat!” teriak Marcel yang sudah membuka pintu utama Mansion.
“Cel, aku...” suara Nyonya Hanson yang tampak ragu ragu dan bingung.
“Aku nanti kalau ke sana bertemu dengan Tuan Wijaya. Pasti dia akan marah ke aku atau malah akan ....” gumam Nyonya Hanson dalam hati yang belum siap jika harus bertemu dengan selingkuhannya dulu.
“Mama...” suara Marcel yang sudah keluar dari pintu dengan lebih keras.
“Iya.. iya...” suara Nyonya Hanson yang mau tak mau dia mengikuti langkah Marcel.
Marcel sudah melangkah masuk ke dalam mobil nya, dia menyuruh Henry ikut dan Pak Sopir yang membawa mobilnya karena pikiran dia sedang kacau khawatir jika tidak fokus dalam membawa mobil. Marcel duduk di jok belakang kemudi, Nyonya Wijaya pun sudah mulai masuk ke dalam mobil dan dia duduk di samping Marcel.
Mobil terus melaju meninggalkan halaman Mansion Hanson menuju ke Mansion Wijaya.
“Tambah kecepatan Pak.” Perintah Marcel pada Pak Sopir. Pak Sopir mengangguk kan kepalanya dan langsung menambah laju kecepatan mobilnya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah berada di depan pintu gerbang Mansion Wijaya. Pintu gerbang itu tetap saja tidak dibuka.
“Gila penjaga pintu itu. Masih saja tidak membukakan pintu.” Ucap Marcel lalu menurunkan kaca jendela mobilnya.
“Hei! Buka pintunya cepat!” teriak Marcel pada penjaga pintu gerbang yang masih berdiri di tempat dia berjaga. Petugas pintu gerbang itu lalu berjalan menuju ke mobil Marcel.
“Dengar ya Charlotte anakku sakit di dalam Mansion yang kamu jaga itu. Aku Papanya mau mengambil anakku.” Suara Marcel dengan nada tinggi. Marcel pun langsung mengambil hand phone miliknya dari saku jas nya. Dia meng hubungi Nyonya Wijaya agar menyuruh petugas pintu gerbang untuk membukakan pintu buat mobilnya.
“Mama kalau masih juga tidak dibukakan pintu saya akan tetap menerobos masuk.” Suara Marcel saat Nyonya Wijaya sudah menerima panggilan video nya.
“Iya iya... buka pintu nya...” suara Nyonya Wijaya dan Marcel pun mendekatkan hand phone miliknya pada petugas penjaga pintu gerbang itu.
“Baik Tuan akan segera saya buka pintunya, saya hanya menjalankan tugas Tuan.” Ucap petugas pintu gerbang itu dan segera berlari menuju ke tempat tugasnya lalu membukakan pintu gerbang Mansion Wijaya. Mobil pun segera meluncur masuk ke halaman mansion Wijaya.
“Aku menunggu di dalam mobil saja ya...” ucap Nyonya Hanson saat mobil sudah berhenti dan Marcel sudah membuka pintu mobil.
Marcel pun terus melangkah menuju ke pintu utama Mansion.
Dan tidak lama kemudian, ada sebuah mobil yang juga masuk ke dalam halaman Mansion Wijaya. Mobil yang sangat dikenali oleh Nyonya Hanson.
“Tuan Wijaya..” gumam Nyonya Hanson saat melihat mobil Tuan Wijaya berjalan masuk dan berhenti di belakang mobil milik Marcel. Nyonya Hanson pun menundukkan kepalanya agar tidak terlihat oleh Tuan Wijaya.
“Hah.. dulu sembunyi sembunyi untuk bisa ketemuan, sekarang aku harus sembunyi saat bertemu.” Gumam Nyonya Hanson dalam hati. Sejak perselingkuhan ketahuan mereka berdua memang sudah tidak lagi berkomunikasi lewat hand phone. Saat pemakaman Patricia pun mereka tidak tegur sapa.
Sedangkan Tuan Wijaya langsung keluar dari mobil saat mobilnya sudah berhenti.
“Cel.” Teriak Tuan Wijaya saat melihat Marcel masih berdiri di depan pintu utama menunggu pintu terbuka. Marcel pun menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
“Papa.” Ucap Marcel.
“Charlotte katanya sakit maka aku buru buru pulang padahal sedang ada meeting.” Suara Tuan Wijaya sambil terus melangkah.
“Iya Pa, saya mau ambil Charlotte.” Ucap Marcel sambil menjabat tangan Tuan Wijaya. Sesaat Marcel ada perasaan kesal pada Tuan Wijaya sebab karena perbuatannya telah menyebabkan dua orang tercintanya sakit hingga meninggal dunia.
“Hmmm sabar... harus memaafkan.” Gumam Marcel dalam hati.
Sesaat pintu utama Mansion itu terbuka seorang pelayan sudah membukakan pintu. Tuan Wijaya dan Marcel pun segera masuk ke dalam Mansion dan melangkah menuju ke kamar yang ditempati oleh Charlotte. Marcel sudah tahu letak kamar itu, sebab sebelum perselingkuhan Tuan Wijaya dengan Nyonya Hanson ketahuan. Marcel pun bersama Patricia dan Charlotte sering menginap di Mansion Wijaya dan merdeka tidur di kamar Patricia yang sekarang ditempati oleh Charlotte. Nyonya Hanson pun juga sering ikut menginap dan dia tidur di kamar tamu masih di Mansion utama juga.
“Charlotte...” ucap Marcel saat membuka pintu kamar yang ditempati oleh Charlotte. Tampak Charlotte masih terbaring dan tidur pulas karena pengaruh suntikan dari Dokter Willy. Marcel terus melangkah mendekati Charlotte.
“Cel, biar Charlotte di sini dulu.. kasihan anaknya masih tidur. Sudah tidak demam.” Ucap Nyonya Wijaya yang duduk di tepi tempat tidur Charlotte sambil memegang dahi Charlotte.
“Tunggu sampai nanti sore Cel.” Ucap Nyonya Wijaya lagi.
“Iya Cel kasihan Charlotte sedang sakit harus dibawa ke sana kemari. Biar istirahat dulu.” Ucap Tuan Wijaya yang kini sudah berada juga di dekat tempat pembaringan Charlotte.